Tampilkan postingan dengan label perceraian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perceraian. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Juni 2017

Saya Tidak Rujuk!

SAYA TIDAK RUJUK!
(Memaknai Hakikat Jodoh, Menurut Saya)

gambar dari sini


Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya atas semua perhatian, ucapan, dan doa yang dipanjatkan oleh teman-teman atas pernikahan saya. Saya tak akan mampu membalasnya satu persatu, maka biarlah Allah yang Maha Membalas yang membalasnya, syukran jazakumullah khairan katsiran ahsanal jaza.

Entah mulai dari mana, saya ingin menulis hal ini. Namun saya sebetulnya merasa agak terganggu dengan beberapa ucapan "selamat ya akhirnya bisa kembali bersama", "akhirnya bersatu kembali", "akhirnya kesabaran membuat suami kembali ke pelikan", dsbnya...
Maaf, sungguh saya minta maaf memprotes hal ini, seperti orang tak tahu diri, tak kenal terima kasih atas perhatian teman2 yang tulus pada saya. Semoga Allah mengampuni jika saya memang dinilai oleh-Nya sebagai manusia yang tak tahu diri.

Namun sungguh, kalimat2 itu di satu sisi memang terlihat luar biasa, sangat romantis, mengagumkan, memperlihatkan kemahabaikan Allah mengabulkan keinginan hamba-Nya. Namun di sisi lain hati saya seperti diketuk melalui kenyataan ini, apakah benar Allah mengabulkan keinginan hamba-Nya, ataukah hamba yang kelewat euforia terhadap garis perjalanan yang Allah berikan sehingga dengan jumawa yg tersamar hamba merasa Allah mau mengikuti keinginan sang hamba?

Sejujurnya saya merasa tdk nyaman dengan kalimat-kalimat senada itu, seolah saya tidak move on. Tidak move on dari seseorang yang di mana sama2 hamba, sama2 tak kenal dan bisa binasa kapan saja! 

Seolah saya tidak mampu menerima takdir yang Allah berikan, sehingga minta ditakdirkan untuk kembali berjodoh dengan seorang hamba yang mana kita sendiri tak tahu apakah ia baik untuk kita atau tidak dan sebaliknya. Betul seorang hamba boleh meminta, boleh berusaha, namun hak prerogatif Allah lah menentukan segala sesuatu, dan itu psti yang terbaik! Jika masih merasa itu bukan yang terbaik, maka perbaiki kembali keimanan kita!

Seolah saya tak memiliki hal lain, masa depan lain jika tak bersama hamba tersebut. Sungguh, kebahagiaan kita janganlah digantungkan pda seorang hamba, pada yang rapuh. Gantungkan pda Yang Mahakekal, pada Yang Menciptakan si rapuh tersebut. Bahkan ada sebuah pertanyaan yang menurut saya konyol dan agak tak beradab terhadap ketentuan Allah, "kamu berdoa dan ngelakuin apa sampai mantan kamu bisa kembali ke kamu?" Jika saja saya boleh berkata kasar, saya akan memaki. Memang saya semurah itu hingga harus meminta sesuatu yg saya tak tahu baik untuk saya atau tidak, bahkan sampai melakukan sesuatu? Sungguh, meskipun semua harta paling berharga saya diambil seperti kemarin, termasuk anak-anak saya, saya jauh lebih memilih kondisi itu dibandingkan meminta sesuatu yang kita gak tau faedahnya untuk keberlangsungan hidup kita, asalkan Allah ridho.

Dan apakah jika Allah menakdirkan saya tak menikah kembali dengan ayahnya anak2 saya, saya membina rumah tangga dengan orang lain, itu berarti Allah jahat? Karena ada sepenggal kalimat yang mengatakan nada demikian, "Allah baik sekali menyatukan kalian kembali."

Maaf saya agak keras mengatakannya, namun bagi saya, perkara jodoh, siapa jodoh kita, kapan datangnya, itu semua kuasa Allah. Kita berusaha, meminta, sewajarnya, dalam koridornya.
Bagi saya, perkara menikah ini bukanlah 'Menikah Lagi', namun Allah memberikan saya jodoh. 
Tidak ada orang lama atau baru. 
Saat kemarin saya bercerai dengan ayahnya anak2, berarti kami sudah bukan jodoh. Berarti kami memang tidak baik untuk satu sama lain.
Dan saat ini, ketika Allah memberikan saya jodoh, memang Allah memberikan orang yang menurut Allah tepat. Dan kebetulan (sesuai jalan yg Allah berikan) orang yang diberikan adalah orang lama, ayahnya anak2.

Bagi saya tdk ada orang lama atau baru, yg ada adalah jodoh yg diberi oleh Allah dalam batasan2 waktu yg hnya Allah saja yg tahu...

Ini sekadar pemikiran saya saja, tak merujuk pada dalil manapun, hanya sebuah perenungan terhadap apa yang telah dilewati...

Wallahu a'lam 

Selasa, 11 April 2017

~ Gadis atau Janda, Mana Lebih Utama ~

~ Gadis atau Janda, Mana Lebih Utama ~

sumber gambar: dari sini



sumber gambar: dari sini

Haduh ini judulnya udah provokatif hahaha... maaf ya, ini sekadar meluruskan status FB  saya ini yang saya buat beberapa hari yang lalu yang mungkin pada akhirnya seperti multi tafsir. bahwa saya sedang tidak menyuruh para bapak jika ingin poligami lalu jangan memilih yang muda, biar ngikutin Rasulullah... hehehe..
Status FB saya murni tentang yang mau menikah, janganlah terpaku dengan usia calon istri, karena Rasulullah saja tidak terpaku di bagian itu. untuk lengkapnya kenapa saya membuat status itu, mungkin bisa lihat tulisan saya sebelumnya di sini.
Dari status saya tersebut jadi memanjang ke sebuah mindset yang jamak kita ketahui saat seorang pria memilih jodoh yang masih gadis dan muda. dalam hal ini pasti banyak sekali ustadz yang menukil hadist dari Jabir bin Abdullah,
"Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam menemuiku kemudian bersabda, 'Wahai Jabir, apakah engkau telah menikahi seorang perempuan? Saya katakan, "Ya, wahai Rasulullah.' Beliau bersabda, 'Gadis atau Janda?' Saya katakan, 'Janda.' Maka beliau bertanya, 'Mengapa engkau tidak menikahi gadis agar engkau dapat bermain-main dengannya dan dia bermain-main denganmu?'" (HR an Nasai, no.3220)
Kalimat terakhir ituah yang biasanya dijadikan argumentasi para pria untuk mencari pasangan yang masih gadis dan yang biasanya lebih muda. memang tidak ada yang salah. mencari pasangan memang sesuai selera masing-masing, kliknya di mana, dengan yang tipe seperti apa, dengan model macam mana. meski Rasulullah sendiri telah mengajarkan memilih pendamping yang baik itu seperti apa (dan tak ada yang harus muda atau gadis dalam tuntunan tersebut :D).
Nah, yang banyak belum diketahui adalah dalam beberapa riwayat, hadits itu belum selesai.
(lanjutan dari hadits di atas)
"Aku menjawab, 'Aku punya adik-adik perempuan (yang dipelihara karena ayahnya sudah tiada) dan aku tidak ingin menimbulkan persaingan di antara mereka (karena sama-sama masih muda).' Rasulullah berkata, 'Keputusanmu itu lebih baik.'" (HR Ibnu Majah no.1860)
"Maka saya katakan, 'Wahai Rasulullah, saya memiliki beberapa saudara perempuan dan saya khawatir ia akan menjadi penghalang antara diriku dan mereka.' beliau bersabda, "Itulah pilihan yang benar. sesungguhnya, seorang perempuan dinikahi karena agamanya, hartanya, dan kecantikannya. carilah yang beragama baik maka engkau akan beruntung.'" (HR an NAsai, no.3226)
"Aku menjawab, 'Ya Rasulullah, ayahku syahid dalam Perang Uhud dan meninggalkan sembilan anak yatim, yakni saudara-saudara perempuanku. aku kurang suka menikah dengan gadis seumuran mereka maka aku cari perempuan yang sudah matang agar ia dapat menyisir rambut adik-adikku dan merawat mereka.' Nabi menjawab, 'Kamu telah mengambil pilihan yang benar.'" (HR Bukhari, no.4052)
Ada juga dari HR Muslim, no 715d yang bunyinya sama dengan HR an Nasai, no 3226 di atas.
Dari hadist2 tersebut diperlihatkan bahwa Rasulullah justru memuji pilihan Jabir yang menikahi seorang janda karena kelebihan-kelebihan yang dimiliki seorang janda, seperti kematangan emosi, kemampuan mengurus rumah tangga, dan kemampuan menjadi teladan.

sumber foto: dari sini

Dalam buku Muslimah Sukses Tanpa Stres dikemukakan alasan mengapa Rasulullah pada awalnya bertanya, “Mengapa engkau tidak menikahi gadis agar engkau dapat bermain-main dengannya dan ia bermain-main denganmu?” Ada dua alas an. Pertama, Nabi ingin menguji pemahaman sahabat Jabir tentang kriteria istri, sebagaimana seorang guru ingin memastikan muridnya memahami ajarannya dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari respon Nabi Muhammad terhadap jawaban Jabir, “Itulah pilihan yang benar”, “Kamu telah mengambil pilihan yang benar”, dan sebagainya.
Alasan kedua, karena status Jabir yang masih perjaka. Bila seorang perjaka menikah dengan seorang perawan, keduanya dapat ‘bermain-main’ terlebih dahulu karena keduanya sama-sama belum memiliki pengalaman dalam hubungan suami-istri. Hal ini dapat kita lihat dari kalimat yang digunakan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, “Agar engkau dapat bermain-main dengannya dan ia bermain-main denganmu.” Hadits ini berlaku juga bagi seorang gadis. Lebih diutamakan baginya memilih perjaka ‘agar ia dapat bermain-main’ terlebih dahulu dengan suaminya.
Berlawanan dengan opini-opini tentang anjuran menikahi perawan,—di mana hadist “…hendaknya kalian menikahi gadis perawan, karena mereka lebih bagus pergaulannya, lebih subur rahimnya dan lebih bisa menerima kekurangan.” Ternyata hadits ini adalah hadits hasan, bahkan dinilai dhoifun jiddan oleh syeikh al Albani (sumber: ikhwahmedia.wordpress.com) ini adalah tambahan dari saya, windy—justru terdapat hadits yang memerintahkan kaum Muslimin laki-laki untuk mengurus dan memelihara janda. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bahkan menyamakan kedudukannya laksana seorang mujahid. Bentuk pemeliharaan janda yang paling baik—tanpa menimbulkan fitnah—adalah dengan menikahinya.
“Siapa yang memelihara janda dan orang-orang miskin adalah seperti pahlawan yang berperang di jalan Allah. Atau, laksana shalat sepanjang malam dan puasa sepanjang siang.” (HR Bukhari, no.5353)
Rasulullah sendiri mencontohkan. Istri-istri yang beliau pilih selalu berstatus janda. Para sahabat mulia juga mengikuti jejak Rasulullah. Setiap ada seorang perempuan menjanda, para sahabat bersegera mengirim utusan untuk meminangnya. Mereka berebut kesempatan untuk memelihara janda, untuk meraih pahala yang dijanjikan Allah subhanahu wa ta’ala.
(Muslimah Sukses Tanpa Stres, Bagian 13: Janda atau Perawan, hal.185-187)
Dari uraian tersebut, kita dapati bahwa keduanya memiliki keutamaan masing-masing, tak ada yang lebih utama siapa daripada siapa di antara keduanya. Bahkan Allah berfirman dalam surat at Tahrim ayat 5, yang memperlihatkan kedudukan yang sama antara janda dan perawan di hdapan Allah,
عَسَى رَبُّهُ إِنْ طَلَّقَكُنَّ أَنْ يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِنْكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تَائِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سَائِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا (٥)
“Jika dia (Nabi) menceraikan kamu, boleh Jadi Tuhan akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik dari kamu, perempuan-perempuan yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang beribadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.”
Jadi bukan siapa lebih utama dari siapa, karena masing-masing memiliki keutamaannya sendiri-sendiri tentu dengan kekurangnnya sendiri-sendiri. Tak perlu ada kecemasan atau keharusan mengikuti statement bahwa Rasulullah lebih menyarankan menikahi gadis/perawan, karena pada kenyataannya keduanya sama-sama utama, tempatkanlah sesuai tempatnya.
foto: dari sini


Bahkan dalam sebuah kesempatan, Doktor Erma Pawitasari mengatakan alasan beliau mengangkat bab ini di bukunya (Muslimah Sukses Tanpa Stres), bahwa beliau ingin kembali mendudukan status janda di tempatnya. Beliau melihat fenomena yang ada saat ini, bahwa status janda itu tidak semulia status gadis perawan, bahkan banyak yang melihat status janda sebagai sebuah status yang buruk dan tidak terhormat. Beliau mengibaratkan seperti dua orang anak, yang satu selalu dieluk-elukan, sementara yang satunya selalu dianaktirikan. Beliau ingin menempatkan kembali si anak yang satu ini di tempatnya. Bahwa keduanya tak ada bedanya. Bahwa keduanya sama-sama memiliki keutamaan.
sekian status panjang ini, mohon maaf lahir dan batin atas kesalahan kata-kata.
#catatanbundy
#belajarlagi
#bundybelajar

sumber foto: dari sini



Yang Lebih Utama

Pada suatu hari saya menemukan postingan seorang adik yang menyentil saya. Menyadarkan bahwa memang tak dipungkiri bahwa lelaki memiliki kriteria sendiri dalam mencari calon istri. Tak mengapa, asalkan masih berpegang pada syariat, agar tetap selamat. Hal ini membuat saya teringat pada suatu ketika ketika mengikuti kajian di AQL. Saat itu sambil menanti ustadz Zaitun, pengisi pengajian malam itu, akhirnya ada sharing dengan ustadz Hasan. ustadz hasan ini dakwahnya sungguh luar biasa, berkeliling dari tempat terpencil satu ke tempat lainnya. menyebarkan nilai-nilai islam di mana2, membangun beberapa masjid padahal beliau bukanlah seorang kaya raya tujuh turunan seperti para pengusaha sukses lainnya, dan banyak hal lainnya yang jujur saja membuat iri jama'ah di sana, salah satunya adalah beliau ini mualaf namun tekadnya berdakwah sangat kuat, masya Allah barakallahu fiik.


saat itu, MC jadi tertarik mengulik kehidupan pribadi ustadz hasan, salah satunya tentang pendamping. jadi saat itu ustadz hasan sudah sering mengisi kajian tentang parenting maunpun rumah tangga. namun beliau merasa ada yang kurang pas karena beliau sendiri belum menikah. beliau merasa hanya bisa bicara tanpa aksi nyata. maka saat itu beliau berdoa dengan sepenuh hati meminta pada Allah untuk dipertemukan dengan jodoh secepatnya, siapa saja, yang penting bersedia mengikuti beliau berdakwah di manapun ditempatkan. Dan saat itu datanglah tawaran menikah dengan akhwat yang lebih tua 5 tahun dari beliau. Karena niat menikahnya adalah untuk berdakwah, maka ustadz hasan langsung mengiyakan tawaran itu.

Dari penuturan ustadz hasan, mc mengatakan pada jamaah, “ini dia penyakit pertama seorang ikhwan dalam mencari pasangan: harus yang lebih muda. Ini ustadz hasan dapat yang lebih tua dari beliau 5 tahun saja nggak masalah!”

Lalu saya juga mulai menyambungkan dengan kisah Rasulullah yang menikah dengan Khadijah yang lebih tua dari Beliau, dan Khadijahlah wanita yang sangat beliau sayang, yang memiliki satu-satunya tempat special di hati Rasulullah. Padahal Khadijah bukanlah gadis belia yang menurut banyak pendapat merupakn pilihan yang utama dalam memilih seorang istri.

Dari sini pun saya melihat bahwa ada sesuatu yang sungguh harus diluruskan di masyarakat kita. Mengenai memilih istri. Bukan gadis atau janda, namun memang lihat dari akhlak, ketaqwaan, keimanan kepada Allah, itu yang selamat. Karena banyak yang gadis, lebih muda, namun tidak perawan (kalau mau membicarakan perawan). Banyak yang masih gadis tapi tidak mampu menjaga kehormatannya. Yang dengan mudah dipegang kapan saja, bahkan diajak ‘ngamar’ sama siapa saja, na’udzubillah.

Sementara itu ada banyak sekali wanita yang sudah menikah namun akhirnya berpisah (janda atau saya biasa menyebut re-single) yang justru lebih enjaga kehormatannya. Meski ia sudah pernah merasakan bagaimana sentuhan lelaki, namun tak lantas mengobral diri. Ia masih bisa menjaga kemuliaannya sebagai wanita. Seperti yang Khadijah lakukan hingga ia mendapatkan gelar ath Thahirah (yang mampu menjaga kesuciannya) karena mampu dengan sangat baik menjaga diri dan kesuciannya. Hanya yang berhak menyentuhnyalah yang boleh menyentuhnya. Masya Allah…


Bahkan dalam quran surat at Tahrim:5 Allah menyebutkan kata-kata ‘yang janda dan yang perawan’ sebagai bentuk penjelasan bahwa taka da yang lebih utama di antara keduanya. Karena yang membedakan adalah ketaqwaan di hadapan Allah.
gambar didapat dari sini muslim couple

Selasa, 28 Juni 2016

Menata Hati

(lanjutan dari sini: Ketika Saya Harus Menerima

Sebagai seorang wanita, istri, yang normal, saya masih berusaha mempertahankan keutuhan rumah tangga saya. Saya masih mencoba berbicara pada ayahnya anak-anak, berdiskusi, mengajaknya berpikir ulang mengenai keinginannya. Bahwa masih banyak mimpi2 kami yang belumlah terwujud, yang belum kami hamparkan dalam bait-bait rencana kehidupan, bahkan. Namun seperti kuda yang memakai kaca mata, ia bergeming,  menatap lurus ke depan: rencana poligaminya.

Feeling lagi-lagi bermain, dasar wanita..
ya, perasaan saya tidak mengizinkan ini terjadi begitu saja. Saya rasa, jikalau memang fase kehidupan seperti ini yang harus saya jalani, saya tidak ingin main-main. Saya ingin poligami yang benar, sesuai syariat: mengandung keberkahan. Meski saat itu jujur saja saya masih sangat tidak ingin ini terjadi.
Bersembunyi dalam alasan klise, 'wanita mana sih yang mau dimadu?'

Saya masih saja terus menangis. Sejuta pertanyaan berputar-putar di dalam pikiran saya: apa kurangnya saya, kenapa saya yang harus mendapat ujian ini, apa salah saya, kenapa harus keluarga kami, kenapa harus suami saya yang meminta poligami, apa yang tidak saya miliki, dan apa-apa lainnya terus saja terlontar seperti tak ada habisnya. Dan itu menguras emosi dan tenaga saya.

Selama beberapa hari saya mencoba untuk mengajaknya berbicara hati ke hati. Memohon padanya untuk tidak melanjutkan niatan poligaminya. namun kembali ia bergeming. ia berkata bahwa niat poligaminya mulia, menolong seorang janda beranak dua yang anak-anaknya ditelantarkan oleh ayah kandungnya, yang anaknya ada yang salah satunya berkebutuhan khusus, yang dia ingin sekali dipandang mulia di hadapan Allah.

semua seperti ada jawabannya:
menolong janda yang bagaimana? toh janda ini kaya raya, pengusaha apotik, bidan di salah satu puskesmas di sumedang, punya praktek bidan sendiri, dosen pula, ditolong di bagian mana? kalaupun memang ingin menolongnya mencarikan imam, kenapa tidak mencarikan pria lain yang available, yang single. memang setidaklaku itukah si janda ini sampai harus menjadikan suami orang sebagai imamnya?
anak-anaknya ditelantarkan oleh ayah kandungnya? masa iya? sevalid apa informasi itu? sudah ditelusuri sampai sejauh apa hingga berani mengambil kesimpulan seperti ini? sudah pernah bertemu ayahnya langsung dan berdiskusi mengapa ia 'menelantarkan' anak-anaknya? jangan-jangan ini hanya katanya saja. as we know, orang berpisah memang memiliki kisah yang akan berbeda bila diceritakan: versi mantan istri dan mantan suami. maka kenapa tidak validasi dulu?
mengasuh anak kebutuhan khusus agar dinilai mulia di mata Allah? tidak ada yang salah sama sekali, niat mulia. namun mengapa tidak dimulai dari anak sendiri dulu? memberikan waktu lebih banyak untuk anak-anak alih-alih sibuk organisasi sampai weekend pun sering sekali tak ada di rumah? sampai pulang pun selalu larut malam? sampai anak tidak ada yang mengajak muroja'ah hafalan-hafalan al qur'annya? bagaimanalah bisa dengan baik dan amanah mengasuh anak orang lain sementara anak sendiri masih sering meminta haknya, dan ia sendiri meminta bantuan saya untuk ikut mengasuh anak spesial itu dengan alasan saya jauhlebih mengerti tentang parenting dibandingkan dirinya dan si calon istrinya nanti. lho, maksudnya saya harus apa? menjadi baby sitternya atau gimana? maaf saya sangat susah berbaik sangka saat kaliamat terakhir itu terucap dari mulutnya.

semua masih berputar tak karuan. membuat saya dan juga ia lelah, sangat lelah. anak-anak terlunta-lunta. ia selalu meminta waktu saya untuk berdiskusi empat mata dengannya. sementara anak-anak dia titipkan pada ibu dan bapak saya.
kami berkeliling ke ustadz dan ustadzah serta orang-orang yang mengerti dan menjalani poligami. banyak seklai pemikiran saat itu.
saya sendiri tak kuat saat itu hingga sempat ingin mengakhiri hidup dengan meminum banyak sekali obat, hingga keracunan obat-obatan, semoga Allah mengampuni saya. sungguh, itu adalah kejahiliyahan saya, astaghfirullah...

sang imam tetap bergeming. mengatakan saya bukan makmum yang taat jika saya tak mengizinkannya berpoligami.
saya meradang. ya, lelaki adalah pemimpin dalam rumah tangga, namun bukankah diskusi juga diperbolehkan?
namun pendapatnya, jika mengalami jalan buntu dari diskusi tersebut, maka imam memiliki hak prerogatif untuk memutuskan meski sepihak.
saya tahu saya masih punya hak, hak sebagai seorang wanita dalam rumah tangga: khuluk.

(selanjutnya Perjalanan Mencari Arti Poligami)

Jumat, 24 Juni 2016

Ketika Saya Harus Menerima

sebetulnya saya tidak tahu apa yang hendak saya katakan dalam postingan kali ini. otak saya penuh dengan berbagai hal yang berputar dan sepertinya harus dikeluarkan. tentang rangkaian ujian selama 4 bulan ini.
rangkaian jalan hidup yang benar-benar ekstrim, up and down. seperti roller coaster hidup saya selama 4 bulan ini. kadang berlari cepat ke atas, kemudian menukik tajam ke bawah. kalau bukan karena pertolongan Allah, mungkin saya sudah tidak akan bisa menuliskan apapun di blog ini lagi. mungkin saya sudah entah di mana, paling baik, nasib saya berakhir di panti rehabilitasi kejiwaan.

saya rasa saya tidak sedang berlebihan manakala saya menuliskan kalimat terakhir saya. saya memang sempat di ambang batas antara kewarasan dan kegilaan. bukan sekadar kata 'gila' seperti apa yang biasa digunakan oleh orang-orang untuk menyebutkan 'seru' atau 'menarik' atau 'keren'. tapi kegilaan di sini memang benar-benar leterlijk alias secara arti benar-benar gila, tidak waras.

awal januari tahun 2016 ini saya masih menjadi seorang istri dan ibu yang bahagia. dengan seorang suami yang baik, memanjakan, perhatian. ya, kehidupan rumah tangga kami memang tidak mulus. ujian dan cobaan datang silih berganti. namun semuanya selalu terlewati dan kami kembali bersama sebagai sebuah keluarga yang utuh.
meski seperti ada bekas-bekas luka, namun sepertinya masih sewajarnya. bukan, bukan maksud saya mewajarkan 'luka-luka' yang terjadi dalam rumah tangga saya. yang saya wajarkan adalah, dalam hidup ini tidak semua berjalan mulus sesuai kemauan kita dan rencana2 kita. maka saya bilang adalah sebuah kewajaran bagi saya mendapatkan luka di dalam rumah tangga saya.
dan ya, januari tahun ini saya dan ayahnya anak-anak masih berpasangan sebagai suami istri yang awet rajet kalau kata orang sunda. tapi kami tahu bahwa kami saling membutuhkan satu sama lain dan saling nyaman, setidaknya dua hal itu yang selalu ayahnya anak-anak katakan pada saya secara sadar.

dua hari menjelang anniversary kami yang ke-9 tahun, saya semakin kuat melihat sesuatu yang tidak biasa pada hubungan kami, pada ayahnya anak-anak.
saya mengenalnya sudah cukup lama. meski saya tidak terlalu baik bersikap dan menyikapi, tapi saya hafal seperti apa suami saya saat itu. dan saya menangkap bahwa ada sesuatu yang sebetulnya hendak ia sampaikan namun masih ragu.
tengah malam, di sebuah villa di jogja, ketika kami sedang berlibur sekeluarga, saya mengajaknya berbicara empat mata. dan ya, feeling saya benar. jangan pernah meremehkan feeling seorang wanita, karena feeling mereka yang kuat sebagian besar adalah bentuk penjagaan Tuhan untuk pasangan dan anak-anak mereka :)

saat itu ayahnya anak-anak bercerita bahwa ia tengah dekat dengan seseorang dan ingin menjadikannya lebih. menjadi bagian dari keluarga kami.
saya tidak akan keberatan manakala seseorang itu adalah seorang anak yatim piatu, yang ayahnya anak-anak tergerak untuk membiayai, misalnya.
namun tidak. seseorang ini adalah rekannya di sebuah organisasi para pengusaha muda. seorang wanita, pengusaha, pns, pengajar.

bumi berputar tiba-tiba. saya menangis sejadi-jadinya.
Rabb, apalagi yang Engkau berikan ini? tidak cukupkah semua drama selama ini?
masih kurangkah saya dan ia melewati segala uji selama 5 tahun terakhir ini?
dengan orang-orang yang berbeda? dengan reaksi yang berbeda? dengan kisah yang berbeda? dengan keluarga yang berbeda-beda?

saya limbung. hati saya mencelos. saya berharap itu hanya mimpi, di mana ketika saya memejamkan mata dan kelak membukanya kembali, saya sudah kembali berada di rumah kami yang nyaman dengan dia sebagi suami saya yang seperti biasanya dan ada tawa ketiga anak saya, seperti biasanya.
namun saya akhirnya menyadari bahwa ini bukan mimpi. saya sadar ketika saya melihat anak-anak yang tertidur pulas dengan erut yang naik turun karena dengkuran lembut nafas mereka. saya sadar ini bukan mimpi ketika saya merasakan hangatnya tetesan-tetesan air mata saya. saya sadar ssepenuhnya bahwa saya berada di dunia nyata ketika saya mengambil wudhu di kamar mandi, airnya dingin menyentuh kulit saya. dan yang akhirnya paling saya sadari adalah luka hati saya.

malam itu saya habiskan dengan bertemankan air mata hingga pagi. ya, saya tidak terpejam sama sekali saat itu. saya seperti orang yang baru kena hipnotis: bergerak tanpa sadar dan kontrol diri. saat itu yang mengontrol diri saya adalah kesedihan saya.

(next: Menata Hati)