Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 September 2016

Kepingan

Aza terlihat cantik sekali hari ini. Senyum yang tersemat di bibirnya sama persis dengan senyummu, Bang. Mengingatkanku akan senyum yang selalu bisa melelehkan penatku setelah suntuk seharian bekerja. Aza terlihat sangat bahagia menyalami semua orang di hari bahagianya ini. Di sampingnya adalah seorang lelaki yang aku tahu persis pasti akan sangat kau cemburui karena bisa menggandengnya. Bukankah kau yang selalu mengatakan bahwa satu-satunya lelaki yang boleh menggandeng Aza adalah dirimu. Ah, sayang sekali kau keliru.
Mandavela yang melengkung indah menghiasi setiap sudut taman belakang rumah kita. Menemani tetamu yang sedang asik bercengkrama saling melempar senyum dan canda. Di hari ini semua tampak berkilau, terpapar sinaran dari Aza. Sesiapapun yang melihat binar matanya dan lengkung senyumnya akan pula ikut terbawa rasa suka cita yang sama. Ah, Aza, malaikat kecil kita sudah tumbuh menjadi bunga yang mekar di taman hati setiap orang.
Masih aku ingat persis bagaimana dia menangis ketika terjatuh dari sepeda merah mudanya saat pertama kali ia belajar sepeda denganmu, Bang. Aza yang berurai air mata karena lututnya terluka, kau dekap dengan lembut,
“Jangan menangis wahai cahaya mataku. Sakitmu tak akan seberapa dibandingkan dengan apa yang kelak kau dapatkan ketika kau bisa bersepeda. Bepergian, menjelajah bersama angina, membiarkan rambut ikal hitammu dimain-mainkan dengan gelombangnya.”
Dan seketika itu, Aza kembali tersenyum. Senyum yang sama dengan senyummu. Senyum yang sama seperti tujuh tahun lalu, saat ia tidak berhasil mendapatkan posisi yang dia inginkan di kampusnya karena kabar burung yang disebarkan oleh rekannya. Aku juga masih mengingat bagimana Aza kembali merangkai senyum yang telah sirna selama beberpa hari dari wajah mayangnya.
“Jangan menangis wahai cahaya mataku. Meski engkau terjerembab dalam kepiluan, hadapilah kenyataan. Biarlah engkau sebagaimana adanya. Kelak aka nada waktu yang tepat untukmu menunjukkan kemilaumu.”
Dan benar saja, setelah semangat itu terpompa kembali yang dipancarkan di wajah oval hitam manisnya, dua hari kemudian ia membawa kabar bahwa ia menjadi salah satu mahasiswa yang mendapatkan kesempatan short course di Jepang dari kampusnya. Ia berpikir, seandainya kemarin ia mendapatkan posisi yang ia inginkan tak mungkin ia bisa berkonsentrasi pada ujian short course itu.
Ia kembali mendapatkan senyumnya, dan itu karenamu, Bang. Papa nomor satu di dunia! Yang bukan saja mengukir senyum untuk diri sendiri, namun justru mengukir senyum buah hatimu untuk senyummu.
Aza adalah sosok wanita mandiri yang penuh kepercayaan diri. Dan ia mendapatkan itu bukan dariku, Bang, tapi justru darimu. Melalui kedekatanmu dengannya, pengertian-pengertian yang kau berikan. Ia merasakan bahwa dirinya berharga. Bahwa ia diterima. Bahwa ia disayangi. Itu yang membuat dia nyaman dengan dirinya dan pada akhirnya nyaman dengan lingkungannya.
Aza, gadis kecil yang awalnya tertutup karena sering sekali diejek mengenai warna kulitnya, kini tumbuh bagaikan seorang putri yang bersinar. Yang sinarnya mampu memancarkan sinaran lain dari diri orang lain. Meski berkali-kali aku memompakan rasa optimis itu pada Aza, mengingat diriku pun sama sepertinya, ia tetap tak bisa begitu saja menerimanya. Aza menolak keluar dari rumah untuk bermain bersama teman-temannya selama beberpa hari.
Dan kau, lagi-lagi kau, Bang, yang mampu mengantarkannya pada tahtanya. Kau tak banyak berkata, namun memperlihatkan betapa kau mencintaiku. Kau memperlihatkan bahwa penerimaan atas sosok bukanlah karena kulit, namun apa yang ada di dalamnya, hati. Kau mengajarkan hal itu, melalui caramu memperlakukanku, dari caramu menghormatiku, dari caramu membuatku nyaman.
Aza melingkarkan lengannya di lengan kukuh seorang pria yang tampak sangat menyayanginya. Seperti melihatmu memperlakukanku sejak awal pernikahan kita, Bang. Aza begitu nyaman berada di dekat pria sainganmu itu, Bang! Ah, tak bisa dilukiskan seperti apa arti tatapan Aza pada pria itu dan seperti bagaimana pria itu terlihat begitu berbahagia menjadi yang dipercaya oleh Aza sebagai pendampingnya. Tak ada air mata duka di antara mereka, Bang, sama seperti yang selama ini coba kau beri pada Aza.
Kau memang tak selalu membuat Aza tersenyum, namun bukan pula kau membuat Aza bersedih tak menentu. Kau, dengan caramu, mengajari Aza untuk menghargai dirinya. Mengerem keinginannya yang sangat bertolak belakang dengan kebanyakan remaja seuisianya.
Malam itu, ketika Aza dijemput oleh seorang lelaki tak kau kenal. Dengan tatapan tegas dan suara berat, kau meminta Aza masuk ke kamar. Aza tak bisa menerimanya, aku tahu itu. Ia tak melawanmu dengan kata-kata apalagi teriakan, ia hanya meneteskan air mata. Pertama kalinya ia mengalami penolakan yang cukup kerasa darimu. Aku bisa memakluminya.
Lalu hari Minggu tiba, setelah semalamnya penolakan itu ia terima. Kau mendekatinya yang sedang berbaring di hammocknya di halaman belakang. Kau berdehem pelan saat itu, yang ditanggapi dingin oleh Aza. Kikuk di antara kalian. Lalu sebuah lelucon konyol kau luncurkan, membuat Aza susah menahan tawanya,
“Aku masih tetap benci Papa!” ujarnya setelah mati-matian menahan tawa.
Kau terdiam, sambil menyodorkan sebuah bungkusan. Aku sendiri tak tahu kalau kau menyiapkan sesuatu untuknya. Kau memang penuh teka-teki indah, Bang.
Aza terdiam, menerima bingkisan itu dan perlahan membukanya. Sebuah buku harian bersampul kulit coklat, buku yang hingga kini selalu ia bawa ke mana-mana, ‘Serasa ada sama Papa’ begitu katanya suat kali.
“Maaf, kala itu papa membuat senyum orang yang papa cinta mengerucut. Meski papa memohon tapi ternyata aliran waktu begitu cepat, tak bisa berhenti. Mengalir hingga tak berjarak. Anak papa yang tadinya selalu papa gendong ke mana pergi, sekarang sudah menjadi gadis remaja yang punya dunia yang berbeda, yang tidak ada papa di dalamnya. Cukup berat menerima itu, Za. Papa minta maaf jika Aza kurang nyaman dengan sikap papa semalam. Papa hanya ingin Aza tau, Aza berharga. Aza adalah berlian papa, tak mungkin papa memberikannya pada sembarang orang. Hanya orang terpilih yang papa izinkan untuk papa titipkan Aza.”
Panjang sekali percakapan kalian kala itu. Namun selepas hari itu, Aza berubah. Ia tetap dengan sosoknya yang periang, yang tak bisa diam, yang selalu ingin tahu, namun ia jauh lebih melibatkan kita untuk selalu mengetahui apa saja yang ia kerjakan. Bang, kau memang motivator nomor satu, yang menunjukkan cinta bukan hanya melalui kata-kata, namun perbuatan nyata.
Tetamu menyelamati Aza, mendoakan dengan berbagai kebaikan. Aza mengamini satu persatu doa mereka, pun denganku. Aza, cahaya matamu, Bang, tumbuh menjadi gadis penuh pesona. Bukan karena rupa, Bang, namun karena keluasan hatinya yang seperti samudera.
Seperti samudera yang ia seberangi ketika mendapatkan beasiswa masternya di negeri eropa. Dengan penuh air mata Aza memelukmu erat, tergugu ia tak ingin melepaskan pelukan itu. Namun kata-katamu menjadi pemompa semangatnya saat itu, hingga kini.
“Wahai kepingan papa, bagian hidup papa, jadilah tangguh. Kepakkan sayapmu. Jangan kau berpaling kembali. Lintasilah samudera luas. Papa harap beribu cahaya akan menerangimu setiap waktu. Pergilah, Aza, temukan mimpimu di sana, dan persembahkan yang terbaik untuk papa, untuk penciptamu dan papa.”
Ah, air mata ini tidak bisa kubendung, Bang. Kenangan yang meluap di lenganku ini
layaknya takkan bisa mongering. Ingin rasanya mengganti waktu jadi malam dalam indahnya mimpi dan memelukmu kembali. Bersama putri kita menjalani hidup bersama. Seperti dulu.
Ya, Aza kini sudah menemukan kepingannya yang lain, selain dirimu, selain aku, selain kita. Aza berada di dalam perlindungan seorang lelaki yang tepat, yang dapat membuatnya nyaman, membuatnya lebih baik tanpa merasa takut kehilangan kejatiannya. Seseorang yang juga melihatnya sebagai cahaya matanya. Aza, bunga itu, telah berkemabng sempurna. Persis seperti yang kau katakana ketika kita menemukannya dua puluh lima tahun yang lalu di depan pintu rumah kita.
“Dinda, ini adalah jawaban Tuhan atas siang malam doa kita. Percayalah pada Tuhan, bukan padaku. Tajamkan penglihatanmu! Di sisimu nanti, sekuntum bunga terlahir kembali. Bergoyang di bawah benderangnya cahaya mentari menyibak dedaunan dan bunga itu adalah bayi manis ini, Azalea.”
Dan kau buktikan semua ucapanmu dua puluh lima tahun yang lalu. Kau yang membuat sebuah bunga terlahir kembali. Kau yang menyemai bibit kasih sayang di dalam hamparan tanah lapangnya. Kau yang seorang yatim piatu namun mampu memberikan kasih sayang yang jauh lebih utuh daripada aku yang hidup dalam kehangatan sebuah keluarga.
Akan selalu kujaga Aza untukmu, untuk Pencipta kita. Terimakasaih sudah menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk mengajariku semua hal indah dalam kehidupan ini, Bang.
Watashi no kakera yo…

~Windy, 260916~

Ps: untuk kepingan bunda, Ozora, selamat hari lahir, nak.. berbahagialah dalam hidupmu bersama penjagaan terbaik Rabbmu untukmu dan orang-orang yang mencitaimu. Barakallahu fii umrik, shalih…




Saya menulis cerita ini terinspirasi dari lirik lagu grup band Jepang, L’arc en Ciel yang judulnya Pieces. Lagu ini sangat manis. Konon diciptakan oleh Hyde (sang vokalis) sambil membayangkan anak perempuannya kelak menikah dan meninggalkannya. Video klipnya ternyat cukup menguras air mata, tapi sayang saya tidak bida mendapatkan yang utuh, hanya potongan video klipnya saja.

Di bawah ini ada lirik lagu Pieces berikut artinya dalam bahasa Indonesia.

Pieces by L’Arc~en~Ciel

nakanaide nakanaide taisetsu na hitomi yo  
kanashi sa ni tsumatsu itemo shinjitsu wo mite itene  
sono mama no anata de ite
Jangan menangis, jangan menangis wahai cahaya mataku
Meski kau terjerembab dalam kepiluan, hadapilah kenyataan
biarlah engkau tetap sebagaimana adanya

daisuki na sono egao kumorasete gomen ne  
inottemo toki no nagare hayasugite  
tooku made nagasareta kara modorenakute  
Maaf, kala itu kubuat senyummu yang kucinta mengerucut
Meski kumohonkan, tetapi aliran waktu begitu cepat
tak bisa terhenti, mengalir hingga jauh tak berjarak
                                                  
aa odayaka na kagayaki ni irodorare  
saigetsu ha yoru wo yume ni kaerumitai dakara  
Ah, diwarnai damainya cahaya gemerlap
karenanya kuingin mengganti waktu jadi malam dalam indahnya mimpi

me wo korashite saa! 
anata no sugu soba ni mata atarashii hana ga umarete  
komorebi no naka de azayaka ni yureteru  
Tajamkan penglihatanmu!
Di sisimu nanti, sekuntum bunga terlahir kembali
Bergoyang di bawah benderangnya cahaya mentari menyibak dedaunan

itsumademo mimamotte agetai kedo  
mou daijyoubu yasashii sono te wo
matteru hito ga irukara  kao wo agete  
Meski kuingin mempertahankanmu hingga kapanpun
kini kupahami seseorang telah menanti
'tuk menggenggam tanganmu dengan lembut
tengadahkan wajahmu!

ne toii hi ni koi wo shita ano hito mo  
urarakana kono kisetsu wo aisuru hito to ima  
kanjiteru ka na?  
akankah dia yang kukasihi sekian waktu lalu
kini, bersama kekasih barunya
merasakan cerahnya musimku?

aa watashi no kakera yo  
chikara tsuyoku habataite yuke  
furikaeranaide hiroi umi wo koete  
takusan no hikari ga itsumo hi ni mo arimasu youni  
anata ga iru kara kono inochi ha eien ni tsudzuite yuku  
Ah… wahai kepinganku
jadilah tangguh, kepakkan sayapmu
jangan kau berpaling kembali, lintasilah  samudera luas
kuharap beribu cahaya akan menerangimu setiap waktu
karena kau ada di sini, hidupku pun berlanjut dalam keabadian
                                     
aa ryoute ni afuresouna  
omoidetachi karenai you ni  
yukkuri ashita wo atsumete yuku kara  
Ah… kenangan yang meluap di lenganku ini
layaknya takkan bisa mengering
karenanya rangkumlah esok yang tiba dengan lambat
                      
watashi no kakera yo  
chikara tsuyoku habataite yuke  
furikaeranide hiroi umi wo koete! 
Ah… wahai kepinganku
jadilah tangguh, kepakkan sayapmu

jangan berpaling kembali, lintasilah samudera luas!

saya dapat terjemahannya dari larukupedia
kalau ada yang penasaran dengn lagunya silakan klik link berikut: Pieces

mohon maaf kalau banyak kesalahan kata atau nggak nyambung.. nulisnya cuma satu jam dan pake acara ngantuk pula heheheh... demi oz, kepingan bunda ^.^

Sabtu, 28 Juni 2014

susu formula dan sel otak anak?

Susu ibu hamil dan susu formula anak2 banyak sekali mengatakan semakin banyak sel otak, semakin baik dan cerdas anak2...

No no no...

Sel otak yang banyak saja tidak cukup jika tidak dibarengi:
KESABARAN dalam MENDIDIK!!!

Karena sel2 otak itu ga akan bekerja baik tanpa adanya sambungan antar sel.

Sambungan2 antar sel itulah yang menyebabkan anak bisa berpikir runut, sebab akibat, logis, bisa mengambil hikmah antara peristiwa satu dengan peristiwa lainnya, dan mengerti apa yg dia lihat dan dengar.

Membuat sambungan antar sel adalah dengan mendidiknya, memberikan informasi yang baik, dan kontinyu...
Semakin sering dilakukan, semakin baik dan banyak sambungan antar selnya...

Sampai situ saja?
Oh, tentu tidak...

Dalam proses perjalanannya (proses pendidikan tersebut),
Orang tua juga harus sabar.
Bukan hanya sabar dalam mendidik suatu hal secara kontinyu dan sedikit demi sedikit, namun juga sabar jika sang anak melakukan banyak kesalahan...

Tidak memarahi, membentak, menghentak, bahkan sampai memukulnya...
Karena apa? Dengan memarahi, membentak, menghentak, bahkan memukul, maka sambungan2 sel otak yang telah susah payah dibuat akan berguguran...

Jika masih dengan 'senang hati' memarahi, membentak, menghentak, bahkan memukul, selamat... Anda telah mematikan banyak potensi anak anda...

#catatanparenting
#untukrenungan

*Please Jangan Bohongin Anak (ku)*

Suatu hari seorang saudara saya bercerita tentang BSnya...
Beliau menggunakan jasa BS agar lebih fokus mengurus kedua anaknya, jadi sang baby sitter ini memang benar2 dijadikan rekan dalam mendidik anak2nya, bukan melimpahi tugasnya pada sang BS sementara ia bisa bebas ngapain aja.

Nah, beranjak dari niatan tersebut, maka wajar kalau saudara saya ini sangat selektif terhadap Baby sitter yang berpartner dengannya. Beliau maunya pola didik baby sitternya sama seperti pola didiknya pada anak2nya.

Namun ternyata BS yang ada saat ini tidak sesuai dengan harapan saudara saya.
Memang orangnya baik, gesit, namun suka 'berbohong'.

No, bukan berbohong mengenai uang atau lainnya.
Baby sitternya suka berbohong pada anak2nya agar anak2nya menurut.
"Hayo jangan main ke sana, nanti ditinggal daddy." (Padahal ayahnya anak2 lagi duduk anteng ga ke mana2)
"Yuk main di luar yuk, ada pesawat lho" (padahal ga ada)

Why it's so serious? Nyantai aja, kali...
Wajar lah, yang penting anaknya nurut, mau makan, ga petakilan, and bla bla bla...

Oh ternyata tidak sesederhana itu, mom n dad yang shalih...

Membiasakan anak tumbuh dalam atmosfer kebohongan2 seperti itu ternyata membawa dampak yang cukup serius.

Pernah ga kita berpikir, "ih itu anak, waktu kecilnya penurut, patuh, baik, eh udah gedenya ga mau nurut orang tuanya, orang tua ga didengerin, cenderung melawan."

Ya, tanpa kita sadari, kebohongan2 kecil itulah yang membentuk anak menjadi demikian.

"Nanti mama beliin es krim kalo kami mau makan." (Nyatanya habis makan ttp ga dibeliin es krim).
"Mama mau ke wc ya, sebentar kok." (Nyatanya pergi ke kantor atau ke tempat lain selama berjam-jam).
"Ayah sebentar lagi sampai rumah." (Nyatanya sampai anak tidur malam, ayahnya blm pulang).
Dan berbagai kebohongan kecil seperti ini yang sedikit demi sedikit mengikis rasa percaya anak pada orang tua maupun keluarganya yang lain.
Dampaknya anak jadi tidak percaya pada orang tua dan lingkungannya.

Dengan rasa tidak percaya itulah anak akhirnya tumbuh sebagai anak yang suka melawan (untuk apa menuruti ortu, mereka toh ga berkata yang sebenarnya, toh nanti juga dibohongi lagi).
Lalu anak tumbuh sebagai anak yang suka berbohong (orang tuaku juga mencontohkan seperti ini, aku ga papa dong?).
Dan ketika dewasa dia akan mudah membuat janji tapi tak ditepati meskipun tidak ada keadaan darurat yang menghalanginya dari janji yang ia buat.

Lebih baik kita memang meluangkan sedikit waktu untuk berbicara lebih banyak pada anak,
"Nak, ayah dan bunda harus berangkat. Kami pergi agak lama. Tapi nanti jam 2 siang kita sudah bertemu lagi."
Dan tepati janji kita sesuai apa yang kita katakan (pulang jam 2, misalnya).
Meskipun anak menangis, tapi ia belajar bahwa orang tuanya memang memiliki tugas lain yang harus dikerjakan, mereka juga belajar menunggu, dan mereka belajar bahwa segala sesuatu ada prosesnya.

Kalau masih memiliki kesulitan pada penerapannya,
Coba ajak bicara anak kita di waktu yang tepat, di waktu santai, misalnya menjelang tidur.
Jelaskan saja kenapa anak kita dan orang tuanya harus seperti itu.
Meski menangis, tapi itu lebih baik daripada kita membohonginya.

Susah ya? Iya.
Tapi bukan berarti nggak bisa, kan...

Keep on trying to be the best parent for our kiddos... 

--Toddler yang Terjebak di Tubuh Orang Dewasa--

Siang itu saya 'berguru' pada salah satu teman, bu yuli namanya. Beliau adalah mantan guru di sekolah anak saya. Bu yuli dikenal sebagai seorang yang profesional sebagai seorang pendidik. Terlihat dari cara kerjanya yang gesit, tak pernah menunda pekerjaan, dan selalu mau belajar... Masya Allah, Keren! 

Di sela-sela waktu, kami (saya dan seorang teman lain dari balik papan) berbincang dengan bu yuli mengenai apa saja terkait dengan pendidikan anak usia dini.

Saat itu bu yuli bercerita bahwa ada kenalannya yang dimarahi oleh mertuanya.
Dikisahkan sang istri sedang terfokus perhatiaannya pada anaknya yang masih bayi, sementara sudah masuk waktu makan.
Suaminya sudah diambilkan nasi dan lauk paul sudah terhidang di meja. Setelah mengambilkan nasi, sang istri pamit karena harus fokus dengan anak mereka yang masih bayi.
Sementara sang istri fokus pada bayi, sang suami tetap duduk tanpa memakan makanan yang sudah dihidangkan.
Melihat hal tersebut, sang mertua yang kebetulan sedang berkunjung ke rumah mereka, marah pada menantu perempuannya itu,
"Oh, jadi begini. Anakku nggak diurusin?"
Ternyata selama ini sang suami selalu disuapi makan oleh ibunya, bahkan sampai besar dan bekerja.
Hingga akhirnya menikah, maka kebiasaan itu sulit dihilangkan. Sang suami tidak mengerti situasi, yang dipikirkannya hanyalah kebutuhannya.

Oke, mungkin kasus itu agak ekstrim ya.
Tapi pernah nggak memiliki teman yang sulit berbagi, sulit mendengarkan, atau sulit bertanggung jawab?
Atau jangan2 itu adalah kita sendiri?
Kita? Kamu, kali, win :D



Sejatinya, fase toddler atau anak batita, adalah fase di mana kebutuhan anak masih dibantu oleh orang lain, dia belum memiliki kecakapan hidup untuk mengerjakan hal-hal yang seharusnya sudah bisa ia kerjakan sendiri karena merupakan hal-hal pokok untuk dirinya. Fase di mana mentalnya pun masih belum matang: egosentrisnya tinggi (belum bisa berbagi, tak bisa mengalah, tak bisa menerima kesalahan), tak bisa bertanggung jawab terhadap apa yang ia perbuat.


Tapi fase toddler ini ternyata bukan saja dialami oleh anak batita. Ini bisa berlanjut pada orang-orang besar yg menurut bilangan usia sudah dianggap dewasa.

Pernah lihat orang di lampu merah atau di jalan yang bertengkar karena hal sepele seperti meributkan suara klakson?
Pernah menemui orang-orang yang sulit mengantri di antrian umum seperti ketika mau membayar tiket kereta, beli karcis masuk arena hiburan, atau mengantri saat prasmanan di resepsi pernikahan?
Pernah melihat orang tua maupun anak muda yang terlihat keren tapi kelakuannya bak manusia primitif karena untuk buang sampah saja mereka ga tau di mana tempatnya dan akhirnya asal buang?
Atauuuuu... Pernah kesel karena ada tempat parkir kosong, tp tidak bisa ditempati oleh kita karena mobil yang duluan parkir tidak mengindahkan pembatas parkiran, sehingga parkiran dua mobil/motor hanya bisa dipakai satu kendaraan?

Itu ciri-ciri toddler yang terperangkap di tubuh orang dewasa (istilah yang kemarin keluar dari saya begitu mendengar kisah dari bu yuli, maaf kalau kurang tepat).

Ya, mental mereka masih mental anak batita, meski wujud jasmaniah mereka sudah remaja, atau bahkan sudah beranjak tua.

Salah mereka kah? Iya...
Tapi ingat, pola asuh 7 tahun pertama itu juga menentukan!

Merasa repot, ribet, lama banget ketika melihat anak kita yang masih kecil makan makanannya sendiri?
Wajar ya. Tapi biarkanlah mereka berusaha sendiri. Kita bisa bantu dengan ikut mengumpulkan makanannya ke tengah piring agar mereka mudah menyendok.

Merasa ga kalau masak di dapur bersama bocah2, masaknya jadi jauuuuh lebih lama dari biasanya?
Tapi tidak apa-apa, itu adalah proses mereka belajar. Belajar menyiapkan makanan bersama bundanya.

Atau bisa jadi kita merasa sangat repot ketika kedua anak kita sedikit-sedikit meributkan hal-hal sepele.
Tidak apa-apa. Bantu mereka menyelesaikan hal itu.
Uraikan apa masalahnya, cari jalan keluar terbaik bagi mereka.
Ini bisa menjadi ajang mereka menyelesaikan masalah.

Misalnya mereka berebut mainan, kita ambil dulu mainan yang direbutkan.
Uraikan apa masalahnya.
"Mainannya ada satu, sedangkan yang ingin memainkan ada dua. Kita harus bagaimana?"

Hal-hal yang mungkin kita anggap sepele saat mereka kecil (makan sendiri, ambil minum sendiri, biasakan membuang sampah, berbagi dengan saudara, bersabar menunggu giliran, membantu membereskan rumah, ikut masak di dapur, dsb) ternyata adalah pelatihan kecakapan hidup mereka.
Hal-hal sepele seperti itu yang kelak akan memengaruhi cara bersikap mereka ketika dewasa.

Orang dewasa ga bisa menjadi orang yang dewasa mentalnya dengan cara instan.
Kita ga diprogram untuk menjadi dewasa setelah usia sekian atau sekian.
Tapi kita dididik untuk hal itu.
Itu pula yang harus kita lakukan pada anak-anak kita.
Mereka ga akan seujug-ujug bisa mengalah, bisa mengerti kondisi orang lain, bisa berempati, bisa bersikap sopan, bisa memenuhi kebutuhannya sendiri.
Mereka bisa itu semua dengan pembiasaan, dengan dilatih, dididik, didampingi saat kecil.
Ga bisa sekali dua kali, sehari dua hari, tapi butuh proses panjang. Dan butuh kesabaran.

Mumpung masih kecil, masih mudah dibentuk, bentuklah anak kita menjadi anak yang baik, yang bisa memenuhi kebutuhannya sendiri, yang bertanggung jawab.

Semakin sering anak dibiasakan, maka akan terpola kebiasaan itu didalam otaknya dan akan menjadi karakternya.

Tidak mudah memang, butuh usaha sangat besar. Karena memang menjadi orang tua bukanlah pekerjaan sambilan.
Dan butuh doa, agar anak kita bisa menjadi qurata'ayun, penyejuk pandangan.
Terus berusaha, dan terus bersabar dalam usaha kita. In sha allah berbuah indah kelak ketika mereka menjadi manusia dewasa...

Always try to be the best parent for our kiddos...
-bundy-

Kamis, 24 April 2014

Seberapa Besar Investasi Kita?

Seberapa Besar Investasi Kita?

Pagi ini setelah anak-anak berangkat sekolah, saya menemukan sekumpulan semut sedang berkerumun di bawah dispenser.
Setelah saya amati, ternyata yang dikerubuti oleh semut-semut tersebut adalah air teh manis yang tumpah sedikit dari gelas yang dibawa oleh anak saya.
Tadi pagi seperti biasanya saya menanyakan pada anak-anak apa yang ingin mereka minum. Ternyata Ikhlas ingin minum teh manis tapi ia ingin membuatnya sendiri.
Dan itulah asal muasal koloni semut-semut yang berada di bawah dispenser saya pagi ini.

Di lain waktu, ernst, anak kedua saya yang lucu, sedang senang-senangnya memakai kaos kaki dan sepatu sendiri.
Mau pergi ke manapun, kapanpun, dia selalu ingin memakai kaos kaki dan sepatunya sendiri.
Anak umur 3 tahun kurang itu selalu tidak mau dibantu apalagi dipakaikan sepatunya oleh saya, ayahnya, ataupun orang lain.
Mau mencong2 itu kaos kaki, atau pendek sebelah, atau bahkan terbalik, ernst tetap berusaha dengan gigih seorang diri dan sangat bangga dengan hasil akhirnya.
Sepertinya melalui binar matanya yang bulat itu dia ingin mengatakan, "hei lihat, aku sudah mahir memakai sepatu sendiri, lho!"
Padahal ya, tak jarang kami harus bergegas dalam berangkat ke sebuah acara.
Tapi, tetap saja, kami harus mempersilakan ernst memakai kaos kaki dan sepatunya seorang diri.

------------------------------------------

Sering ya sepertinya kita menemukan dua hal di atas.
Anak ingin melakukan semuanya sendiri.
Ya, itu sebuah tahapan di mana rasa kemandiriannya muncul.
Sebuah tahapan di mana dia ingin bilang, "aku sudah besar dan aku bisa, jangan meremehkan kemampuanku!"
Sebuah tahapan di mana dia sangat ingin berusaha sendiri dan puas dengan hasil akhirnya, meski kita kadang melihatnya tak sempurna.

Sebenarnya untuk apa sih kita repot-repot membiarkan anak-anak seperti itu?
Emang ga risih melihat lantai jadi kotor begitu?
Emangnya ga bakalan berantakan semua janji karena kelamaan nungguin anak pakai kaos kaki dan sepatu sendiri?
Atau mungkin di lain kesempatan akan kita dapati sabun mandi yang tumpah di lantai kamar mandi,
Atau mungkin dapur yang penuh dengan ceceran terigu,
Dan lain sebagainya...

Itu investasi kita, lho...
Investasi untuk kemandirian mereka.
Coba saja kalau kita tidak membiarkan mereka melakukan hal-hal yang memang seharusnya sudah bisa mereka lakukan sendiri, rasa mandiri mereka akan layu, lama kelamaan mati.
Dan voila, selamat datang anak manja...
"Bi, pakein sepatu!"
"Mba, ambilin tasku!"
"Ma, aku ga bisa ini!"
Dsb...

Itu investasi, lho...
Investasi untuk rasa bisa mereka dan keyakinan bahwa aku bisa dan tak akan menyerah!
Coba saja kalau hanya karena ga mau lantai jadi kotor, lalu kita bilang,
"Udah, bunda yang buatin tehnya ya."
Atau hanya karena sudah kesiangan akhirnya si ayah bilang, "sini, biar ayah yang pakein sepatunya."
Lalu jiwa mereka yang penuh tantangan dan pantang menyerah itu meredup, lama kelamaan mati.
Dan selamat datang generasi pemalas...
"Aku maunya disuapin."
"Aku ga mau ngerjain itu, kan masih ada bunda."
"Aku ga mau beresin mainan, kan ada si mba."
"Aku ga bisa ah, susah!"

Jadi lebih baik kita sedikit berinvestasi dengan lantai yang kotor, dengan dapur yang berantakan, dengan waktu yang agak lebih lama, dengan ekstra kesabaran...

Apa susahnya?
Lantai kotor? Tinggal bersihkan sebentar.
Anak manja? Alamak, harus dilatih berhari-hari bahkan berminggu-minggu untuk menghilangkan kemanjaannya.

Spend more time? Ya ga papa lah, kalau ga mau terlambat, ya tinggal lebih ditambahkan saja waktu persiapannya. Atau kalau memang sudah sangat mendesak, coba saja jelaskan pada orang yang sedang menunggu kita bahwa ada keterlambatan sedikit.
Daripada memiliki anak yang tak berdaya juang?
Wuidih, harus jadi trainer motivator nih untuk membangkitkan kembali daya juang mereka. Dan itu ga instan, butuh lebih banyak usaha dibandingkan jika kita berinvestasi di saat mereka sedang mengembangkan daya juangnya...

Jadi ayah, bunda, papa, mama, mommy, daddy, mami, papi, ummi, abi, abah, ambu... Lebih baik kita berinvestasi di kala mereka memang sedang masanya, daripada kita harus mengeluarkan usaha lebih karena mereka terlanjur terbentuk sebagai pribadi yang tidak baik.

Memang butuh ekstra sabar, memang butuh ekstra usaha...
Makanya banyak yang bilang kalau jadi orang tua itu susah...
Tapi susah itu bukan berarti ga bisa, kan...

Ayo kita belajar lagi... Belajar terus... Sampai akhir hayat...

Maaf lahir bathin :)
IEOz

Selasa, 25 Maret 2014

Memilih Sekolah: Sekolah Ramah Anak ;)

benar-benar nggak menyangka kalau memilih sekolah di zaman seperti ini tuh susahnya bukan main...
denger dari berita yang katanya ada tindakan bullying antar murid, pelecehan, sampai kekerasan yang memang terstruktur itu semua bikin kepala nyut nyut...

bayangin ya, kita sebagai orang tua kan maunya sekolah itu jadi mitra kita dalam mendampingi tumbuh kembang dan pendidikan anak, lha ini malah jadi ajang gengsi, ajang 'pelatihan fisik', ajang pamer kemampuan akademis anak (bahkan antar sekolah pun menjadikan muridnya sebagai bahan pamer prestasi yaiks).

belum lagi segambreng atribut yang menyertai sekolah-sekolah itu: IB school, kurikulum cambridge, montessori, metode berbasis karakter, metode sentra, metode holistik, de el el - de el el... fiuh...

yang pasti, ketika kita memilih sekolah untuk anak kita, ada beberapa hal yang menurut saya patut untuk kita pertimbangkan:
1. jarak, pertimbangkan jarak tempuh pergi-pulang antara rumah dan sekolah (kadang jarak yang agak jauh memang bisa ditempuh jika misalnya rumah dan sekolah yang dituju sama-sama dekat tol).
2. lingkungan sekolah. sekolah yang bagus adalah sekolah yang menyediakan halaman yang lapang bagi murid-muridnya untuk bermain maupun bereksplorasi. tak perlu banyak mainan mewah, dengan fasilitas bermain yang sederhana, namun lingkungan yang nyaman, aman, dan lapang maka anak bisa belajar banyak hal.
3. sekolah yang ramah anak. seperti apa sekolah yang ramah anak? yuk, lanjut...





Sekolah Ramah Anak

kalau mengutip judul buku Munif Chatib, "Sekolahnya Manusia", ya memang sekolah yang ramah anak itu adalah sekolah yang memang diperuntukkan untuk manusia. bukan hewan yang hanya disuruh atau dilarang tanpa diberikan kesempatan untuk mengutarakan pendapat atau mengembangkan pola pikirnya.

dengan metode pengajaran sekolah saat ini yang mendrill anak, melarang, menyuruh, bayangkan ada berapa banyak sel otak anak yang akhirnya menciut, kerdil, bahkan mati karena tidak terpakai untuk berpikir melainkan hanya mengerjakan a, b, c, d yang guru suruh, larang, minta. belum lagi kalau ada guru yg galak :(

potensi setiap anak itu berbeda, maka perlakuannya pun harus berbeda juga. gak bisa semua murid hanya duduk diam di kelas, mendengar guru berbicara di depan kelas. sementara jika ada murid yang terlihat tidak fokus pada penjelasan guru, tidak bisa mengikuti pelajaran, tidak bisa duduk manis, maka serentetan predikat tidak muridiawi akan melekat pada mereka.

"murid nakal", "murid bodoh", "murid pemalas", dsb yang sangat menyakitkan.
tidakkah kita berpikir bahwa Tuhan telah menciptakan manusia sedemikian unik dan berbeda satu sama lainnya?
maka wajarlah jika ketika ada sekolah yang memang melakukan kegiatan belajar disesuaikan dengan fitrah setiap murid, maka sekolah tersebut bisa saya katakan sekolah ramah anak.

oke, kita buat poin per poin sekolah ramah anak itu yang seperti apa.

1. menghargai setiap dimensi kecerdasan masing-masing anak
anak tidak dituntut dalam akademisnya (IQ), seperti halnya sekolah pada umumnya. tapi semua dimensi kecerdasan anak yang lainnya (ES dan SQ) juga dibangun di sana.
sisi kognitif, afeksi, dan psikomotorik terus dipantau dari hari ke hari dan biasanya laporan perkembangannya akan disertakan di dalam rapor anak.
kesemuanya itu tentu berbeda antar anak, dan ini memerlukan perhatian guru pada masing2 murid.


2. guru menjadi partner orang tua dan anak dalam mendampingi tumbuh kembang anak,
karena setiap potensi anak akan dikembangkan di sekolah ramah anak, maka tugas guru adalah menjadi pendamping dan fasilitator anak dalam belajar.
biasanya di sekolah ramah anak, guru tidak akan menyuruh, melarang, dan marah. eits tapi ada maksudnya.
tidak melarang anak untuk mengembangkan rasa ingin tahunya, meski tetap guru akan mengingatkan sang anak jika hal tersebut tidak aman atau tidak diperuntukkan untuk anak seusianya.
guru tidak menyuruh anak mengerjakan sesuatu, tapi mendorong anak untuk melakukan hal yang bermanfaat untuknya.
dan guru tidak akan pernah memarahi anak karena guru tahu bahwa memarahi anak hanya akan mematikan milyaran sel otaknya saat itu juga. guru akan memberikan pemahaman pada anak mengapa ini bisa dan tidak bisa dilakukan.

3. bersifat inklusi (menerima murid special needs),
tujuannya agar anak special needs mendapatkan pembelajaran bahwa sesungguhnya kehidupan nyata adalah seperti di sekolahnya, banyak anak-anak yang tidak seperti dirinya. dan bagi anak yang bukan special needs, mereka jadi belajar menerima dan menyayangi teman special needs mereka, dan itu yang akan mereka lakukan pada special needs lain di luar sana.

4. menerima dan mendukung serta mengembangkan potensi setiap anak sesuai fitrahnya.
kecerdasan majemuk tidak luput dari perhatian sekolah ramah anak. kecerdasan majemuk anak dikembangkan di sini, yang kurang akan diimprove, sedangkan yang sudah bagus akan dipertahankan.
maka tidak akan ada yang namanya ranking di sekolah ramah anak, karena setiap individu itu berbeda :)

5. mengembangkan keterampilan kecakapan hidup (life skill),
biasanya sekolah tidak memerhatikan keterampilan kecakapan hidup, padahal saya yakin, ini adalah alah satu hal yang sangat diperlukan oleh anak di dalam hidupnya, apalagi ketika mereka sudah besar dan tinggal terpisah dri orang tua (misal kost di luar kota atau luar negeri).
dengan mengembangkan keterampilan kecakapan hidup, anak akan terbiasa mandiri mengerjakan apa-apa yang menjadi kebutuhannya, bahkan bisa membantu temannya dan orang lain.

6. mendidik karakter anak,
pendidikan karakter adalah salah satu syarat sekolah ramah anak. mengapa? meminjam judul buku ida s. widayati, "mendidik karakter dengan karakter', memang jika ingin mendidik karakter anak ya harus dengan menunjukkan karakter yang sesuai.
ingin anak memiliki karakter sopan? ajarkan bagaimana berlaku sopan melalui sikap kita. dan itu berarti setiap pendidik di sekolah ramah anak harus memiliki karakter yg baik agar bisa menjadi contoh baik bagi para murid.

 7. menciptakan suasana belajar yang menyenangkan
dengan suasana belajar yg menyenangkan, pasti informasi yg didapatkan anak akan lebih banyak dan mudah diingat.


8. menumbuhkan murid yang active learner and long life learner
bukan membuat anak kapok eksplore karena guru yg ini itu, sekolah ramah anak justru membuat anak2 menjadi pembelajar yg aktif dan pembelajar seumur hidup.


apalagi ya? duh, saya kira masih banyak syarat sekoah ramah anak, tapi tampaknya untuk saat ini saya baru bisa menyebutkan  poin2 di atas. jika ada masukkan, sangat diterima dengan senang hati...

mau tau beberapa sekolah ramah anak? bisa baca di link ini: beberapa sekolah ramah anak

Selasa, 04 Maret 2014

Sekolah Ramah Anak #edisingebolang

yak, demi si ayah yang tetiba bilang, "bun, gimana kalau ikhlas sdnya pindah?" akhirnya saya bertualang dari satu negeri ke negeri lainnya.. eh, lebay...

yak, seharian ini saya berkeliling ke beberapa sekolah yang saya pikir ramah anak.
saya mengetahui sekolah-sekolah ini dari hasil googling, baca-baca diskusi emak2 cihuy di beberapa forum, ikutan diskusi di sebuah forum emak2 alumni ui, dan juga hasil tanya sana sini...
dan tersebutlah Sekolah Karakter IHF Cimanggis, Sekolah Semut-Semut Kelapa Dua, dan Sekolah Cikal (di cilandak dan cipayung).

kriteria saya dalam memilih sekolah untuk anak saya adalah:
1. tidak ada PR
2. memiliki sistem pembelajaran yang berorientasi pada murid
3. murid menemukan sendiri, bukan dipaksa untuk menerima sesuatu
4. mengembangkan rasa kritis mereka
5. sekolahnya nyaman (banyak pohon, ada lapangan luas, lingkungannya bersahabat)
6. sekolah adalah partner orang tua dalam mendidik anak
7. sesuai dengan visi misi kami (apaan tuh? heheheh)
8. maunya yang serupa dengan sekolah anak-anak saya saat ini al falah *udah bener2 jatuh cinta

saya rasa ketiga sekolah di atas memang memenuhi kriteria2 yang saya inginkan. dan jadilah hari ini saya ngebolang ke sekolah-sekolah tersebut. dan inilah laporan selayang pandang...
oia, mau intip2 ttg kriteria sekolah ramah anak? monggo mampir ke link sekolah ramah anak


Sekolah Karakter IHF klik di sini

gedung Sekolah Karakter di Cimanggis
sekolah ini letaknya di sebelah Giant Cimanggis. dari luar sudah kelihatan kok gedungnya.
nah, saya dapat nama sekolah ini dari seorang teman yang concern di bidang anak-anak.
karena penasaran dengan sekolah yang katanya memang mengembangkan karakter anak, akhirnya saya menyambangi sekolah tersebut.
begitu melihat gedungnya, yang saya rasakan adalah, "wow gedungnya ga kayak sekolahan, mudah2an dalemnya sesuai dengan harapan."

akhinya saya masuk ke kantor kemudian bertanya beberapa hal. dan ternyata pemirsa, saya telat daftar. seharusnya saya daftar sebelum bulan februari, karena pendaftaran memang dibuka pada januari sampai februari.
and u know what? daftar waiting listnya udah 170 orang untuk pendaftar SD..
hm, oke.. cukup tau aja *nyengir kuda :D

oia, sekolah ini adalah sekolah umum, jadi menerima murid dari latar belakang agama manapun.

lanjut dari office, saya melihat kegiatan belajar mengajar mereka.
ketika dikasih lihat ruangan SD kelas 1, saya lihat memang konsepnya bagus.  satu kelas maksimal ada 25 anak, dengan 2 guru.
kegiatannya juga memang tidak monoton seperti sekolah konvensional.
mereka juga belajar menggunakan tema yang berganti setiap bulan, sedangkan sub temanya berganti setiap minggu.
guru2nya ramah. ruangannya nyaman.

seorang murid sedang asyik bermain pasir
di bawah rumah pohon di area pra sekolah
sedangkan untuk pra sekolahnya yang memang dipisah dengan pagar setinggi perut orang dewasa, terdapat kelas-kelas. setiap kelas mewakili setiap sentra. kalau tidak salah ada sekitar 7 sentra (saya lupa).
saya suka dengan sistem sentra. karena dengan sistem seperti ini masing-masing kemampuan anak akan digali. contohnya di sentra bahan alam, mereka akan dilatih kemampuan motorik kasar dan halusnya melalui berbagai kegiatan seperti bermain ublek, melukis mural, tuang takar, dsb (ini kalau melihat kegiatan sentra bahan alam di sekolah anak saya).
dari segi fasilitas, permainannya pun lengkap. ini persis dengan sekolahnya Ikhlas dan Ernst saat ini.

tapi saya tidak sreg ketika melihat ke lapangan tengah. anak-anak bermain tanpa pengawasan guru. ada yang berlari naik turun tangga. ada siswa yang sedang belajar di luar kelas, tapi saya tidak menemukan di mana gurunya (huhuhu...). dan, ketika hendak keluar dari sekolahnya, saya mendapati sebuah kejadian yang membuat saya agak merenung...

ceritanya ada sekelompok siswa TK yang sedang diajak menuju ruang pertemuan di lantai atas, tapi ada beberapa murid yang menjatuhkan peralatan yang dibawa sang guru.
murid itu tertawa-tawa, diikuti oleh beberapa temannya. sang guru berkata, "tunggu di sini ya." sementara itu ia berjalan ke lantai bawah untuk memunguti peralatan yang jatuh tadi. belum semuanya berhasil diambil, dari atas, seorang anak kembali menjatuhkan peralatan yang lain.. oh, no...
saya bertanya dalam hati, "bukankah seharusnya guru itu mengajak sang murid untuk mengambilnya? sebagi pendidikan bertanggung jawab terhadap hal yang dilakukan?"
ya, akhirnya hal itu juga menjadi sebuah catatan bagi saya.

lokasi belajar pra sekolah
tapi saya pikir mungkin ini adalah oknum saja, hanya satu guru. karena menurut teman-teman sesama ibu, sekali lagi, sekolah ini cukup baik dan berkualitas dalam segi pembangunan karakter anak-anaknya. and overall, saya suka sekolah ini karena hampir semua point yang saya garisbawahi dalam mencari sekolah ada pada sekolah ini... ^.^

untuk masuk sekolah ini juga ada tes masuknya (ini mungkin untuk usia sekolah, ya). tesnya psiko tes, tes kematangan anak (apakah sudah siap untuk masuk sekolah), dan wawancara orang tua (untuk mengetahui apakah visi misi orang tua sama dengan visi misi sekolah dalam mendidik anak).

oia, untuk administrasi tahun ajaran 2014/2015  (SD), berikut saya lampirkan:
1. formulir pendaftaran dan TKS/Tes Kematangan Sekolah
(bisa mendaftar kalau memang masih ada quota)                                     400.000
2. seragam sekolah (olah raga dan bahan putih biru kotak-kotak)
dan buku literatur untuk orang tua                                                           600.000
3. Biaya gedung                                                                                18.000.000
4. Biaya kegiatan/tahun                                                                       2.500.000
5. SPP/bulan                                                                                          650.000
                                                                                         total         22.150.000

gedung SMP dan lapangan tengah
menurut informasi yang saya dapat, jika memang anak kita diterima di sekolah ini, pembayaran bisa dibayarkan 50%nya, dan di bulan berikutnya bisa dilunasi.

untuk usia pra sekolah, in sya allah ga beda jauh.. heheheh.. (kalau melihat di tahun ajaran 2012-2013 uang pangkal pra sekolah adalah 10juta dan spp 450rb).
maaf ya ga akurat, lupa nanya, nanti coba saya tanyain deh kalau ketemu lagi sama petugasnya, jangan ngambek gitu..
nah, kayak gitu dong, kalau senyum kan enak diliat, bisa dibedain sama cucian yang belum disetrika.. XD *kabuurrr takut ditimpuk setrikaan

murid-murid SMP sedang mengerjakan proyek
oia, setelah beberapa hari kmarin saya survey ke sini, ternyata ada telepon dari sekolah, bahwa saya masih boleh daftar. akhirnya saya datang, membeli formulir sebesar 400rb. saya lihat formulirnya, ada banyak sekali pertanyaan mengenai si anak yang mau dimasukkan ke sekolah dan bagaimana pendidikan ortu selama ini. di tulisan lain kelak akan saya kasih tau deh, apa aja TKSnya, oke ;)

mau lihat foto2 kegiatan siswa di Sekolah Karakter, lihat di sini--> galeri foto ihf










Sekolah Semut-Semut the Natural School klik di sini

sesuai dengan namanya yang pakai kata2 the Natural School, sekolah ini memang banyak menyajikan kegiatan di alam bebas untuk para muridnya.sekolahnya terletak di daerah RTM, kelapa dua depok. patokannya, kalau kita dari kelapa dua, setelah RTM, lurus saja terus, nanti di sebelah kiri ada masjid besar, setelah itu nanti ada jalan industri kapal dalam (di sebelah kiri), masuk saja..

kesan pertama saya masuk sekolah ini: "wow, 'alami' banget yah.. heheheh" 
yup, saya suka sekali dengan suasana di sekolah ini, murid-murid bermain dengan riang dan senang.
saya tidak banyak eksplore sekolah ini karena saat itu Oz sedang tidur dan saya tinggal bersama eyang ti-nya di mobil.
ini gerbang masuknya
(katanya kalau ga ada foto, berarti hoax, nah ini ada fotonya yak :p)


saya hanya melihat-lihat sekilas dan bertanya-tanya pada petugas TU.
memang sekolahnya ramah anak. mereka lebih banyak eksplore dengan alam, karena mereka berpendapat bahwa melalui alam anak bisa belajar tentang apapun.
mereka menumbuhkan rasa ingin tahu pada setiap muridnya.
pembelajarannya berpusat pada murid. jadi guru seperti fasilitator murid untuk belajar, tidak seperti sekolah konvensional yang murid duduk diam, sementara guru menjelaskan (guru sumber ilmu). di sini anak mencari tahu dengan didampingi oleh guru.

hubungan sekolah dengan orang tua murid juga baik. terlihat dari cara mereka dalam berdiskusi sesuatu.
saat itu saya berkenalan dengan seorang wali murid, mba nia, yang ternyata kenal dengan suami saya (ya Allah, silaturahim itu luas bangettttt)...
dari beliau saya juga banyak nanya2 ttg sekolah ini. katanya memang cukup menyenangkan sekolah di sini. anaknya sangat enjoy bersekolah sejak usia dua tahun sampai saat ini (4 tahun).


kegiatan di dalam sekolah semut-semut.
see.. rindang banget ya...

oh iya, untuk usia pra sekolah, usia 2 sampai 4 tahun (PG), belajarnya 3 kali seminggu dari jam 08.30-11.00.
kenapa tidak setiap hari? katanya tahap PG ini hanya untuk membiasakan saja bahwa ada rutinitas lain di luar rumah.
mengapa hanya sebentar? karena rumah tetap tempat belajar utama anak-anak usia PG..
hm, oke..
di bagian ini saya agak kurang sreg. why? karena menurut saya jika memang ingin membentuk bonding yang bagus antara anak dengan sekolah (guru), bukankah seharusnya pertemuan itu lebih sering, ya?
dan kalau sepemahaman saya yang sotoy ayam ini, anak memerlukan waktu untuk meregulasi emosinya yang dia bawa dari rumah ke sekolah (baca meregulasi emosi) dan itu tidak sebentar. lalu untuk mendapatkan informasi yang baik, anak memerlukan sharing dan refreaming apa yang sudah mereka dapatkan di sekolah sehingga anak tahu aman yang baik dan tidak baik yang dia dapat hari ini, dan itu buth sekitar 30 menit (lagi2 merujuk ke sekolah anak saya, ya abis saya baru nyekolahinnya di situ..heheheh).
tapi ya okelah.. ndak papa...

untuk usia TK A dan TK B, mereka masuk setiap hari dari jam 8 sampai jam 11.45. ini waktu yang cukup untuk melaksanakan semua point (regulasi emosi, proses belajar, dan circle time).

sedangkan SDnya masuk setiap hari dari jam 07.30-14.00... hampir sama dengan sekolah ikhlas sekarang.

tapi ternyata pendaftaran di sekolah ini sudah dimulai sejak September, pemirsa.. yang mana itu sudah kelewat beberapa bulan coba.. aaaa... okeh, baiklah, saya yang salah.. --_--"

quota mereka untuk SD adalah 70% dari murid yang sudah ada yang hendak memasuki usia SD dan 30% murid dari luar.
satu kelas ada 23 orang dan hanya ada 3 kelas di sana. dan saya hanya bisa nangis bombay di dalam hati (lha kalau beneran nanti dikira saya kenapa2..hihihi).

nah, sedangkan untuk usia pra sekolah, mereka membuka pendaftaran di bulan februari, juni, dan oktober. jadi di bulan-bulan itu anak kita bisa didaftarkan. atau jika mau masuk di bulan februari, kita bisa daftar dari bulan januari.

oia, untuk pra sekolah, uang pendaftarannya sudah termasuk sit in (trial selama 2 minggu). jadi kalau mau lanjut, ya berarti bayar uang pendaftaran. kalau ga mau lanjut ya sudah, bubbye gudbay aja..hihihi

untuk administrasi sekolah semut-semut tahun ajaran 2014-2015
*pra sekolah:
formulir: 500.000
uang pendaftaran: 3.000.000/4 bulan (jadi 4 bulan selanjutnya bayar lagi)
spp: 550.000
seragam (t-shirt dan celana olah raga): 175.000

*TK A
formulir: 300.000
uang pendaftaran: 10.000.000
spp: 700.000
seragam (olah raga dan kain hijau salur + kain kuning daun): 375.000
uang kegiatan naik TK B: 2.000.000

*TK B
formulir: 300.000
uang pendaftaran: 5.000.000
spp: 700.000
seragam (olah raga dan kain hijau salur + kain kuning daun): 375.000

*SD
formulir: 300.000
uang pendaftaran: 15.000.000
spp: 800.000
seragam (olah raga, kain coklat krem+merah, putih+kotak2): 575.000
uang kegiatan per kenaikan kelas: 2.500.000

oia, memang sekolah ini sangat rimbun karena konsepnya adalah sekolah alam, jadi jangan kaget jika mungkin ada ulat. dan di sana juga ada tulisan "hati-hati banyak ulat, kalau terkena ulat bulu oleskan dengan bawang merah yang dipotong. bawang merah ada di dapur" -->kira2 begitu deh.. hehehehe

oia, ada salah seorang teman yang pernah juga survey ke sini. memang dia berpendapat sekolah ini bagus, tapi sayang, fasilitasnya kurang terawat.

lanjut ke survey sekolah berikutnya...



Cikal klik ini

nah, udah pada tau sekolah cikal kan ya, yang di cilandak itu.. nah, sekolah ini merupakan sekolah internasional. kalau yang di cilandak dibuka untuk anak mulai dari bayi (usia 6 bulan) sampai SD. sedangkan yang di cilangkap, itu khusus untuk SD kelas 6 sampai sma.

yang namanya sekolah internasional, pasti dong beda dengan sekolah biasa. yup, begitu saya masuk ke sekolah ini, nuansa internasionalnya tuh kental banget terasa. baik dari fasilitas, pelayanan, bangunan, dan semua hal yang berada di dalamnya.. hm okay, lanjut..

cikal memiliki kurikulum yang disebut dengan IB apakah itu? jadi si IB itu adalah sebuah organisasi internasional yang merancang kurikulum yang berlaku secara internasional.

tujuan dari kurikulum IB itu adalah agar anak intellectual, personal, emotional and social skills to live, learn and work di dunia yang sangat dinamis ini. anak dilatih untuk menjadi anak yang kritis dan berkeinginan untuk belajar seumur hidupnya dan peduli dengan lingkungan dan komunitasnya serta menghargai perbedaan.


sekolah kayak apa sih yang disebut IB school itu?
- aktif berperan dalam masyarakat dunia (global)
- berkomitmen dengan perkembangan guru2nya
- Fasilitas sesuai standard IB
Sekarang ini ada 3071 sekolah IB di 139 negara. di indonesia ada 10 sekolah yang pake kurikulum IB. kalau mau lihat sekolah2nya, silakan cek di sini

kalau memang berniat menyiapkan anak yang berwawasan global dan memang mau atau ada niat menyekolahkan anak ke luar negeri, better masuk ke sekolah yang berkurikulum IB deh. biar sudah terbiasa dengan standar dan keseharian internasional. (huwooo)

nah, lanjut lagi ke si cikal ye...

ini jenjang pra sekolahnya:










  • Bayi Bayi (6 months-1 year old)

    • Adik Adik (1-2 years old)
    • Kakak-Kakak (2-3 years old)
    • Pre-Kindergarten (3-4 years old)
    • Reception Junior and Senior (age 4 – 6 years)
    • Year 1 to 2 (age 6 – 8 years)
    • Year 3 to 6  (age 8 – 12 years)
    • middle school (smp, sma)


    kalau bicarain fasilitas, ga perlu dibahas lagi deh kayaknya.. hehehehe.. sekolah ib kan memang sudah ada standardnya, standard internasional, jadi sudah dapat dipastikan bahwa fasilitas pasti lengkap dan mendukung semua kegiatan anak.

    metode pembelajarannya active learning. jadi memang siswa dibuat dan difasilitasi untuk mengembangkan rasa ingin tahunya, mengembangkan potensinya, dan mempersiapkan anak-anak agar menjadi pembelajar seumur hidupnya..

    oia, untuk administrasinya, bisa dilihat di foto berikut ini ya.. (tadi udah ditulisin, eh ternyata kehapus semua yang udah ditulis T_T)
    prosedur pendaftaran Cikal

    administrasi Cikal



    Sekolah Al Falah klik di sini atau di sini

    sekolah al falah terletak di jalan Raya Kelapa Dua Wetan, Ciracas. dari luar agak gak kelihatan kalau ini adalah sekolah, abis kecil banget tampak luarnya.
    padahal di dalamnya ada kelas2 untuk anak para sekolah sampai SMA, lapangan pasir, lapangan sepak bola, lapangan basket, lapangan rumput untuk bermain para baby dan toddler, lapangan bermain, taman bunga, lapangan untuk duduk-duduk, kolam renang, dan kandang-kandang hewan peliharaan sekolah.
    yup, jadi jangan membayangkan sekolah al falah ini memiliki gedung dan fasilitas super mewah dan modern seperti highscope atau cikal. sekolah al falah benar2 sederhana, meskipun uang pangkal dan SPPnya sangat2 tidak sederhana :D
    tampak depan sekolah al falah

    acara manasik haji di sekolah

    tawaf saat manasik haji di sekolah




    sistem pengajaran di al falah mirip banget sistem IB yang membuat anak jadi active learner and long life learner. bedanya, al falah bukan sekolah internasional, dia kental dengan pendidikan hidup dan agama.
    mereka menggunkan metode sentra untuk pembelajaran murid-muridnya. bahkan sekolah al falah adalah sekolah pertama dan pelopor sekolah-sekolah dengan metode sentra di indonesia.

    jangan bayangkan para murid duduk diam sementara guru menjelaskan, ya...
    sejak usia pra sekolah, al falah sudah memberikan proyek pada para muridnya.. 
    seperti misalnya pada usia TK A, proyek mereka sederhana, misalnya sedang mempelajari tema aku dan sekitarku, dengan sub tema keluarga, jadi mereka membuat pohon keluarga yang kemudian mereka namai tiap batangnya, ada ayah, ibu, adik, kakak, om, tante, dsb. dari situ mereka belajar bahwa adik laki-laki ayah adalah om, ayahnya ibu adalah eyang kakung, dsb.
    ikhlas (paling kiri) dan teman2nya
    saat manasik haji di sekolah

    sedangkan untuk usia sekolah (SMP misalnya), mereka yang sedang mempelajari proses produksi dari hulu ke hilir akan diajak untuk ke pabrik tebu, melihat dari mana gula dibuat, bagaimana dipasarkannya, dsb. di akhir proyek mereka diminta untuk membuat laporan dan mempresentasikannya di depan teman-teman dan didepan orang tua mereka... keren. dan anak-anak sama sekali tidak ada yang merasa terbebani dengan proyek mereka.

    al falah merupakan sekolah inklusi, jadi mereka menerima anak-anak special needs dan membiarkan belajar bersama anak-anak lainnya, alsannya karena pada kenyataannya anak special needs maupun anak biasa pasti akan berbaur satu sama lain, jadi sekolah merupakan miniatur dunia nyata bagi anak special needs dan anak biasa.
    oia, untuk special needs, ada yang membutuhkan shadow teacher dan ada juga yang tidak, tergantung kebutuhan mereka.

    ernst digandeng bu euis
     saat manasik haji di sekolah
    saya sempat mengikuti acara kenaikan kelas anak TK B ke SD. ada salah seorang murid special needs, down syndrome, yang ternyata bisa membaca dengan cukup lancar. semua orang di ruangan menangis terharu melihatnya, apalagi ketika anak tersebut mengucapkan, "aku sayang mama dan papa." :')

    al falah menerima murid pra sekolah sejak mereka berusia 2 bulan.. masih baby banget ituh...

    jam sekolah mereka dari jam 7 sampai jam 2 (usia pra sekolah sampai SD kelas 2)
    dan jam 7 sampai jam 4 sore (usia kelas 2 sampai SMA).
    ada juga program extended untuk anak pra sekolah yang mungkin tidak bisa dijemput jam 2 siang oleh orang tuanya.

    oia, di al falah, sekolah sangat menekankan partisipasi aktif orang tua muridnya dalam pendidikan anak-anaknya. salah satu caranya adalah dengan mewajibkan orang tua untuk mengikuti PPOT (program Pelatihan Orang Tua).
    selain PPOT, ada beberapa cara lainnya yang mereka lakukan agar orang tua tau dan ikut serta dalam mendidik anak-anaknya.

    untuk administrasi sekolah Al Falah, saya betul2 lupa karena sudah lama sekali saya menanyakan hal itu (terakhir kali ketika memasukkan Ernst ke baby house, sekitar 3 tahun lalu).

    seingat saya,
    baby house-PG: 35 juta, SPP 2.450.000/bulan (belum termasuk extended dan antar jemput)
    TK: 45juta, SPP 2.500.000/bulan (belum termasuk extended dan antar jemput)
    SD: 65jt (SPPnya lupa)
    SMP dan SMA juga lupa... huhuhu maafkan saya.. T_T

    kenapa saya jatuh cinta pada sekolah ini dan memasukkan anak-anak saya sejak usia 1 tahun ke sini? silakan baca ulasannya di sekolah al falah. bagi saya, al falah adalah representasi sekolah ramah anak :).
    untuk profil sekolah al falah di youtube, bisa klik link ini--> profil sekolah al falah




    ini semua sekolah ramah anak yang saya kunjungi langsung satu persatu.. dan saya hanya mengamati jenjang pra sekolah dan SDnya saja.. untuk jenjang lainnya saya belum tahu karena memang belum kepikiran sampe situ.. lha nanti pas smp grasa grusu lagi win.. hehehehhe

    in sha allah lain kesempatan kita bahgas sekolah2 lain yg ramah juga ;)

    kalau ada yang mau nanya2 feel free to text me yo.. inbox aja via FB atau ke windi.ningsih@gmail.com yg mau tau nomor wa atau nomor hp saya.. (GR bener sih ini emak2..hihihihi), yang pasti saya hanya akan kasih nomor hp dan wa saja, karena kalau ngasih nomor pin atm, saya ga bisa..hihihihi