Selasa, 17 September 2013

pernikahan (adalah perjuangan bersama karena Allah)

Sejak awal sebelum menikah...
Kami berjuang..
Mendapatkan restu dari orang tua kami..
Tak mudah, karena kami berdua masih di bangku kuliah dan belum memiliki pekerjaan tetap, tapi suami sudah memulai usahanya...

Ketika akhirnya sudah resmi menikah,
Kami juga masih berjuang...
Sangat tidak mudah menjadi pasangan muda dengan beban rumah tangga dan kuliah kami berdua...
Jangankan memikirkan bulan madu ke berbagai kota di mancanegara atau luar daerah, untuk pergi ke dufan saja kami mengumpulkan uangnya selama sebulan. Dan setelah uang terkumpul, malah tidak jadi karena sayang melihat uang sebanyak itu untuk dipakai tamasya berdua...
Alhamdulillah Allah selalu memberi jalan...
Jadi teringat bagaimana kami harus menginap di warnet untuk menyelesaikan skripsi, karena tak memiliki komputer apalagi laptop :')

Saat menanti proses persalinan..
Kami juga masih berjuang
Berpikir bagaimana mendapatkan uang untuk persalinan dan biaya ini itu nantinya..
Alhamdulillah, Allah selalu membukakan jalan...

Saat memiliki anak pertama pun kami masih berjuang,
Selain sisi ekonomi yang belum nyaman, masih diharuskan menepati janji menyelesaikan kuliah...
Ah, jadi ingat, untuk membeli breasthpump saja (meski manual) kami berpikir berkali-kali, membandingkan harga2 dari toko ke toko..

Saat anak kedua akan lahir,
Kami juga masih berjuang...
Kini tak dari sisi ekonomi, namun dari sisi lainnya
Dan perjuangan itu panjang...
Sangat pnjang dan melelahkan...

Dan hingga hari ini pun kami masih terus berjuang
Mungkin tidak sekeras orang lain di luar sana,
Namun kami yakin kami dapat melaluinya dengan perjuangan yang sama kerasnya...

Dan esok, saya yakin, kami masih terus berjuang...
Karena hidup memang serangkaian perjuangan.
Kelak, ketika rangkaian perjuangan itu sudah terselesaikan, Allah akan nenepuk kami seolah berkata, "waktunya pulang"...




sebuah kenangan manis :)

memang belum setahun saat itu...
kami mengontrak di rumah petakan di daerah kukusan
rumah kecil, namun bagi kami yang saat itu masih mahasiswa, rumah itu sudah lebih dari cukup
dan memang uang yang kami dapat dari menjual barang2 berharga kami saat itu hanya mampu untuk menyewa rumah itu dan membeli sebuah lemari kecil dan beberapa peralatan rumah tangga lainnya...
alhamdulillah

saya ingat, rumah kontrakan kami memiliki pagar berwarna hijau, agak tinggi dari jalan, sehingga sulit bagi saya mengeluarkan dan memasukkan motor...
namun rumah kami sempurna...
ruang tamu merangkap ruang keluarga yang super kecil itu kami hiasi dengan karpet, kami letakkan rak buku kecil, tak ada kursi apalagi sofa mewah empuk untuk menjamu tamu...

ada dua buah kamar
kami memakai satu kamar untuk kamar tidur,
sedang kamar yang lain untuk tempat berbagai barang yang saat itu memang tak ada media yang menampung (lemari kami terlampau kecil untuk menampung baju kami berdua, tas-tas, buku-buku kuliah, dan benda lain tak ada tempatnya)...

namun kami bahagia, sangat bahagia...
itu adalah langkah pertama kami untuk mendewasakan diri,
untuk memulai hidup baru kami sebagai sepasang suami-istri

dan ketika itu mungkin karena kelelahan mengurus rumah, merawat suami, kuliah, dan masih berorganisasi, saya tetiba demam..

suami saya menjemput saya di kampus
membawa saya pulang dan merawat saya dengan sangat baik
sangat baik menurut saya, karena saya tahu, suami saya bahkan tidak terbiasa merawat dirinya sendiri seperti itu..
subhanallah...

di antara kesadaran yang semakn menipis, saya teringat kalimat suami saya yang sangat panik kala itu,
"masyaallah, badannya panas sekali. udah makan? mau mas bikinin makanan? atau mas beliin makanan?"
saya hanya menceracau tidak jelas, karena panas yang semakin tinggi...
lalu saya memejamkan mata, entah tertidur atau pingsan saya tidak sadar,
begitu saya membuka mata, suami saya sudah duduk di samping tempat tidur kami, memegang tangan saya...

sambil tersenyum ia berkata, "mau mas suapin makanan? mas tadi beli bubur, khawatir belum bisa ngunyah. makan ya, sedikit aja."
saya menangis, sangat terharu melihat seseorang yang baru saya kenal setengah tahun (semenjak perkenalan sampai menikah), begitu mempedulikan saya.
saya makan, disuapi olehnya. lalu kembali tertidur.

setelah saya bangun dan hendak menyelesaikan tugas yang lain,
saya ingat rumah belum dipel, cucian masih direndam, dan cucian piring masih tersisa sejak kemarin...
tetiba suami saya datang, melarang saya mengerjakan apapun,
saya lihat tangannya basah, ternyata ia baru selesai mengepel rumah dan sebelumnya sudah mencuci dan menjemurkan pakaian kami...

air mata saya hadir tanpa diundang...

betapa tidak,
saya tahu, suami saya bukan tipe yang mau mengerjakan tugas-tugas seperti ini
bahkan menurut teman-temannya, pakaiannya yang kotor suka ia buang karena tahu-tahu sudah berjamur karena lama tidak dilaundry...

sangat bertolak belakang dengan sifatnya,
apakah ini yang disebut sayang?
atau bertanggung jawab?

namun sejak saat itu, saya mengukir janji bahwa saya memang harus melayaninya sebaik mungkin

meski kami tak selalu harmonis, bahkan ketika beberapa tahun belakangan,
kami tak luput dari salah,
ternyata Allah masih memberi kami kesempatan untuk memperbaiki diri...
untuk sama-sama memenuhi janji yang sudah diucapkan--dan yang tidak diucapkan langsung--melalui pernikahan kami,
melalui janji kami langsung pada pencipta kami...

janji pada manusia saja harus dipenuhi,
apalagi janji pada pencipta kita...






untuk anak pertama bunda yang sangat dewasa, Muhammad Ikhlas Putrabuana

tanggal ini (31 juli), di waktu ini (12.29), tepat 5 tahun lalu (2008), kau lahir, nak...
setelah dua jam sebelumnya bunda harus dioper dari tempat bidan menuju rumah sakit...
dengan rute yang melewati kemacetan, perut yang kontraksinya sudah setengah menit sekali, perjalanan sekitar setengah jam itu terasa lama sekali...
sudah bukaan sepuluh, semenjak 4 malam sebelumnya bunda menanti hadirmu, tapi kau tak kunjung hadir, tak kunjung lahir...
minggu malam setelah merasakan kontraksi setengah jam sekali, kami menuju bidan yang sudah kami putuskan akan menemani kami menyambut kehadiranmu.
"baru bukaan 1 kok bu."
bidan berkata saat itu...
tapi kontraksi semakin sering, sampai akhirnya ketika dini hari kami memutuskan untuk bermalam di bidan tersebut.
detik berbuah menit, menit berbuah jam, jam akhirnya berbuah hari...
namun dari bukaan pertama sampai bukaan berikut-berikutnya berjalan sangat lama, padahal sudah diinduksi, nak..
tak terbayangkan betapa dahsyat rasanya, baru sekejap memejamkan mata, tak lama rasa sakit itu datang tanpa diminta...
hingga bukaan lengkap itu akhirnya terjadi juga, bunda dan ayah harus menunggu 3 hari lamanya, alhamdulillah...

akhirnya pukul 5 subuh bunda masuk ruang persalinan di bidan tersebut.
berharap kau segera meluncur untuk menggetarkan bumi Allah dengan syahadat pertamamu...
tapi sampai jam 9 pagi, setelah beberapa kali bidan dan timnya memandu untuk mengejan, kau tak kunjung datang.
pemeriksaan dalam kembali.
ternyata kau malah menjauh dari jalan lahir

bunda tetap berdoa untuk yang terbaik,
melafalkan dzikir yang bunda ingat,
bunda yakin, bunda masih memiliki cukup tenaga untuk membuka jalanmu ke dunia...

tapi setelah diskusi beberapa saat dan akhirnya menelpon dokter yang memang bekerja sama dengan sang bidan,
maka diputuskan untuk membawa bunda ke rumah sakit,
jalan operasi sesar pun diambil...

lalu dimulailah perjalanan 30 menit itu...
ayah menyetir dalam kondisi yang tak menentu,
bunda ditemani seorang petugas medis yang membawa infus, berada di kursi tengah.
sedangkan eyang ti dan nenek uyutmu yang saat itu juga ikut menemani di tempat bidan, saat ini sedang mempersiapkan baju untuk disusulkan ke rumah sakit.

tiba di sana, tenaga kesehatan lainnya langsung membawa bunda menggunakan kursi roda,
lalu membaringkan di sebuah tempat tidur panjang
mengukur tekanan darah, menanyai ini itu..
ketika mereka tanya mengenai air ketuban, bunda menjawab seingat bunda bahwa sampai saat ini bunda tidak merasakan adanya air ketuban yang keluar.
mereka mengecek, ternyata bahkan air ketuban telah habis tak bersisa.
dan ketika mereka tahu bukaan sudah lengkap,
mereka berusaha mengambil jalan untuk tetap melahirkan normal,
mereka memberikan aba-aba untuk mengejan,
namun cara itu tidak berhasil, meski beberapa kali dilakukan.

akhirnya dilanjutkanlah perjalanan menuju ruang operasi.
setelah tim lengkap, dimulailah semuanya...

dengan perut yang terus berkontraksi, bunda harus bisa memegang lutut, agar suntikan bius bisa dimasukkan melalui tulang bagian belakang.
Allah.. tak dapat cukup tenaga, akhirnya seorang perawat membantu bunda untuk memelengkungkan badan.
sakit? iya.
tapi berangsur sakit itu menghilang, sejalan dengan pengaruh obat yang tadi disuntikan.
lalu kebas separuh badan.
dan dimulailah semuanya.

tidak beberapa lama, seorang dokter anak mengangkatmu keluar dari perut bunda.
sedikit terisak, bukan menangis keras seperti bayi lainnya.

"ternyata terlilit beberapa lilitan di leher, bu. ini sudah mulai biru, makanya dia gak nangis. alhamdulillah langsung dibawa, gak dipaksa normal. kalau tetap normal, nyawa bayinya bisa ga selamat."
salah seorang dokter memberikan keterangan mengapa kau hanya terisak lirih.

setelah dikeluarkan cairan dari lubang hidung, mulut, dan dipotongnya tali pusat, akhirnya tangis pertamamu pecah..

alhamdulillah, selamat berjuang di dunia ini, nak.

setelah itu bunda merasa sangat mengantuk dan akhirnya tertidur.

ya, bunda merasa baru kemarin melewati detik-detik itu.
berusaha menjadi jalanmu untuk beribadah di dunia ini.
namun kini kau sudah beranjak besar, menjadi seorang anak kalem berusia 5 tahun.
seorang manusia shalih yang sangat mudah diajak bekerja sama.
seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya.
seorang hamba Allah yang sedang berusaha menghafalkan juz 30 puluh meski baru sampai al bayyinah.
seorang hamba Allah yang jika sudah masuk waktunya sholat, kau sering mengajak kami berjamaah.

nak, tumbuhlah menjadi manusia yang shalih, manusia yang menshalihkan.
yang dari kedua tanganmu, semua manfaat bisa kau sampaikan.
yang dari kedua kakimu, selalu melangkah menuju kebenaran.
yang dari kecerdasanmu selalu lahir berbagai kebaikan.
jadilah ahli syurga nak, dan jadilah perantara orang-orang menjadi ahli syurga...

barakallahu fii umrik, kak ikhlas sayang..
melalui namamu kami selalu belajar untuk bersikap dalam hidup...

maafkan kami yang belum bisa menjadi orangtua yang terbaik bagimu,
maafkan atas semua keterbatasan kami dalam mendidikmu,
maafkan kami atas semua hal yang belum sampai meski Allah telah mengamanahkannya untuk disampaikan padamu...

dari kami yang mencintaimu,
bunda dan ayah


-- Muhammad Ikhlas Putrabuana--

ketika akhirnya harus tanpa ART.. (^.^)

Ketika akhirnya kembali tidak pakai ART, ketika itu pula Ikhlas dan Ernst libur super panjang (dari tgl 8 agustus sampai 7 september), dan ketika itu pula kandungan ini tetiba sering sekali kram dan sakit...

Dan Allah menunjukkan nikmat-Nya...

Ia menganugerahkan seorang anak yang super duper dewasa...
Dengan sangat telaten ia mau menyuapi adiknya roti ketika sang bunda sedang mengepel lantai...
Dengan sabar dan perhatian dia menemani adiknya bermain dan memeluknya ketika kaget dengar suara pesawat yang entah mengapa terbang lebih rendah...
Dan, melebihi kesabaran ibunya, ia masih tersenyum dan menanyakan apa yang dimaksud oleh adiknya yang tengah menangis dan tantrum...


di episode lainnya...


Ternyata berbelanja bersama duo bocil tanpa ARTpun menjadi pengalaman tersendiri... 
Biasanya kalau belanja bulanan dan bawa dua anak shalih, selalu sama si mbak dan bawa mobil sendiri.. Sehingga tanpa ayahnya pun masih bisa mengatasi semuanya..

Tapi ketika akhirnya kebutuhan memaksa untuk melakukannya dengan kedua anak shalih, dan naik motor, ternyata berjalan lancar...

Sebelum berbelnja, ikhlas yang berperab sebagai partner bunda, sudah diminta bekerja sama untuk menjaga adiknya. Mengingatkan apa saja yang harus dibeli.

Dan alhamdulillah,
Ketika bunda meleng sedikit ke tempat sandal (karena memang butuh, tp ga masuk rencana belanja), ikhlas dengan bijak mengingatkan bahwa ada barang yang harus dibeli...
Dan sepulang belanja, ketika kedua tangan bunda sibuk membawa barang belanjaan (3 kantong besar termasuk beras 1 karung), ikhlas menggandeng tangan adiknya dan selalu mengingatkan adiknya untuk fokus berjalan mengikuti bunda agar tidak tertinggal...

Allah.. Allah.. Allah..

Sungguh, caraMu mengupgrade setiap hamba begitu unik.. Begitu indah...

Alhmdulillah...


Allah... NikmatMu yang manakah yang berani hamba dustakan..

Sabtu, 23 Februari 2013

"kekkakekkokkukukakikakakkukikikakukakukek"


"kekkakekkokkukukakikakakkukikikakukakukek"

bingung dengan kalimat di atas?
yuk coba pelan2 dibaca lagi..

kalau masih bingung, coba kita kasih jeda seperti ini..
"kek/ka/kek/kok/ku/ku/ka/ki/ka/ka/ku/ki/ki/ka/ku/ka/ku/kek"

still confuse? masih belum mengerti juga?
hayuk kita pisahkan per kata...
"kek, kakek, kok kuku kaki kakakku kiki kaku kaku, kek"

masih bingung juga?
duh.. coba baca lagi deh.
sudah mengerti? nah, sekarang coba sampaikan kalimat itu secara lengkap dan persis sama kepada orang lain. ingat, harus sama, harus lengkap!

bila ada yang masih kesusahan, yuk kita cari tahu kenapa...

ada beberapa kemungkinan dalam hal ini,
1. mungkin anda kurang konsentrasi
2. mungkin anda pelupa sehingga miss salah satu atau beberapa kata
atau..
3. mungkin otak/cara berpikir anda tidak terbiasa dengan sesuatu yang tertata, yang teratur, sebab-akibat, obyek, subyek, predikat

jika jawabannya adalah kemungkinan nomor 1 dan 2, itu masih bisa disiasati. namun kalau anda termasuk yang nomor 3, maka harus ada hal lebih yang anda lakukan. salah satunya dengan membiasakan diri menggunakan kalimat lengkap dalam berbicara.

teringat pada 5 tahun lalu, saat saya mengandung anak pertama saya, Muhammad Ikhlas Putrabuana, saya diwanti-wanti oleh suami untuk selalu mengajak janin berbicara. dan bukan asal bicara, namun menggunakan kalimat yang lengkap dan teratur,, baik kata maupun intonasi.

Awalnya saya merasa kesulitan, merasa risih, kikuk, bahkan malas. Untuk apa berbicara “sendiri” dengan kalimat yang lengkap dan teratur pula? Rajin amat ya, gue.. heheheh. Tapi saya jalani juga hal itu meski banyak missnya, misalnya bicara sekenanya pada janin saya (de, bunda cape; ah, laper nih de, mau makan; dsb), atau diam saja seolah saya tidak sedang membawa calon anak kami.

Di kemudian hari saya baru tahu manfaat berbicara pada janin, bukan hanya berbicara ya, tapi juga menggunakan kalimat lengkap yang teratur dengan intonasi yang tepat. Saya tahu hal ini dari buku dan juga dari direktur sekolah anak saya pada saat pelatihan orang tua murid di sekolah. Selain berfungsi untuk menambahkan lipatan-lipatan sel otak janin, membuat janin merasa dekat secara lahir batin (emosi dan fisik), ternyata semua perkataan yang terucap dari kita (ibu yang mengandung) dan kelak orang sekitar ibu hamil (ketika usia kehamilan semakin tua) akan direkam olehnya dan kelak akan dikeluarkan setelah ia mendapatkan kembali stimulasi yang sama (ini berlaku juga dengan alasan mengapa wanita hamil harus rajin membaca al quran, karena ketika anak nanti mendengar lagi bacaan al qur’an, semua yang dia simpan akan langsung dikeluarkan dan ini membuat ia merasa lebih tersambung/dekat dengan alqur’an), dan yang terpenting adalah berbicara dengan kalimat lengkap dan teratur akan membiasakan anak untuk berpikir runtut, teratur, dan kelak akan membuatnya menjadi pribadi yang mudah mengatur segala sesuatu dalam kehidupan pribadi maupun profesionalnya.

Membiasakan berbicara dengan kalimat lengkap dan teratur dengan intonasi yang tepat pada janin dan anak selain akan membuat mereka berpikir runtut, rapi, dan tertata, mereka juga bisa dengan mudah melihat sebab-akibat, inti masalah dan pemecahan, serta bisa menguraikan sesuatu berdasarkan jenisnya (mampu menganalisa).

Contohnya, kita kembali pada kalimat "kek, kakek, kok kuku kaki kakakku kiki kaku kaku, kek". Orang yang tidak terbiasa berpikir runtut, jelas, logis, mungkin bisa jadi mengulang kalimat tersebut dengan jelas dan benar, ini bisa jadi karena daya ingatnya kuat. Tapi pada kenyataannya akan lebih banyak orang yang mengalami kesusahan untuk mengulang kembali kalimat tersebut.


Padahal, bagi orang yang terbiasa berpikir runtut/tertata, dia akan melihat bahwa kalimat ini ditujukan pada siapa, predikatnya apa, objeknya apa, jenis kalimatnya apa. Dengan begitu meski hanya sekali mendengar atau membaca kalimat seperti ini, dia akan bisa mengulangnya langsung dengan mudah.
Ini baru satu contoh kecil dari efek berbicara dengan kalimat yang lengkap dan teratur dengan intonasi yang tepat. Bayangkan jika hal ini terus diberikan pada janin dan anak. Mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang seperti telah saya sebutkan sebelumnya (berpikir runtut, teratur, dan kelak akan membuatnya menjadi pribadi yang mudah mengatur segala sesuatu dalam kehidupan pribadi maupun profesionalnya).

Mungkin sulit untuk memulainya, mungkin canggung untuk membiasakannya, mungkin akan banyak tantangan dalam pengaplikasiannya, tapi kita bisa. Bukankah kita sebagai orang tua ingin memberikan yang terbaik untuk anak, untuk investasi kita?

Mari biasakan berbicara dengan kalimat lengkap yang teratur dengan intonasi yang tepat. Sederhana saja, tidak perlu ‘ribet’ seperti di dalam buku teks bahasa indonesia, namun jelas dan mengena.

“Kakak sudah menutup pintu kamar?”, “Ade mau bermain bola?”, “Ibu mau pergi ke supermarket, ade mau ikut?”, dsb.



Maaf lahir batin atas segala kekurangan. Mohon kritik dan masukannya ^^v

Kamis, 14 Februari 2013

Memberikan Kado Ketika Anak Berhasil Mencapai Target



anak saya yang bernama Ikhlas (4 thn) sebelumnya sudah lancar dengan toilet trainingnya, bahkan ketika malam pun ia sudah terbiasa buang air kecil sendiri di kamar mandi, tanpa membangunkan ayah bundanya. (kamar mandinya ada di dalam kamar)

namun kebiasaan baik itu lema kelamaan menghilang ketika sempat beberapa kali dia dipakaikan popok sekali pakai oleh eyangnya ketika menginap di rumah eyang dengan alasan kamar mandinya cukup jauh (kamar mandinya berada di luar kamar dan harus melewati ruang tengah dan dapur)dan sedang musim hujan jadi bisa beberapa kali ke kamar mandi.

akhirnya ketika tidur di rumah, dia sudah tidak ingat dengan kebiasaannya untuk buang air kecil di kamar mandi. so, kasur penuh dengan ompolan...

putar otak, terbersit satu ide yaitu memberikan satu targetan pada Ikhlas. dia akan mendapatkan 1 bintang untuk satu malam tanpa ompol. dan ketika sudah ada 10 bintang, dia berhak mendapatkan sepeda baru sesuai dengan harapannya. namun jika ada 1 kali ngompol, maka bintangnya akan diambil kembali sebanyak 1 bintang.

*mengapa 10? karena dalam 7-10 hari kebiasaan akan bisa dibentuk oleh anak kecil.*

dan alhamdulillah, setelah dua minggu, ikhlas kembali lagi pada kebiasaan lamanya yang buang air kecil di kamar mandi tanpa diminta.

dan sekarang saatnya Ikhlas dibelikan kado sepeda.. selamat ya, ikhlas.. ^^

oia, sebenarnya selain diberi kado, anak harus tetap diberi pengertian tujuan targetnya. seperti ikhlas yang sebelumnya sudah saya beritahu bahwa mengompol itu hanya akan membuat dirinya tidak nyaman saat tidur malam. dan dia harus tahu bahwa air seni yang menempel di celana dan kasur adalah najis yang harus dibersihkan dan merupakan tempat kuman bersarang (bisa menyebabkan gatal atau ruam). setelah dia tahu tujuannya tidak boleh mengompol, dia mau untuk mencapai target yang sudah disepakati bersama (oleh anak dan orang tua), dan semangatnya bertambah ketika dia diberikan reward berupa sepeda.

tulisan ini juga bisa dilihat di FP http://www.facebook.com/BeliKadoYuk2

Selasa, 24 Juli 2012

karena menikah bukanlah pacaran yang dihalalkan...


dalam mengarungi kehidupan berumah tangga, pasti tidak banyak orang yang melaluinya dengan ayem tentrem, iya kan? nggak, nggak perlu mengangguk, angkat tangan, mengirim sms bahkan menelpon saya..^^ cukup simpan saja dalam hati.. :D

tapi kita sepakati ya, poin di atas.
bahwa tidak banyak orang yang menjalani kehidupan berumah tangganya dengan ayem tentrem a.k.a banyak yang mengalami kerikil-kerikil,  jatuh-bangun, pasang surut, bahkan topan badai hingga tsunami.

ada banyak pasangan yang seperti itu, it's mean that you are not alone!

*plis banget ga usah bayangin michael jackson lagi nyanyi.. XD

apalagi di masa-masa awal pernikahan, setidaknya 5-10 tahun pernikahan. menukil tulisan seorang saudara, kalau menurut Pak Anis Matta, dalam buku sebelum mengambil keputusan besar itu, Anis Matta mengatakan bahwa bahtera kita masuk zona badai di tahun ke 5 - 10, persiapkanlah secara matang di usia itu.

namun ada banyak pula psangan yang mampu melaluinya dengan baik, meski mereka berjalan dalam badai. badai yang kadang harus mereka hadapi bukan hanya dari pihak luar (ekonomi, kesehatan, anak, dsb), namun juga badai yang kadang diberikan oleh pasangan (kdrt, emosi yang labil, bahkan pihak ketiga).

saya menulis ini bukan karena saya mampu melalui hampir 6 tahun pernikah dengan mulus, bukan. sama sekali bukan.
kerikil-kerikil sudah banyak kami lewati, singkirkan, bahkan menusuk kaki-kaki kami selama perjalanan. bahkan tak jarang lubang besar menganga pun kami temui.
pernah terjatuh?
sering!

selama hampir 6 tahun pernikahan kami, kami melewati banyak adu argumen, beda pendapat, salah komunikasi, emosi tinggi, dan badai nestapa lainnya.
mengapakah badai nestapa? 
ya, disebut badai karena memang saat itu kami terkesan bahkan memang saling menyakitkan.
lalu kenapa nestapa?
siapa yang tidak nestapa melihat orang yang paling dikasihi, justru kita yang menyakiti?

pernah, dulu, ketika awal berumah tangga, dengan sombongnya saya menantang takdir...
"mana nih, katanya selama 5 tahun pernikahan akan banyak tantangan?"
dan akhirnya Allah menciptakan skenario indahnya yang kelak disodorkan pada saya.
dan itu membuat saya sangat kelabakan. jatuh, lalu mencoba bangun kembali. lalu kembali terjatuh, terkapar, pura-pura mati... untung ga mati beneran,,heheheh

yah, intinya ujian itu sangat indah dan memaksa saya yang sangat labil ini dan juga suami untuk belajar mendewasakan diri.
yup, ternyata trial error yang dilakukan oleh kami bukanlah sehari dua hari, sebulan dua bulan, namun bertahun-tahun.
meskipun Allah menghadiahkan masa pacaran (setelah menikah) bagi kami, selama 9-10 bulan, sebelum akhirnya saya mengandung, ternyata masa perkenalan itu memang belum cukup.
lantas, kapan cukupnya?
ya nggak akan pernah cukup. karena menikah adalah sebuah proses pembelajaran.
mengenal karakter manusia.

jujur, untuk kami yang menjalani usia pernikahan hampir 6 tahun, ternyata masih banyak ilmu pernikahan yang belum kami kuasai atau bahkan kami ketahui. dan sayangnya, memang belum ada sekolah atau kursus atau program persiapan untuk pernikahan/orang yang ingin menikah.

namun Allah, sebagai Sutradara terhebat, ternyata ga akan pernah memberikan peran sebelum artisnya mengikuti kelas akting dan lulus casting.
kerikil demi kerikil, jalan menurun maupun menanjak, lubang yang dangkal maupun yang dalam, hujan, badai, semua diberikannya. tujuannya apalagi kalau bukan untuk mendidik saya dan suami.
dan menjelang usia pernikahan ke-5, kekuatan badai dilipatgandakan berkali-kali lipat.
saya terhempas, mencoba berdiri, namun ternyata tak pernah saya temui bahwa diri saya sekuat karang...
sulit saya yakinkan diri sendiri bahwa kami bisa melewatinya.
sampai suatu ketika, saya dan suami sama-sama mengajukan keinginan kami untuk mengikuti sebuah workshop pernikahan.
saya mengajukan, begitupun dengan suami. subhanallah, ternyata kami mengajukan workshop yang sama. workshop pernikahan yang diadakan oleh pak indra noveldi.

cinta itu ibarat coklat, pahit-pahit manis...

workshop apakah?
workshop yang kami ikuti sebenarnya adalah sebuah workshop, menurut saya, mengenai ilmu dasar yang seharusnya dimiliki oleh setiap pasangan yang akan dan sudah menikah. lha kalau mau sukses dalam studi atau pekerjaan saja harus tahu ilmunya, apalagi ini, pernikahan, sebuah pekerjaan mulia seumur hidup yang kelak akan melahrkan generasi yang harus lebih baik dari kita sendiri.. *pasang head band, yosh...heheheh

jadi ternyata ada 5 hal yang harus dimiliki dalam kehidupan berumah tangga...
tujuan-->mindset yang tepat-->knowledge dan skill-->komitmen-->berserah

sebuah TUJUAN untuk sebuah niat baik
mengapa menikah harus memiliki tujuan?
coba saja bayangkan jika kita akan pergi berwisata namun tanpa tujuan. sampaikah keinginan kita berwisata? 
ya sampai dong,,, tapi ga tau sampai ke mana... heheheh
ketika ada yang mengajak ke dufan, kita hayuk aja ikut. ketika ada yang mengajak ke taman bunga, kita iya aja ngangguk. nah kalo ada yang ngajak ke hutan?
dan kalaupun kita akhirnya sampai di tempat2 wisata itu, lalu apa yang endak kita lakukan? apa yang hendak kita capai dari tempat wisata itu?
jangan sampai ketika kita sudah berada di dufan, kita justru sibuk mencari pemandangan air terjun yang indah.
atau ketika kita berada di gunung, kita lupa membawa jaket dan menghabiskan waktu dengan kedinginan alihalih menikmati pemandangan dan suasana sejuk pegunungan.
ya, sebuah tujuan. mari kita pikirkan, apa tujuan kita menikah, sudah tepatkah tujuan itu? sudah samakah dengan pasangan kita? atau malah kita belum memilikinya?

MINDSET yang tepat
mindset yang tepat pun harus kita miliki dalam menjalani pernikahan. memang ada mindset yang tidak tepat?
"sayang, terimalah aku apa adanya."
nah, itulah salah satu contoh mindset yang tidak tepat. 
kalau kita meminta pada pasangan kita untuk menerima kita apa adanya (iya kalau apa adanya kita adalah manusia baik, ramah, bermasa depan cerah, rajin, de es be. kalau kebalikannya?). lalu pasanganpun meminta kita juga untuk menerimanya apa adanya. lantas siapa yang akann menerima?
anak-anak kah?
dengan segala keterbatasan mereka?
mari perbaiki mindset kita, bahwa kita rela belajar untuk menjadi ada apa-apanya, bukan apa adanya.
bahwa kita rela menjadi lebih baik dan lebih rajin serta lebih bertanggung jawab dalam pernikahan ini (note for me!)

miliki KNOWLEDGE & SKILL yang dibutuhkan dalam pernikahan
jika kita akan melakukan presentasi saja harus tahu apa saja skill yang harus dimiliki, apalagi untuk menjalani kehidupan berumah tangga.
setidaknya kita harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik.
kita harus tahu bagaimana menyampaikan pendapat atau kritik pada pasangan kita.
dan sebelum memiliki kemampuan komunikasi yang baik, terlebih dulu kita harus mengenali siapa diri kita dan pasangan kita.
dengan mengetahui siapa diri kita, kta akan tahu kapan sepertinya kita butuh menenangkan diri, kapan kita bisa bersikap menyenangkan pada orang lain, dsb.
dan dengan mengenal pasangan kita, kita menjadi tahu apa yang dia suka dan tidak suka. dengan demikian akan lebih mudah menyelami hati dan pikirannya saat berkomunikasi dengannya, meskipun tentu saja kita ga selalu tepat bersikap di hadapannya.

KOMITMEN
dalam pekerjaan saja kita diminta untuk berkomitmen, apalagi dalam pernikahan...
seberapa penting komitmen dalam sebuah pernikahan?
menurut saya pribadi, sangat penting.
karena dengan komitmen, kita akan mampu melewati setiap badai yang kita temui. ah, berat bener bahasanya..tapi seriusan deh
nih ya, ketika kita sedang dilanda maslaah dengan pasangan. misalnya ribut kecil dan pasangan meminta kita untuk mengubah kebiasaan kita yang memang ternyata kurang baik.
jika kita tidak memiliki komitmen untuk terus berusaha menjaga pernikahan yang harmonis dan mau terus belajar dalam mewujudkan itu, tentu kritik yang baik itu akan terasa seperti sebuah tamparan keras nan tak berperikemanusiaan *haduh...kejam banget yak :D (note to myself!)
tapi yakinlah, kalau dengan kimtmen, seseorang akan bisa melampaui batas yang dia pikir ia ga akan sanggup untuk melewatinya.. (iya, kalimatnya agak susah, coba baca sekal lagi ya...)

dan ketika semua sudah dilakukan, BERSERAH adalah hal paling indah
setelah kita melakukan segala hal terbaik yang mampu kita usahakan dan kita berikan dalam mewujudkan rumah tangga yang harmonis dan diridhoi-Nya, tinggalah kita berserah pada Allah.
percaya kan, bahwa Allah ga pernah tidur?
maka yakinlah Ia akan memberikan hadiah yang indah atas kerja keras kita dalam mewujudkan yang terbaik dalam pernikahan ini. 
jadi jangan ragu untuk terus memberi, memberi, dan memberi... karena hanya Allah lah yang berhak memberikan balasan atas itu semua, tak perlu mengharapkannya dari pasangan kita. (lagi2, note untuk diriku sendiri...)
"Prayer is not an extra option...nor a last resource...when man works, he works... but when man prays, God works... and He will work for your best...!" (@noveldy)

dari workshop tersebut, banyak pembelajaran yang saya dapatkan, bahkan dari sharing yang para peserta tuturkan. bahwa saya dan suami ga pernah sendiri dalam menjalani pernikahan dan seluk beluknya.

bahwa pernikahan adalah sebuah hal yang patut diperjuangkan, meski itu artinya harus terjatuh, bangkit, kembali terjatuh, dan lantas bangkit menjalani semuanya hingga akhir hayat. karena itu pertanggungjawaban pada orang tua, anak-anak tercinta, dan juga Allah... (sebuah paragraf yang harus aku ukir di dalam pikiranku)

Sabtu, 14 Juli 2012

i'm shining because of u, darling

Ketika kulirik sekilas masa lalu 
Memancar pendar lemah di sana 
Bahkan kadang meredup, semakin meredup, dan akhirnya padam 
Meski akhirnya kembali memancar, ia belumlah bersinar 

Hingga di perjalanan ini Ia mempertemukan kita, 
Memilinkan benang hidupku dengan benang hidupmu 
Menyatukan yang dua hingga saling menjaga 
Mempertemukan yang terpisah untuk akhirnya bersama 

Ia mempertemukanmu denganku 
Mempertemukanku denganmu 
Karena Ia, Sang Maha Tau, 
Mengetahui bahwa aku membutuhkanmu 
Mengetahui bahwa kau membutuhkanku 
Mengetahui bahwa kaulah yg tbaik untukku 
Mengetahui bahwa akulah yg tbaik untukmu 

Dan nyatalah saat kulihat masa ini 
Ketika kebersamaan kita mengikat hampir 5 tahun waktu kita bersama 

Kebersamaan itu menjelmakan banyak gumpalan rasa 
Menyemaikan banyak sekali cinta 
Membisikkan banyak gempita asa 

Ya, kebersamaan itu membuatku nyata 
Pendar yg dulu temaram kini tlah menemukan sumber cahayanya... 

I'm shining because of u, darling 

Windy untuk buana

ayah, bunda, tolong ajari anakmu rasa malu...


Baru kemarin saya pulang dari Cibodas, menemani suami tercinta dalam acara bimbel. subhanallah pemandangan di taman cibodas, salah satu karya Allah yang patut disyukuri dan tentu saja tidak boleh dilewatkan dengan sia-sia.
sungai yang mengalir jernih, gemericik air, suara burung-burung, pepohonan hijau nan mempesona...
subhanallah, indah..
ketika sedang asyik menikmati keindahan taman cibodas, saya melihat sebuah pemandangan yang membuat saya cukup mengelus dada.
seorang ibu sedang menyuruh anaknya buang air kecil di pinggir jalan...
oke, tidak usah dibayangkan anak perempuan atau laki-laki dan dengan posisi seperti apa...

sebagai orang tua, setidaknya manusia yang berpikiran cukup rasional, tentu hal ini menjadi sebuah pemandangan yang tidak mengasyikan, bukan begitu?

saya melihat hal ini dari beberapa sisi,

pertama dari sisi kebersihan..
duhai ibu yang cantik, bukankah ibu tahu, bahwa kebersihan adalah pangkal kesehatan? atau ingatkah kalimat ini: kebersihan sebagian dari iman.
sekarang, coba tolong jelaskan pada saya, secara logis, di mana letak kebersihan yang coba ibu ajarkan?
karena, bahkan, setelah buang air kecil, sang ibu tidak membersikan anaknya dengan air, melainkan hanya dengan selembar tisu. jadi jangan bayangkan sang ibu akan mengguyur air seni anaknya dan membuang kuman-kuman yang berada di dlamnya, karena bahkan untuk kebersihan organ genital anaknya saja ia tidak peduli.
dan apakah najis yang terkandung dari air seni itu bisa dijamin tidak menempel pada orang lain yang mungkin tidak tahu bahwa anak tersebut buang air kecil di situ. lalu kalau menempel pada orang lain, lalu orang itu sholat..

kedua dari sisi kesehatan...
bukankah sudah kita ketahui, bahwa air seni mengandung kotoran/zat-zat yang tidak diperlukan oleh tubuh? dan tidak membersihkan organ genital ternyata bisa menyebabkan penyakit infeksi saluran kemih.
lalu, membersihkannya hanya dengan tisu, apakah efektif? apakah yakin bahwa sisa air seni tidak menempel di organ genital anaknya?
bukan maksud saya untuk terlalu ekstrim, namun perhatikan ketika nanti ia mengalami gatal-gatal di area organ genitalnya, tanyakan pada dokter, apakah ada hubungannya dengan kurang bersihnya saat membilas setelah buang air.

ketiga dari sisi kesopanan...
dan ini yang saya ingin tekankan sekali.
dengan sedikit memakai sudut pandang agama saya, Islam.

عَنْ أَبِي مَسْعُوْدٍ عُقْبَةَ بِنْ عَمْرٍو الأَنْصَارِي الْبَدْرِي رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى، إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
[رواه البخاري ]

Terjemah hadits /     ترجمة الحديث :
Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al Anshary Al Badry radhiallahuanhu dia berkata: Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya ungkapan yang telah dikenal orang-orang dari ucapan nabi-nabi terdahulu adalah :  Jika engkau tidak malu perbuatlah apa yang engkau suka
(Riwayat Bukhori)

saat itu saya melihat, sang ibu sedang tidak mengajarkan anaknya untuk bersikap atau memelihara rasa malu. mengapa?
membuka celananya di depan umum bahkan buang air kecil bukan di toilet, apakah itu menunjukkan rasa malu?
duhai ibu, anakmu sedang memperlihatkan auratnya.
cobalah untuk mengajarinya dengan sabar dan konsisten pentingnya menutup aurat.
maka jangan salahkan jika kelak ia tidak akan malu lagi mengenakan pakaian mini, atau mengumbar auratnya kepada lawan jenis, atau yang lebih ekstrim adalah berfoto tanpa busana.

no! saya bukan sedang terlalu berlebihan, ibu sayang.
saya hanya sedang mencoba mengajak anda kembali mengingat bahwa apa yang anda ajarkan, apa yang anda perlihatkan, apa yang anda suruh pada anak anda ketika kecil, merupakan bekal atau landasan ia berpikir dan bertindak di waktu dewasa.

dan manakala ia tidak diajarkan untuk bersikap malu dengan menjaga auratnya, maka jangan salahkan bahwa ia akan memberikan toleransi pada nafsunya untuk mengumbar aurat bukan pada tempatnya.

rasa malu dapat dibentuk, ibu dan ayah sayang. dengan menjaga rasa malu maka kita juga mengajarkan anak kita sikap 'iffah (menjaga diri dari perbuatan tercela).

dengan bekal malu yang cukup, ia akan senantiasa berpikir sebelum bertindak. dengan begitu, anak akan menjadi manusia bijak yang tidak hanya berorientasi pada sudut pandangnya saja, tapi juga melihat sudut pandang lain dan mempertimbangkan segala sesuatunya.

ah, ya, note kali ini terkesan menggurui ya? maafkan saya..
saya hanya menyampaikan kegundahan hati saya mengenai apa  yang saya lihat lusa kemarin. yang mungkin bagi sebagian orang adalah hal yang biasa saja, namun ternyata tidak untuk saya.

mohon maaf lahir dan batin
semoga kita bisa terus saling mengingatkan dan memperbaiki diri.
nur az, jakarta, 15072012, 02:46



Senin, 27 Februari 2012

Tolong Logis Meskipun Hanya Sedikiiit Saja saat Berbicara dengan Anak

Bismillah...

Suatu hari, ketika saya pergi ke sebuah mall di bilangan Jakarta, saya melihat seorang ibu sedang berbicara dengan anaknya. Lebih tepatnya membujuk.
Rupanya sang anak tidak mau makan siang.
Berbagai cara dilakukan oleh sang ibu. Dari mulai membuat suara2 seperti kapal terbang agar anaknya mau membuka mulut dan memakan makanannya. Memberikan makanan yang disukai anaknya. Sampai akhirnya keluarlah kalimat: "kalau ga mau makan, mama tinggal di sini kamu! Mau?!"

Masyaallah... Yakin, bu?

Ada lagi, di sebuah kesempatan. Saat sedang mengantar Ernst imunisasi. Ada seorang ayah yang sedang mengawasi anak tertuanya (berumur sekitar 5-6 thn), sedangkan istrinya sedang menjaga anak keduanya di dalam ruang tunggu.
Saat itu sang anak pertama tidak mau berhenti bermain seluncuran/perosotan di playground rumah sakit. Sedangkan sang ayah sedang sibuk dengan i-pad-nya.
Mungkin maksud sang ayah, ia ingin agar anaknya berhenti bermain agar ia bisa lebih leluasa atau lebih tenang agar ia bisa lebih fokus dengan i-padnya.
Namun sang anak yang sedang asyik bermain tidak mau berhenti sesuai dengan perintah ayahnya.
Akhirnya ayahnya berkata, "ya udah, kalau kamu nggak mau berhenti bermain, nanti kamu ikut masuk sama ade, biar disuntik sama dokter!"

Ya ampun, yakin, Pak, dokter mau nyuntik anak bapak begitu saja. Tanpa alasan. Dan sedang tidak sakit? Hm...

Teringat akan dua buku dan juga sebuah pelatihan bagi orang tua dan guru, saya hanya cukup menggelengkan kepala mendengarnya.

Mengapa?

Karena menurut saya, kalimat2 bernada ancaman yang terlontar dari para orang tua itu bukanlah kalimat yang baik yang bisa diserap oleh anak. Dan yang lebih buruknya: kalimat mereka TIDAK LOGIS!

Mengapa kita harus logis dalam berbicara dengan anak, bahkan ketika kita kesal kepada mereka karena tidak menuruti perkataan kita?

Ada beberapa hal yang harus diketahui oleh kita sebagai orang tua.

1. Setiap anak adalah anak yang cerdas dan mudah mengingat namun sulit melupakan.
Lalu bagaimana lah jika saat kita berkata-kata tak logis ('mengancam' akan meninggalkan anak di suatu tempat, misalnya) lalu kita sebagai orang tua tidak membuktikannya karena hal itu tak logis, maka anak akan menganggap orang tuanya sebagai PEMBOHONG!
Coba saja, siapa yang tega meninggalkan anaknya di mall meskipun anaknya sangat bandel? (Kecuali orang tua yang berhati iblis)
Bayangkan, ketika anak diberitahu bahwa orang tuanya akan meninggalkannya di mall ketika tidak mau makan, lalu ternyata anaknya tetap tidak mau makan. Apa yang harus orang tua lakukan? Benar-benar meninggalkannya di mall, demi konsistensi kata2nya, agar tidak dibilang berbohong pada anak?
Kalimat itu justru akan menjadi simalakama bagi orang tua tersebut. Jika direalisasikan, maka dia akan kehilangan anaknya. Jika tidak direalisasikan, ia akan dianggap sebagai orang tua pembohong. Dan dampaknya akan merembet pada hal lain yaitu meremehkan kata2 orang tuanya. Biar saja saya tidak usah menuruti perkataan ibu, toh ibu tak akan merealisasikan 'ancamannya'.
Nah lho, kalau sudah begini, bagaimana?

2. Kata-kata orang tua, adalah sebuah prasasti bagi anak.
Yup, orang tua adalah dunianya anak-anak. Dari orang tua lah anak pertama kali belajar tentang semua hal, tentang lingkungannya, tentang dirinya.
Entah benar, entah bohong, anak akan percaya pada orang tuanya.
Lantas, bagaimana jika orang tua mengeluarkan kalimat2 tidak logis hanya karena tidak mau repot untuk berbicara panjang lebar agar anak percaya dan lebih cerdas? Dampaknya, anak akan menjadi manusia yang tumbuh dengan aturan2 yang tidak logis, mereka akan menjadi manusia yang hidup dan mengerjakan sesuatu bukan berdasarkan ilmu. Hal ini hanya karena kata-kata tidak logis yang sempat terlontar dari orang tuanya dan itu akan terekam seumur hidupnya (jika terus diulang-ulang).
Bunda, ayah, ingatan seorang anak akan suatu hal itu akan bertahan di alam bawah sadarnya sampai 5 tahun. Dan jika terus menerus diingatkan maka akan terus terekam di otaknya.
Ingin menghapusnya? Jangan pernah sedikitpun melakukan dan mengingatkan anak akan hal tersebut.


3. Tauladan yang baik bagi anak adalah orang tuanya.
Ya, karena anak adalah tipe pembelajar yang unggul, tipe peniru ulung, maka tanpa disadari semua tindakan dan perkataan orang tuanya akan ditiru oleh anak, meski tidak langsung.
Coba saja, jika orang tua selalu mengucapkan salam ketika hendak masuk rumah, anak akan otomatis menirunya.
Nah, bagaimana jika anak terbiasa dengan kalimat2 tidak logis dari orang tuanya? Jangan salahkan mereka jika kelak mereka akan melakukan hal-hal tidak baik akibat logikanya tak terasah dengan baik.


Nah, bukankah akan lebih indah jika kita sampaikan saja yang sebenarnya. Yang logis. Yang ilmiah. Sehingga anak jadi mengerti manfaat dari hal-hal yang dianjurkan oleh orang tuanya sekaligus menjadi sarana pembelajaran untuk mereka.
Contoh: ayo nak, makan dulu. Tahu tidak, kenapa kita perlu makan? Karena tubuh kita perlu nutrisi, perlu tenaga untuk menggerakan tangan, kaki, mata, mulut dan semua anggota tubuh kita. Lalu kalau tidak makan, maka tidak ada nutrisi yang masuk. Tubuh tidak punya tenaga. Nanti badan kita lama kelamaan bisa lemas, perut bisa sakit, bahkan bisa demam karena tubuh terus dipaksa bergerak, tapi tidak ada tenaga yang masuk untuk menggerakkannya.

Masih merasa repot? Tenang bunda, ayah, kita semua akan bisa melakukannya jika kita MAU.
Berikan yang terbaik untuk anak kita, dalam segala hal, meski itu hanya sebuah kalimat sederhana.

Yuk, kita terus belajar bersama.

Mohon maaf lahir dan batin.

-windy.buana-
Bermanfaat untuk sesama
280212, 12:00