Selasa, 28 Juni 2016

Menata Hati

(lanjutan dari sini: Ketika Saya Harus Menerima

Sebagai seorang wanita, istri, yang normal, saya masih berusaha mempertahankan keutuhan rumah tangga saya. Saya masih mencoba berbicara pada ayahnya anak-anak, berdiskusi, mengajaknya berpikir ulang mengenai keinginannya. Bahwa masih banyak mimpi2 kami yang belumlah terwujud, yang belum kami hamparkan dalam bait-bait rencana kehidupan, bahkan. Namun seperti kuda yang memakai kaca mata, ia bergeming,  menatap lurus ke depan: rencana poligaminya.

Feeling lagi-lagi bermain, dasar wanita..
ya, perasaan saya tidak mengizinkan ini terjadi begitu saja. Saya rasa, jikalau memang fase kehidupan seperti ini yang harus saya jalani, saya tidak ingin main-main. Saya ingin poligami yang benar, sesuai syariat: mengandung keberkahan. Meski saat itu jujur saja saya masih sangat tidak ingin ini terjadi.
Bersembunyi dalam alasan klise, 'wanita mana sih yang mau dimadu?'

Saya masih saja terus menangis. Sejuta pertanyaan berputar-putar di dalam pikiran saya: apa kurangnya saya, kenapa saya yang harus mendapat ujian ini, apa salah saya, kenapa harus keluarga kami, kenapa harus suami saya yang meminta poligami, apa yang tidak saya miliki, dan apa-apa lainnya terus saja terlontar seperti tak ada habisnya. Dan itu menguras emosi dan tenaga saya.

Selama beberapa hari saya mencoba untuk mengajaknya berbicara hati ke hati. Memohon padanya untuk tidak melanjutkan niatan poligaminya. namun kembali ia bergeming. ia berkata bahwa niat poligaminya mulia, menolong seorang janda beranak dua yang anak-anaknya ditelantarkan oleh ayah kandungnya, yang anaknya ada yang salah satunya berkebutuhan khusus, yang dia ingin sekali dipandang mulia di hadapan Allah.

semua seperti ada jawabannya:
menolong janda yang bagaimana? toh janda ini kaya raya, pengusaha apotik, bidan di salah satu puskesmas di sumedang, punya praktek bidan sendiri, dosen pula, ditolong di bagian mana? kalaupun memang ingin menolongnya mencarikan imam, kenapa tidak mencarikan pria lain yang available, yang single. memang setidaklaku itukah si janda ini sampai harus menjadikan suami orang sebagai imamnya?
anak-anaknya ditelantarkan oleh ayah kandungnya? masa iya? sevalid apa informasi itu? sudah ditelusuri sampai sejauh apa hingga berani mengambil kesimpulan seperti ini? sudah pernah bertemu ayahnya langsung dan berdiskusi mengapa ia 'menelantarkan' anak-anaknya? jangan-jangan ini hanya katanya saja. as we know, orang berpisah memang memiliki kisah yang akan berbeda bila diceritakan: versi mantan istri dan mantan suami. maka kenapa tidak validasi dulu?
mengasuh anak kebutuhan khusus agar dinilai mulia di mata Allah? tidak ada yang salah sama sekali, niat mulia. namun mengapa tidak dimulai dari anak sendiri dulu? memberikan waktu lebih banyak untuk anak-anak alih-alih sibuk organisasi sampai weekend pun sering sekali tak ada di rumah? sampai pulang pun selalu larut malam? sampai anak tidak ada yang mengajak muroja'ah hafalan-hafalan al qur'annya? bagaimanalah bisa dengan baik dan amanah mengasuh anak orang lain sementara anak sendiri masih sering meminta haknya, dan ia sendiri meminta bantuan saya untuk ikut mengasuh anak spesial itu dengan alasan saya jauhlebih mengerti tentang parenting dibandingkan dirinya dan si calon istrinya nanti. lho, maksudnya saya harus apa? menjadi baby sitternya atau gimana? maaf saya sangat susah berbaik sangka saat kaliamat terakhir itu terucap dari mulutnya.

semua masih berputar tak karuan. membuat saya dan juga ia lelah, sangat lelah. anak-anak terlunta-lunta. ia selalu meminta waktu saya untuk berdiskusi empat mata dengannya. sementara anak-anak dia titipkan pada ibu dan bapak saya.
kami berkeliling ke ustadz dan ustadzah serta orang-orang yang mengerti dan menjalani poligami. banyak seklai pemikiran saat itu.
saya sendiri tak kuat saat itu hingga sempat ingin mengakhiri hidup dengan meminum banyak sekali obat, hingga keracunan obat-obatan, semoga Allah mengampuni saya. sungguh, itu adalah kejahiliyahan saya, astaghfirullah...

sang imam tetap bergeming. mengatakan saya bukan makmum yang taat jika saya tak mengizinkannya berpoligami.
saya meradang. ya, lelaki adalah pemimpin dalam rumah tangga, namun bukankah diskusi juga diperbolehkan?
namun pendapatnya, jika mengalami jalan buntu dari diskusi tersebut, maka imam memiliki hak prerogatif untuk memutuskan meski sepihak.
saya tahu saya masih punya hak, hak sebagai seorang wanita dalam rumah tangga: khuluk.

(selanjutnya Perjalanan Mencari Arti Poligami)

Jumat, 24 Juni 2016

Ketika Saya Harus Menerima

sebetulnya saya tidak tahu apa yang hendak saya katakan dalam postingan kali ini. otak saya penuh dengan berbagai hal yang berputar dan sepertinya harus dikeluarkan. tentang rangkaian ujian selama 4 bulan ini.
rangkaian jalan hidup yang benar-benar ekstrim, up and down. seperti roller coaster hidup saya selama 4 bulan ini. kadang berlari cepat ke atas, kemudian menukik tajam ke bawah. kalau bukan karena pertolongan Allah, mungkin saya sudah tidak akan bisa menuliskan apapun di blog ini lagi. mungkin saya sudah entah di mana, paling baik, nasib saya berakhir di panti rehabilitasi kejiwaan.

saya rasa saya tidak sedang berlebihan manakala saya menuliskan kalimat terakhir saya. saya memang sempat di ambang batas antara kewarasan dan kegilaan. bukan sekadar kata 'gila' seperti apa yang biasa digunakan oleh orang-orang untuk menyebutkan 'seru' atau 'menarik' atau 'keren'. tapi kegilaan di sini memang benar-benar leterlijk alias secara arti benar-benar gila, tidak waras.

awal januari tahun 2016 ini saya masih menjadi seorang istri dan ibu yang bahagia. dengan seorang suami yang baik, memanjakan, perhatian. ya, kehidupan rumah tangga kami memang tidak mulus. ujian dan cobaan datang silih berganti. namun semuanya selalu terlewati dan kami kembali bersama sebagai sebuah keluarga yang utuh.
meski seperti ada bekas-bekas luka, namun sepertinya masih sewajarnya. bukan, bukan maksud saya mewajarkan 'luka-luka' yang terjadi dalam rumah tangga saya. yang saya wajarkan adalah, dalam hidup ini tidak semua berjalan mulus sesuai kemauan kita dan rencana2 kita. maka saya bilang adalah sebuah kewajaran bagi saya mendapatkan luka di dalam rumah tangga saya.
dan ya, januari tahun ini saya dan ayahnya anak-anak masih berpasangan sebagai suami istri yang awet rajet kalau kata orang sunda. tapi kami tahu bahwa kami saling membutuhkan satu sama lain dan saling nyaman, setidaknya dua hal itu yang selalu ayahnya anak-anak katakan pada saya secara sadar.

dua hari menjelang anniversary kami yang ke-9 tahun, saya semakin kuat melihat sesuatu yang tidak biasa pada hubungan kami, pada ayahnya anak-anak.
saya mengenalnya sudah cukup lama. meski saya tidak terlalu baik bersikap dan menyikapi, tapi saya hafal seperti apa suami saya saat itu. dan saya menangkap bahwa ada sesuatu yang sebetulnya hendak ia sampaikan namun masih ragu.
tengah malam, di sebuah villa di jogja, ketika kami sedang berlibur sekeluarga, saya mengajaknya berbicara empat mata. dan ya, feeling saya benar. jangan pernah meremehkan feeling seorang wanita, karena feeling mereka yang kuat sebagian besar adalah bentuk penjagaan Tuhan untuk pasangan dan anak-anak mereka :)

saat itu ayahnya anak-anak bercerita bahwa ia tengah dekat dengan seseorang dan ingin menjadikannya lebih. menjadi bagian dari keluarga kami.
saya tidak akan keberatan manakala seseorang itu adalah seorang anak yatim piatu, yang ayahnya anak-anak tergerak untuk membiayai, misalnya.
namun tidak. seseorang ini adalah rekannya di sebuah organisasi para pengusaha muda. seorang wanita, pengusaha, pns, pengajar.

bumi berputar tiba-tiba. saya menangis sejadi-jadinya.
Rabb, apalagi yang Engkau berikan ini? tidak cukupkah semua drama selama ini?
masih kurangkah saya dan ia melewati segala uji selama 5 tahun terakhir ini?
dengan orang-orang yang berbeda? dengan reaksi yang berbeda? dengan kisah yang berbeda? dengan keluarga yang berbeda-beda?

saya limbung. hati saya mencelos. saya berharap itu hanya mimpi, di mana ketika saya memejamkan mata dan kelak membukanya kembali, saya sudah kembali berada di rumah kami yang nyaman dengan dia sebagi suami saya yang seperti biasanya dan ada tawa ketiga anak saya, seperti biasanya.
namun saya akhirnya menyadari bahwa ini bukan mimpi. saya sadar ketika saya melihat anak-anak yang tertidur pulas dengan erut yang naik turun karena dengkuran lembut nafas mereka. saya sadar ini bukan mimpi ketika saya merasakan hangatnya tetesan-tetesan air mata saya. saya sadar ssepenuhnya bahwa saya berada di dunia nyata ketika saya mengambil wudhu di kamar mandi, airnya dingin menyentuh kulit saya. dan yang akhirnya paling saya sadari adalah luka hati saya.

malam itu saya habiskan dengan bertemankan air mata hingga pagi. ya, saya tidak terpejam sama sekali saat itu. saya seperti orang yang baru kena hipnotis: bergerak tanpa sadar dan kontrol diri. saat itu yang mengontrol diri saya adalah kesedihan saya.

(next: Menata Hati)

Selasa, 12 April 2016

Ketika Kau hendak Poligami, Duhai Para Imam

Sungguh saya bukan seseorang yang mumpuni dalam bidang ini. saya hanya seorang wanita yang mencoba melihat poligami dari sudut pandang wanita, terkhusus istri pertama.

Saya sedang tak hendak mengingkari poligami. karena pada akhirnya saya menyadari bahwa di balik semua aturan Allah, tersembunyi (bahkan memang terang sekali) kebaikan-kebaikan yang ada. Meski kadang kita tak bisa langsung memahami dan menyadarinya.

Awalnya saya adalah seorang istri yang mengimani poligami karena memang diperbolehkan dalam Islam, namun saya tetap tak mau dipoligami. hingga akhirnya jalan Allah membawa saya pada sebuah ujian di mana mata dan hati saya terbuka untuk sebuah hal yang sangat ditakuti para wanita (menikah maupun belum) yaitu: poligami.

Dalam masa itu, saya banyak sekali berdiskusi tentang poligami dengan berbagai macam orang dengan berbagai macam latar belakang. mulai dari ustadz, ustadzah, lelaki yang berpoligami, anak-anak dari keluarga poligami, bahkan para wanita yang menjalani poligami di dalam hidupnya.
Dari banyak sekali diskusi itu, pikiran saya teraduk-aduk jadi satu. terhenyak, terhentak, sadar, miris, ah benar-benar campur aduk. Dan dengan semua pengalaman saya sebelumnya, saya bisa mengambil banyak sekali pelajaran dari semua hal ini.

Untuk para suami, mengertilah, poligami bagi kebanyakan wanita adalah hal yang sangat ditakuti atau paling tidak sangat mereka hindari dari kehidupan rumah tangga mereka. maka ketika kalian hendak menikah lagi, ingin berpoligami, mohon renungkan hal ini...
Apa yang akan dipikirkan dan terjadi oleh istri saya ketika saya memutuskan ingin berpoligami?
ketika kalian meminta istri untuk berlapang dada menerima keputusan kalian, apakah kalian juga mampu berlapang dada menjaga perasaan istri kalian saat pra, proses, dan polgami dijalankan? dan itu bukan sehari dua hari, namun seumur hidup. karena poligami kalian bukan cuma sehari dua hari kan?

jika kalian benar-benar sudah matang memutuskan berpoligami, saran saya:
1. kondisikan istri dan anak-anak dengan baik. dengan cara yang baik. dengan niat yang baik. didik istri dan anak-anak untuk memahami kenapa perlu memperluas tim di keluarga kalian. mau dibawa ke mana tim ini nantinya?
2. setelah itu, ajak istri untuk sama-sama menilai dan mempelajari siapakah wanita yang kelak menjadi orang kepercayaannya untuk sama-sama mengurus sang imam dan berbagi tugas dalam tim besar nanti. gali potensi yang bisa bikin istri dan calon partnernya nanti agar bisa ada chemistry dan klik di antara mereka. seorang imam yang baik tidak hanya mendahulukan diri dan egonya, apalagi syahwatnya, dia akan lebih mendahulukan kesejahteraan anggota keluarganya terutama istrinya dan yang pasti mendahulukan keberkahan yang ada dalam keluarga.
3. setelah istri bisa menerima dan terbuka, ajak bersilaturahim dengan calon partnernya. agar mereka saling mengenal, agar bisa saling memahami. biarkan mereka berdua duduk bersama untuk berbincang antar wanita. karena saat itu, lelaki tak akan memahami situasi yang ada, percayalah.
4. jangan bebankan istri dengan tetek bengek urusan administrasi. kalian yang mau menikah, maka kalianlah yang patut repot dengan semua masalah administrasi. bukankah istri sudah cukup lelah mengelola hatinya? bukankah kelak ia juga akan dipanggil ke pengadilan untuk bersaksi bahwa ia memang ikhlas menerima poligami sang suami? bukankah itu sudah sangat besar pengorbanannya? sudah cukup menyita hatinya dengan gundah gulana.. :)
5. bersikaplah adil pada keduanya. kantor pusat alias istri pertama butuh pendampingan dalam mengatasi luka hati yang pasti terjadi. ia butuh kehadiran suaminya untuk memastikan bahwa ia memang tak tergantikan oleh siapapun. bersikap, berempati, dan memang perlihatkanlah bahwa ia memang memiliki tempat khusus di dalam hati suaminya, dan tempat itu tak akan bisa digantikan oleh siapapun.
dan untuk kantor cabag alias istri kedua. didiklah dengan baik untuk bisa bersikap di dalam keluarga. bahwa mungkin ia akan menghadapi beberapa hal yang tak mengenakannya, bahwa ia harus siap dengan segala macam gelombang yang mungkin ada di awal. namun yakinkan bahwa suami tetap ada untuknya melewati masa-masa itu. didiklah ia untuk menghormati dan menyayangi istri pertama, karena istri pertama sudah mau memberikan sebagian kenikmatannya untuk ikut dinikmati oleh wanita lain.
6. tetap jaga keberkahan pernikahan dengan tidak berkhalwat dengan calon istri kedua (baik di ruang publik maupun prbadi seperti media sosial) sebelum kalian menikahi wanita kedua. pun untuk wanita calon istri kedua, jagalah sikap dan harga dirimu untuk tidak mengizinkan lelaki yang bukan mahrommu membawamu ke mana ia suka, apa bedanya kau dengan wanita penggoda jika kau mengizinkan lelaki yang bukan mahrom itu bertindak sesukanya atasmu?
7. khusus untuk suami: berusalah dalam pekerjaan dengan jauh lebih tekun, agar dapur di dalam keluarga besar ini tetap mengebul, jangan sampai apa yang biasa dinikmati oleh keluarga sebelumnya jadi berkurang dengan hal ini, karena sejatinya poligami menyejahterakan semua, bukan salah satu atau dua orang.
perbaiki hubungan dengan Allah terus menerus, karena seorang suami yang tidak adil sangat dekat dengan neraka. mohonlah bimbingan dalam mendidik para istri dan anak-anak agar bisa menjadi pemberat amalan baik di yaumil akhir.

sekadar sharing. agar bisa tergambar dengan lebih baik dan jelas bagaimana sebetulnya hidup berpoligami. jangan hanya bisa melihat nikmatnya saja, namun terlupa amanah yang sangat besar dan dahsyat di depan sana.

sekali lagi ini bukan tentang agama, namun hanya berdasarkan sudut pandang seorang wanita. saya tak membenci poligami, namun sungguh mulia jika seorang suami bisa memuliakan istrinya dalam berbagai hal termasuk permasalahan ini.

Rabu, 22 Juli 2015

Syurga Yang Tak Dirindukan: sebuah fenomena poligami masyarakat indonesia (opini)


                                     
                                                 Poster film Syurga Yang Tak Dirindukan

Sejak seminggu yang lalu film Syurga Yang Tak Dirindukan tayang di bioskop2 di indonesia. Film yang diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Asma Nadia ini mengambil tema yang memang bisa dibilang sedang trend dalam beberapa tahun belakangan ini: poligami.

Sebetulnya sudah lama sekali saya baca novelnya, awalnya berjudul Istana Kedua. Pertama kali membaca saya langsung merasa sesak. Asma Nadia sangat jenius mengaduk-aduk emosi saya. Dan ketika saya menanyakan pendapat teman-teman saya yang saya paksa membacanya juga, mereka juga merasakan hal yang sama. Bahkan ada yang benar-benar tidak mau lagi menyentuh buku itu saking gemasnya :D



                                                Cover novel Syurga Yang Tak Dirindukan


Cover dan Judul Novel Awal



Dalam novel aslinya, saya lupa-lupa ingat karena membacanya pada kisaran 2007 awal dan hanya berani baca sekali, dikisahkan mengenai kehidupan pernikahan Arini dan Pras.
Arini yang enerjik, ceria, penyayang, dan sangat percaya dengan kisah pernikahan romantis memiliki seorang suami yang sangat sempurna di matanya. Kisah pertemuan mereka bagi Arini bagaikan kisah-kisah dalam dongeng dan selama bertahun-tahun pernikahan mereka, Arini yang manja memang sangat dimanjakan oleh Pras. Arini seperti menemukan pangeran yang selama ini ia nanti. Semua berjalan sempurna, pernikahannya, hubungannya dengan Pras, anak mereka yang membanggakan, dan kehidupan rumah tangga yang hampir tak pernah mengalami ujian berat seperti masalah ekonomi dan sebagainya.

Hingga suatu kali Pras mendapat email dari seorang wanita yang sedang mencari suami--tak perlu menafkahi lahir dan batin, yg penting mau menikahinya. Pras merasa itu email spam saja karena rekan kerjanya yang lain pun menerimanya. Seiring berjalannya waktu, email itu terlupakan begitu saja. Hingga pada suatu hari Pras melihat sebuag mobil yang kecelakaan. Ia berinisiatif menolong pengemudi mobil tersebut yang ternyata adalah seorang wanita yang sedang hamil. Pras membawanya ke rumah sakit, menemaninya hingga beberapa hari ke depan pun pras setia menjenguk wanita yang bernama Meirose yang ternyata adalah pengirim email spam tempo hari.
Melalui Pras, Meirose menemukan ketenangan setelah sekian lama hidup dalam berbagai cobaan yang membuatnya nekad berusaha mengakhiri hidup.

Di sisi lain, Arini tetap setia dengan semua dongeng2 indah pernikahannya. Dengan setia ia selalu melayani suaminya, mendidik anak-anak, merawat rumah. Hingga suatu hari ia mendapat telpon dari kantor suaminya yang menanyakan kabar anak mereka yang katanya sakit. Arini bingung, karena anak mereka memang tak sedang sakit belakangan ini apalagi sampai dirawat seperti yang dikatakan orang kantor suaminya. Dari situ Arini mulai menduga ada sesuatu yang tak benar dari dongeng pernikahannya. Sejak itu ia mulai mengumpulkan berbagai bukti. Dan tanpa sengaja (kalau tak salah) pada suatu pagi Arini melihat sosok yang mirip sekali dengan suaminya. Namun menggendong anak lain yang bukan anak mereka, dan menggandeng wanita lain, bahkan tak canggung memeluk dan menciumnya--suatu hal yang tak mungkin dilakukan oleh Pras dengan alasan malu pada orang lain.
Arini semakin yakin bahwa Pras menyembunyikan sesuatu. Dengan caranya, akhirnya ia mendapatkan alamat rumah wanita yang dikira orang adalah dirinya--istri Pras.

Semenjak semua terkuak, Arini yang sedih, kecewa, hancur, terluka, sangat bimbang dengan segalanya tentang pernikahan mereka. Ia mulai menjadi sosok Arini yang lain. Ia melayani suaminya dengan perasaan muak bahkan jijik. Dan kekecewaan serta kesedihan terbesarnya adalah ketika anak mereka sakit. Pras yang mengaku keluar kota tak bisa dihubungi ketika anak mereka terus memanggil-manggil Pras di dalam sakitnya. Arini yang tak percaya Pras dinas luar kota, akhirnya memutuskan untuk mencari Pras di rumah Meirose. Dan benarlah, Pras memang berada di sana. Sedang bercengkrama bersama seorang anak kecil. Arini nekad menemui Pras, bahkan meminta Pras untuk memilih di antara Meirose atau dirinya. Pras tak memberi jawaban, namun juga tak mengejar Arini yang akhirnya berlalu dengan hati perih dari rumah Meirose sementara Meirose menggelayut manja di bahu Pras.

Itu versi novel asli yang saya baca beberapa tahun silam. Namun menurut teman yang sudah menonton dan sempat membacanya, ada perbedaan di bagian akhir cerita. Saya sendiri belum tahu karena belum--lebih tepatnya tak mau--menonton filmnya.


Novel awal sebelum berganti cover dan judul





Kisah tentang poligami memang sepertinya tak pernah habis untuk dikupas dari segala sisi dan memang selalu menjadi pembicaraan hangat bahkan panas antara pria dan wanita.
Dalam kisah Arini, Pras, dan Meirose saya melihat adanya sebuah keputusan poligami yang tanpa landasan kuat dan kesadaran yang akhirnya diambil oleh Pras.
Pras sendiri diceritakan sebagai anak yang besar dalam keluarga dengan ayah yang berpoligami. Namun sikap sang ayah sangat tidak adil bahkan cenderung tak baik hingga membuat Pras bertekad untuk tak akan melakukan poligami kelak ketika menikah. Namun kebencian yang berada di alam bawah sadar justru menjelma menjadi sebuah pribadi di dalam diri Pras hingga membawa dalam keputusan poligami yang tak adil hingga melahirkan kehidupan seperti halnya kehidupannya dahulu yang kali ini menimpa anak dan istrinya.

Sungguh sebetulnya saya tak rela jika poligami dalam Islam sendiri dilihat sebagai sesuatu yang tak baik bahkan cenderung buruk.
Selama ini poligami yang ada di masyarakat memang dilhat sebagai momok, sesuatu yang salah bahkan menakutkan. Hal itu saya pahami karena niat dan cara poligami yang tak tepat. Bagaimanalah akan baik niatan dan caranya apabila tak ada ilmu di dalamnya.
Belum lagi istri dan keluarga pertama dipersiapkan dengan ilmu tentang poligami, bahkan diri sendiri belum mumpuni bagaimana adab-adab yang baik dalam rumah tangga, biasanya laki-laki sudah langsung mencari wanita lain bahkan sudah langsung menikahinya dengan alasan takut zina. Padahal jika kahwatir berzina akan lebih baik menahan pandangan dan langsung mencari istrinya saja yang sudah jelas dihalalkan untuknya.
Namun Islam mengatur segala hal bahkan sampai bagian terkecil dalam hidup. Pun dalam poligami. Bukan hanya diatur, namun juga telah dicontohkan melalui Rasulullah langsung bagaimana kehidupan poligami yang ideal, bagaimana berlaku baik pada istri, bagaimana berlaku adil dalam tataran manusia, bagaiman adab-adab suami dan istri. Penuh ilmu dan indah.

Hal yang akhirnya coba saya pahami dari kisah novel dan film Syurga Yang Tak Dirindukan adalah:
1. bahwa segala sesuatu haruslah berilmu, seperti yang dikatakan oleh Rasul, berilmu baru beramal.
2. Menjaga pandangan tetap jauh lebih baik dan utama bagi siapa saja meski ia sudah menikah. Ambil kisah Pras yang menolong Meirose, tak ada salahnya jika saja sampai pada tahap membawa ke rumah sakit dan mengurusi biaya. Akan sesuai adab jika selanjutnya Arini disertakan oleh Pras dalam mengurus Meirose. Arini yang mengunjungi Meirose dan menghiburnya. Hal ini akan sangat menutup pintu-pintu masuknya fitnah dalam dada setiap manusia.
3. Kembalikan niat menikah hanya untuk ridho Allah dan memiliki cinta yang tertinggi hanya pada-Nya. Karena jika tak memiliki pegangan seperti ini, kelak akan ada banyak sekali Arini-Arini yang merasakan sakit dan kecewa tak terperi ketika menghadapi ujian pernikahan seperti ini. Berbeda jika semua berlandas pada Allah. Cinta pada makhluk pun hanya seperlunya karena cinta tertinggi hanya dipersembahkan dan hanya mendambakan pada Allah saja.
4. Ini hanya pemikiran iseng saya, mungkin mba Asma ingin membukakan mata para istri agar lebih waspada dan sensitif terhadap sinyal2 yang ada. Karena biasanya perselingkuhan bisa terjadi karena istri tak tanggap ketika ada yang melenceng dari suami.

Akhir kata, ini hanya opini sok tau saya saja tentang kisah novel Syurga Yang Tak Dirindukan. Perbedaan pendapat tentu saja boleh, apapagi pengalaman yang dimiliki antar kita pasti berbeda.
Yang harus disamakan adalah: berilmu lah dahulu sebelum beramal :)

Minggu, 26 Oktober 2014

Tempat Ternyaman

malam ini sejatinya saya hendak menulis tentang pemikiran saya mengenai kehadiran anak di dalam senuah pernikahan, namun entah mengapa pikiran saya teralihkan pada hal yang abstrak.

seperti biasanya, lampu kamar selalu dimatikan ketika anak-anak tidur, dan inilah saya, mengetik dengan keadaan lampu kamar yang mati, hanya lampu kamar mandi dalam saja yang menjadi sumber penerang satu-satunya...

ah iya, kemarin saya dan suami mendengarkan lagu-lagu dewa dan dewa 19. kami berdua memang suka musik, grup band sepeerti dewa, padi, dan sheila on 7 adalah salah tiga dari sekian grup band maupun penyanyi yang kami suka dengarkan.

ketika sedang mendengarkan sebuah lagu dari dewa 19, suami saya berkata, "dhani tuh emang keren ya nyiptain lagu!"
"iya, jaman dulu lagu-lagunya keren2. tapi sekarang lagunya asal bunyi semua." jawab saya sok tau :D
"iya ya, jaman dulu tuh syairnya dalem, beda sama sekarang." ternyata suami saya mengiyakan jawaban sok tau saya heheheh.
"kayaknya semenjak ga sama maia ya, musiknya jadi asal gitu. kayak ga ada isinya. emang ya, peran istri tuh besar banget bagi karir suami."
dan jawaban saya yang semakin sok tau ini sukses membuat suami saya tersenyumsenyum sendiri...

tapi selain saya, ternyata ada sahabat saya yang juga berpedapat sama dengan saya. semenjak dhani tidak lagi bersama maia, lagu-lagu yang dia ciptakan ga seperti dulu: nyastra, dalam, banyak filosofinya, dan seperti ada ruhnya.
apa ini karena perubahan dirinya setelah sekian lama bermusik?
atau karena dia merasa bahwa pasar akan tetap merespon positif semua hasil karyanya?
atau pengaruh lainnya?

sebagai seorang wanita, saya melihat hal ini dengan kaca mata lain.
kaca mata yang didasari oleh sebuah pepatah, di balik seorang pria hebat pasti ada wanita hebat di belakangnya.
bukan saya nyinyir terhadap kehidupan pribadi ahmad dhani, tapi memang pada kenyataannya semua orang bisa menilai seperti apa kualitas pendamping hidup dhani jaman dulu dan sekarang.
ya allah... lu kayak pembawa acara infotainment aja deh...

ah, daripada saya banyak berkata yang tidak2, lebih baik saya mengkajinya dari sisi lain...

--Pendamping yang Membuat Nyaman--

salah satu peran penting seorang istri adalah kehadirannya dalam mendengarkan keluh kesah suami. tidak semata mendengarkan keluh kesah. seorang istri,dengan segala hal yang dikatakan bahwa mereka adalah kaum yang lemah, justru mampu menguatkan seorang lelaki.

misalnya saja ketika sang suami sedang mencurahkan isi hatinya terhadap penat urusan kerjaan.
meski hanya diam atau menjawab sekadarnya, kehadiran istri bisa melumerkan gunung es stress sang suami.
dari belaian yang diberikan sang istri, tatapan lembut yang meneduhkan, ataupun dekapan hangat untuk suaminya. meski mungkin tak selalu memberi solusi, tapi perhatian dan sentuhan fisik sang istri mampu membuat dopamin dalam tubuh suami bekerja. ini yang membuat suami merasa nyaman sehingga stress dan penat bisa hilang.

seperti sebuah filosofi tentang penciptaan wanita,
wanita diciptakan bukan dari tulang tengkorak yang harus dijunjung dan dipuja,
tidak juga diciptakan dari tulang kaki agar bisa diinjak-injak,
tapi diciptakan dari tulang rusuk agar bisa melindungi hati suaminya sekaligus dilindungi oleh kokoh tangan sang suami.

maka ladies, sediakan waktu dan hatimu ketika suami tersayang sedang mencurahkan segala uneg2nya padamu. tinggalkan sejenak urusan dapur dan anak2, apalagi kl hanya sekadar urusan gosip artis.. heheheh


--Penyeimbang yang Lugu--

meski tak selalu mengerti apa yang suaminya keluhkan, tapi istri yang baik biasanya memang mendengarkan dengan hati segala curahan suaminya. ini yang membuat sang suami merasa membutuhkan kehadiran istrinya (nah, salah satu poin yang harus diingat para istri nih).

mereka, para suami, kadang memang tak butuh solusi dari kita para istri. mereka hanya butuh didengarkan.
namun mana kala mereka memang meminta pertimbangn dari para istri, berikan saja pendapat terbaik kita.
tak perlu merasa terbebani dengan hal hal macam, "aku ga ngerti urusan kantor.", atau rendah diri lainnya.
cukup berikan pandangan dari sisi berpikir kita, karena sering kali hal itu yang tak terpikirkan oleh mereka.

nah, di sini pentingnya seorang istri untuk selalu belajar, memenuhi kepalanya dengan berbagai ilmu.
bukan hanya agar ga kudet alias kurang update, tapi juga agar nyambung dan syukur2 bisa dijadikan partner in crime eh salah maksudnya partner diskusi.
kebayang kan kalau istrinya cerdas, pasti akan banyak hal hal dan solusi atau pertimbangan cerdas dan matang yang mampu dipersembahkan untuk suami.
lebih baik diskusi dengan kita, kan daripada diskusi dengan wanita lain... na'udzubillah....

--Pakaian yang Cerdas--

pakaian yang kita pakai tentu adalah pelindung diri kita terhadap segala hal yang ingin kita tutupi di tubuh kita dari orang lain.
yup, seperti pakain, sebagai seorang istri, kitalah yang paling tau semua hal ttg suami, mulai dari yang paling bagus sampai yang paling buruk yang bahkan tak diketahui oleh ibu dan ayahnya sendiri. seperti fungsi pakaian, kan...

nah, itu sebabnya kenapa suami kita jauh lebih nyamn curhat pada kita, karena kitalah yang sudah tau mereka, ketika bahkan mereka menghujat atau menyesalkan sesuatu, kita yang paling mengerti dan memaklumi hal itu.
segala tindak emosi yang keluar dari suami kita mungkin hanya akan dikeluarkan di depan kita, meski mungkin itu tak mengenakan.
seperti misalnya sikap egoisnya atau kekanakannya yang kita pikir itu ga akan dilakukan di sepan orang lain. kadang kita tersinggung ya, ga habis pikir kenapa kok kl sama istrinya dia bisa begini begitu, ga mau ngalah dsb padahal di depan orang lain dia dewasa.
ah, seharusnya kita bersyukur, karena kemungkinan besar memang suami kita nyaman pada kita, sehingga hal2 itu keluar hanya pada saat bersama kita. selama masih dalam tahap wajar, berbahagialah... karena kita sudah memberikan kenyamanan.

nah, karena hal hal seperti itulah, mengapa pada awal2 tulisan ini saya mengatakan bahwa pengaruh seorang istri itu cukup besar bagi karir suami. karena dengan interaksi bersama istrinyalah kedewasaan suami juga terasah.

maka baik2lah saat mendampingi suami, agar mereka selalu pulang pada kita setiap saat.
jadilah tempat ternyaman mereka agar potensi2 baik dalam diri suami kita bisa keluar. jangan jadi tempat angker yang hanya bisa menghadirkan kesan horor pada diri suami terhadap istri sehingga kalaumada sesuatu yang dicari bukanlah istrinya tapi orang lain...

be a good listener, be wise... ;)



Sabtu, 28 Juni 2014

susu formula dan sel otak anak?

Susu ibu hamil dan susu formula anak2 banyak sekali mengatakan semakin banyak sel otak, semakin baik dan cerdas anak2...

No no no...

Sel otak yang banyak saja tidak cukup jika tidak dibarengi:
KESABARAN dalam MENDIDIK!!!

Karena sel2 otak itu ga akan bekerja baik tanpa adanya sambungan antar sel.

Sambungan2 antar sel itulah yang menyebabkan anak bisa berpikir runut, sebab akibat, logis, bisa mengambil hikmah antara peristiwa satu dengan peristiwa lainnya, dan mengerti apa yg dia lihat dan dengar.

Membuat sambungan antar sel adalah dengan mendidiknya, memberikan informasi yang baik, dan kontinyu...
Semakin sering dilakukan, semakin baik dan banyak sambungan antar selnya...

Sampai situ saja?
Oh, tentu tidak...

Dalam proses perjalanannya (proses pendidikan tersebut),
Orang tua juga harus sabar.
Bukan hanya sabar dalam mendidik suatu hal secara kontinyu dan sedikit demi sedikit, namun juga sabar jika sang anak melakukan banyak kesalahan...

Tidak memarahi, membentak, menghentak, bahkan sampai memukulnya...
Karena apa? Dengan memarahi, membentak, menghentak, bahkan memukul, maka sambungan2 sel otak yang telah susah payah dibuat akan berguguran...

Jika masih dengan 'senang hati' memarahi, membentak, menghentak, bahkan memukul, selamat... Anda telah mematikan banyak potensi anak anda...

#catatanparenting
#untukrenungan

KISAH NYATA PENUH HARU yang Terjadi di Pakistan


Seorang Dokter Ahli Bedah terkenal (Dr. Ishan) ter-gesa-gesa menuju airport. Beliau berencana akan menghadiri Seminar Dunia dalam bidang kedokteran, yang akan membahas penemuan terbesarnya di bidang kedokteran. 
Setelah perjalanan pesawat sekitar 1 jam, tiba-tiba diumumkan bahwa pesawat mengalami gangguan dan harus mendarat di airport terdekat. 
Beliau mendatangi ruangan penerangan dan berkata: Saya ini dokter spesial, tiap menit nyawa manusia bergantung ke saya, dan sekarang kalian meminta saya menunggu pesawat diperbaiki dalam 16 jam ?
Pegawai menjawab: Wahai dokter, jika anda ter-buru-buru anda bisa menyewa mobil, tujuan anda tidak jauh lagi dari sini, kira-kira dengan mobil 3 jam tiba. Dr. Ishan setuju dengan usul pegawai tersebut dan menyewa mobil. Baru berjalan 5 menit, tiba-tiba cuaca mendung, disusul dengan hujan besar dan disertai petir yang mengakibatkan jarak pandang sangat pendek.
Setelah berlalu hampir 2 jam, mereka tersadar bahwa mereka tersesat dan terasa kelelahan. Terlihat sebuah rumah kecil tidak jauh dari hadapannya, dihampirilah rumah tersebut dan mengetuk pintunya.
Terdengar suara seorang wanita tua: " Silahkan masuk, siapa ya?".
Terbukalah pintunya. Dia masuk dan meminta kepada ibu tersebut untuk istirahat duduk dan mau meminjam telponnya.
Ibu itu tersenyum dan berkata: "Telpon apa Nak? Apa anda tidak sadar ada dimana ? Digubuk kecil ini tidak ada saluran listrik, apalagi telpon. Namun demikian, masuklah silahkan duduk saja dulu istirahat, sebentar saya buatkan teh dan sedikit makanan untuk menyegarkan dan mengembalikan kekuatan anda."
Dr. Ishan baru tersadar, dan hanya bisa pasrah, namun ia juga mengucapkan terima kasih kepada ibu itu karena keramahanya, lalu ia memakan hidangan sementara ibu itu sholat serta berdoa, dan per-lahan-lahan mendekati seorang anak kecil yang terbaring tak bergerak diatas kasur disisi ibu tersebut, dan dia terlihat gelisah diantara tiap sholat. Ibu tersebut melanjutkan sholatnya dengan do'a yang panjang,

Dokter Ishan mendatanginya dan berkata: "Demi Allah, anda telah membuat saya kagum dengan keramahan anda dan kemuliaan akhlak anda, semoga Allah menjawab do'a-do’a anda."
Berkata ibu itu: "Nak, anda ini adalah ibnu sabil yang sudah diwasiatkan Allah untuk dibantu. Sedangkan do'a-do’a saya sudah dikabulkan Allah semuanya, kecuali satu."
Bertanya Dr. Ishan: "doa Apa itu yang belum Allah kabulkan?"
Ibu itu berkata: "Anak ini adalah cucu saya, dia yatim piatu. Dia menderita sakit yang tidak bisa disembuhkan oleh dokter-dokter yang ada disini. Mereka berkata kepada saya ada seorang dokter ahli bedah yang akan mampu menyembuhkannya, katanya namanya Dr. Ishan, akan tetapi dia tinggal jauh dari sini, yang tidak memungkinkan saya membawa anak ini kesana, dan saya khawatir terjadi apa-apa di jalan. Makanya saya berdo'a kepada Allah agar memudahkannya." Mendengar penuturan ibu tersebut
Menangislah Dokter Ishan dan berkata sambil terisak: "Allahu Akbar…Allahu Akbar, Laa haula wala quwwata illa billah. Demi Allah, sungguh do'a ibu telah membuat pesawat yang saya naiki rusak dan harus diperbaiki lama serta membuat hujan petir dan menyesatkan kami, Hanya untuk mengantarkan saya ke ibu secara cepat dan tepat. Saya lah Dokter. Ishan itu… Saya lah Dokter Ishan Bu, Sungguh Allah swt telah menciptakan sebab seperti ini kepada hambaNya yang mukmin dengan do'a. Ini adalah perintah Allah kepada saya untuk mendekati dan mengobati anak ini."
Nenek tua itu pun menangis bersyukur bahagia seolah tak percaya, dan Dokter juga menangis terharu...
Pada Akhirnya dokter Ishan pun mengobati cucu dari nenek tsb. Subhanallah...

Kesimpulan:
1. Jangan pernah meremehkan kekuatan Doa.
2. Jangan pernah berhenti berdo'a sampai Allah menjawabnya.
3. Jangan pernah bosan berdo'a, Semua akan Allah kabulkan jika sudah tiba waktunya.

rumah tangga dr aid al qarny

Ust. Zulfi Akmal
DR. 'Aid al Qarny menggambarkan tentang istrinya:

Beberapa malam yang lalu, sesaat sebelum aku tidur, aku berada di atas ranjang, aku menoleh ke arah istriku dan aku pandangi bentuk wajahnya sementara ia lagi tidur, aku bergumam dalam hatiku:

Malang sekali dia, setelah hidup selama bertahun-tahun bersama kedua orang tua dan keluarganya, ia datang untuk tidur di samping laki-laki yang asing baginya. Dia tinggalkan rumah orang tuanya. Dia tinggalkan bermanja-manja dengan kedua orang tuanya. Dia tinggalkan bersenang-senang di rumah keluarganya. Sekarang ia datang kepada laki-laki yang menyuruhnya untuk melakukan yang ma'ruf dan meninggalkan yang mungkar. Dia melayani laki-laki itu sesuai dengan yang diredhai Allah. Semua itu berdasarkan perintah agama, subhanallah......

Dari sini muncul pertanyaan di dalam diriku?!

Kenapa sampai gampang bagi sebagian laki-laki untuk memukul istrinya dengan penuh kekerasan, setelah ia meninggalkan rumah keluarganya, kemudian datang kepadanya.

Kenapa ringan bagi sebagian laki-laki untuk keluar bersama teman-temannya, kemudian ia pergi ke restoran dan ia makan tanpa mempedulikan siapa yang ada di rumahnya?!

Kenapa ringan bagi sebagian laki-laki menjadikan waktu duduknya di luar rumah lebih banyak dari pada duduk bersama istri dan anak-anaknya?!

Kenapa ringan bagi sebagian laki-laki menjadikan rumahnya bagaikan penjara bagi istrinya, tidak ia ajak keluar dan juga tidak ia temani.

Bagaimana bisa gampang bagi sebagian laki-laki membiarkan istrinya tidur, sementara di dalam hatinya ada kegetiran perasaan dan di matanya ada air mata tertahan?!

Bagaimana bisa gampang bagi sebagian laki-laki pergi berjalan sementara anak-istrinya ia tinggalkan tanpa peduli dengan nasib mereka selama ia pergi.

Kenapa bisa ringan bagi sebagian laki-laki berlepas diri dari tanggungjawab yang akan ia pertanggungjawabkan di akhirat nanti sebagaimana yang di sampaikan oleh Rasulullah?!

Rasulullah bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya..."

*Please Jangan Bohongin Anak (ku)*

Suatu hari seorang saudara saya bercerita tentang BSnya...
Beliau menggunakan jasa BS agar lebih fokus mengurus kedua anaknya, jadi sang baby sitter ini memang benar2 dijadikan rekan dalam mendidik anak2nya, bukan melimpahi tugasnya pada sang BS sementara ia bisa bebas ngapain aja.

Nah, beranjak dari niatan tersebut, maka wajar kalau saudara saya ini sangat selektif terhadap Baby sitter yang berpartner dengannya. Beliau maunya pola didik baby sitternya sama seperti pola didiknya pada anak2nya.

Namun ternyata BS yang ada saat ini tidak sesuai dengan harapan saudara saya.
Memang orangnya baik, gesit, namun suka 'berbohong'.

No, bukan berbohong mengenai uang atau lainnya.
Baby sitternya suka berbohong pada anak2nya agar anak2nya menurut.
"Hayo jangan main ke sana, nanti ditinggal daddy." (Padahal ayahnya anak2 lagi duduk anteng ga ke mana2)
"Yuk main di luar yuk, ada pesawat lho" (padahal ga ada)

Why it's so serious? Nyantai aja, kali...
Wajar lah, yang penting anaknya nurut, mau makan, ga petakilan, and bla bla bla...

Oh ternyata tidak sesederhana itu, mom n dad yang shalih...

Membiasakan anak tumbuh dalam atmosfer kebohongan2 seperti itu ternyata membawa dampak yang cukup serius.

Pernah ga kita berpikir, "ih itu anak, waktu kecilnya penurut, patuh, baik, eh udah gedenya ga mau nurut orang tuanya, orang tua ga didengerin, cenderung melawan."

Ya, tanpa kita sadari, kebohongan2 kecil itulah yang membentuk anak menjadi demikian.

"Nanti mama beliin es krim kalo kami mau makan." (Nyatanya habis makan ttp ga dibeliin es krim).
"Mama mau ke wc ya, sebentar kok." (Nyatanya pergi ke kantor atau ke tempat lain selama berjam-jam).
"Ayah sebentar lagi sampai rumah." (Nyatanya sampai anak tidur malam, ayahnya blm pulang).
Dan berbagai kebohongan kecil seperti ini yang sedikit demi sedikit mengikis rasa percaya anak pada orang tua maupun keluarganya yang lain.
Dampaknya anak jadi tidak percaya pada orang tua dan lingkungannya.

Dengan rasa tidak percaya itulah anak akhirnya tumbuh sebagai anak yang suka melawan (untuk apa menuruti ortu, mereka toh ga berkata yang sebenarnya, toh nanti juga dibohongi lagi).
Lalu anak tumbuh sebagai anak yang suka berbohong (orang tuaku juga mencontohkan seperti ini, aku ga papa dong?).
Dan ketika dewasa dia akan mudah membuat janji tapi tak ditepati meskipun tidak ada keadaan darurat yang menghalanginya dari janji yang ia buat.

Lebih baik kita memang meluangkan sedikit waktu untuk berbicara lebih banyak pada anak,
"Nak, ayah dan bunda harus berangkat. Kami pergi agak lama. Tapi nanti jam 2 siang kita sudah bertemu lagi."
Dan tepati janji kita sesuai apa yang kita katakan (pulang jam 2, misalnya).
Meskipun anak menangis, tapi ia belajar bahwa orang tuanya memang memiliki tugas lain yang harus dikerjakan, mereka juga belajar menunggu, dan mereka belajar bahwa segala sesuatu ada prosesnya.

Kalau masih memiliki kesulitan pada penerapannya,
Coba ajak bicara anak kita di waktu yang tepat, di waktu santai, misalnya menjelang tidur.
Jelaskan saja kenapa anak kita dan orang tuanya harus seperti itu.
Meski menangis, tapi itu lebih baik daripada kita membohonginya.

Susah ya? Iya.
Tapi bukan berarti nggak bisa, kan...

Keep on trying to be the best parent for our kiddos... 

*Semua Orang Pasti Punya Prioritas*

Semua orang punya prioritas masing2, tergantung pada apa yang menjadi tujuan hidupnya, lingkungan, pemahaman, serta impiannya.

Baru saja kemarin saya kembali ditepuk lembut oleh Allah melalui salah satu teman mengaji saya.

Jadi ceritanya kami sedang dalam sesi mengungkapkan qodhoya kami masing2 (istilah belandanya mah "curhat" gituh).
Masing2 dari kami mengungkapkan apa yang dihadapi selama sepekan ini.
Ada yang anaknya ganti berganti sakit, ada yang suaminya sudah sembuh penyakit parunya, ada yang repot dengan masalah pemberkasan CPNS, dsb...

Hingga akhirnya tiba giliran teman ngaji saya yang usianya tak beda jauh dengan saya (rerata usia teman ngaji saya yg lain sudah menjelang 40.. Beberapa dari kami--4 orang--adalah anak bawang yg bahkan blm berkepala 3).
Beliau adalah muslimah yang lembut dan bersahaja, masya Allah.
Saat mengungkapkan qodhoyanya, beliau langsung berkata,
"Mohon doa dari ibu2 shalihat di sini, semoga saya tetap istiqomah dan sehat."
Beberapa dari kami bertanya ada apa.
Lalu beliau menjelaskan bahwa saat ini beliau masih belum memakai jasa khadimat.

Kami memang sempat khawatir padanya mengingat suaminya adalah seorang yang memiliki amanah cukup penting yang sering keluar kota, sementara anaknya 2 dan masih di bawah 3 tahun semua.

Ketika kami bertanya tentang kerepotannya mengurus semua urusan rumah tangga, beliau dengan nada suaranya yang khas, lembut dan tanpa tendensi apapun, menjelaskan,
"Memang kalau repot, pasti repot banget, umm. Masalah rumah, anak, belum lagi target hafalan. Bulan ini saja hafalan saya keteteran. Setelah dievaluasi saya hanya bisa menghafal setengah halaman perhari di bulan ini."

Jujur saja saya tertohok, dalam. Malu sekali.
Beliau dalam kerepotannya masih bisa menghafal setengah halaman perhari (semoga Allah memberkahi), sementara saya?

Lalu ada seorang lagi yang bertanya, kenapa ga cari lagi jasa art.
"Sebenarnya saya mau memakai jasa art, tapi rupanya susah mencari art yang sudah ibu2 usia 40an. Banyaknya yang masih muda."

"Memang kenapa bu kalau yang masih muda?" Yang lain kembali bertanya.

"Saya suka sedih lihat pakaiannya. Ketat dan kadang ga mau berjilbab di rumah. Padahal sudah sering saya ingatkan. Saya kasihan pada suami, khawatir hal itu membuatnya kehilangan hafalannya."

Saya kembali terpana, kembali tertohok.
Sampai sebegitunya... Masya Allah... :')

"Keluarga yang mengetahui keadaan kami pada bilang kalau kami terlalu berlebihan, padahal ga papa, yang penting ada yang bantu.
Tapi saya sudah dengan pendirian saya. In shaa Allah saya ikhlas. Dan alhamdulillah abinya anak2 juga mau memaklumi jika banyak pekerjaan rumah yang blm selesai, bahkan ga sungkan membantu walau hanya ngepel dan bersih2 rumah. Kata beliau, ga papa rumah berantakan, asalkan hafalan ummi nambah."

Ah, andai saja ada alat yang bisa memperlihatkan bentuk hati saya saat itu...
Bentuknya sudah tak jelas..
Bagikan dihantam ribuan ton beban berat dari berbagai sisi.
Saya benar2 tertohok dan malu.

Di akhir kalimat beliau, beliau kembali minta didoakan agar bisa segera menyelesaikan program menghafalnya.
Karena beliau dan suaminya memiliki impian untuk membangun rumah quran di jogja (rumah orang tuanya dan orang tua suaminya).

Semakin cepat beliau menyelesaikan program tahfidznya, semakin cepat mereka ke jogja, semakin cepat rumah quran itu berdiri...

Ya, itu prioritas teman halaqoh saya: tak apa tak ada art, asalkan hafalan suaminya terjaga dan dia ttp bisa menambah hafalannya.

Kita semua memiliki prioritas masing2, tak ada satupun yang sama,
meski mungkin sama2 memiliki prioritas di bidang pendidikan, tapi saya yakin ada tujuan atau cara yang berbeda satu sama lain.

Tak apa setiap kita memiliki prioritas yang berbeda.
Yang perlu diingat adalah usahakan prioritas kita itu dalam rangka mendekatkan diri pada Allah, apapun bentuknya...
Dengan demikian, hidup kita jadi terarah sekaligus membawa berkah...

Semoga Allah memberi kelancaran dan kekuatan pada kita dalam menjalankan segala prioritas kita...
Semoga hal itulah yang dapat menambah berat amal kebaikan kita di akhirat kelak...
Aamiin...

Keep on trying to be the best day by day 

apa kabar, ayah?

Ayah, apa kabar?
Bunda dan anak2 di sini baik-baik saja.
Ayah, pagi ini kakak dan adek sudah bisa mandi sendiri, tidak seperti dulu yang maunya dimandikan oleh ayah.
Sebenarnya mereka minta dimandikan oleh bunda, tapi bunda harus menyiapkan yang lainnya.

Ayah, saat ini setiap hari kami berangkat bersama, kakak dan adek menuju sekolah sedangkan bunda menuju tempat kerja.
Tak seperti biasanya, bund
a hanya di rumah. Mengerjakan berbagai pekerjaan rumah dan mengerjakan hal lainnya. Meski cape tapi tak secape saat ini.

Ayah, sekarang bunda tau bagaimana perasaan ayah selama ini. Ketika terik matahari ayah tetap harus mengendari motor melawan macet ibu kota, atau bahkan ketika harus menerobos hujan saat pulang kerja.
Beberapa bulan pertama saja sudah membuat bunda hampir menyerah, padahal selama ini ayah tidak pernah menampakkan wajah lelah ketika pulang ke rumah.
Ajari bunda, yah. Ajari bunda mengukir senyum itu di wajah.

Teringat ketika itu, suatu hari saat ayah pulang kerja dan tak ada makanan sama sekali karena bunda masih kesal dengan keputusan ayah yang tak mengizinkan bunda pergi bersama teman-teman sekolah.
Bunda pikir ayah akan marah, menceramahi bunda dengan sejuta kata. Bunda tunggu semenit dua menit sampai sejam, tak ada kata-kata apapun kecuali permintaan maaf karena membuat bunda bersedih tak bisa pergi bersama teman-teman.
Saat itu hati bunda luluh, tak ada kesal yang terselip. Justru berganti malu.
Ayah yang seharian bekerja penuh lelah dan keletihan, masih bisa bersabar menghadapi bunda yang kekanakan. Barakallahu, yah...

Ayah, sekarang kakak dan adek semakin besar. Semakin bisa diajak kerjasama dan bertanggung jawab. Adek mendapat tugas mematikan lampu sementara kakak mengunci pintu.
Mereka senang sekali bisa membantu, itu jauh lebih cukup dari apa yang bunda mau.
Mereka sangat mirip denganmu, seorang pribadi yang ringan tangan menolong orang.

Ayah, tak seperti malam-malam biasanya, kita duduk berdua setelah anak-anak terlelap.
Membicarakan apa yang kita kerjakan selama seharian, atau membicarakan apa yang selama seharian ini anak-anak lakukan.
Sekarang bunda hanya bisa berbicara dengan hati sendiri,
Memandangi anak-anak yang terlelap yang semakin hari semakin memantulkan wajahmu di raut mereka.
Tak ada lagi teman bersenda gurau atau berdiskusi tentang kehidupan dan masa depan anak-anak kelak.
Betapa sungguh baru kusadari, betapa bunda sangat membutuhkan ayah.

Ayah, minggu kemarin bunda dan anak-anak pergi ke tempat kita biasa berwisata karena ada acara dari sekolah.
Tapi tidak seperti waktu itu, ketika ayah menggendong kakak di punggung dan membawa adek berkeliling naik sepeda. Semua berbeda. Tak ada tawa ceria kakak dan adek saat bercanda bersama ayah, tak ada senyum bahagia yang terpancar dari wajah mereka seperti saat pergi bersama ayah.
Ternyata jauh di lubuk hati mereka, mereka merindukan ayahnya. Mereka tak pernah menampakkan itu di depan bunda, tapi dalam tidurnya si kakak beberapa kali memanggil-manggil ayah.
Kami merindukanmu, ayah...

Ayah, minggu depan adalah hari ulang tahun pernikahan kita yang kesepuluh.
Bunda tak pernah lupa awal pertama kita berpegang tangan dulu, selesai ijab qabul di depan penghulu.
Saat itu bunda masih malu-malu, namun ayah dengan lembut menatap mesra dan menyodorkan tangan terlebih dahulu.
Meski tak ada lagi peluk dan cium mesra atau kata-kata rindu melalui media komunikasi seperti sebelumnya, tapi bunda tetap merasakan ayah ada bersama bunda selalu.
Terimakasih telah memilihku menjadi separuh sayapmu.
Memercayaiku mendampingimu.
Menjadikanku ratu di istana indahmu.
Mengajariku mengenal dan mencintai Penciptaku...

Ayah, berbahagialah di sana.
Kelak jika Allah mengizinkan, kita akan berkumpul kembali di syurgaNya.
---------------------------------------

Banyak dari kita menyepelekan kehadiran pasangan kita. Menganggap pengorbanan mereka biasa saja, bahkan tak ada apa-apanya.
Jika kita mau jujur pada hati kita, apa yang sudah kita berikan untuk pasangan kita: apakah keluhan2 kita, rasa kesal kita, atau rasa kurang kita atas semua pemberiannya (cinta dan sayangnya).
Siapkah jika kita berpisah dengannya?
Sudahkah kita memberikan hak-haknya?
Jangan kemudian ada sesal ketika kepergiannya karena ternyata kita belum memenuhi hak-haknya dengan baik...

harta, tahta, wanita-- sepaket ujian bagi sang imam

pagi ini seperti biasa saya belanja di pedagang keliling yang jualan keliling komplek. dan seperti biasa pula, saya sibuk berpikir akan masak apa hari ini.akhirnya pilihan jatuh pada lele dan beberapa sayuran pendampingnya.karena tidak bisa membersihkan lele yang masih hidup, saya minta tolong pada si mas pedangan sayur. sambil menyiangi lele, si mas pedagang sayur, sebut saja mas oka, bercerita pada saya.

Mas Oka: bu, tau ga, ternyata jelek-jelek begini saya masih laku lho, bu...

Saya: *sedikit bingung* maksudnya apa mas? kayak sayuran aja, laku..hehehe

MO: iya, ternyata masih ada yang suka sama saya, bu. sampai sms dan telponin saya terus. bingung saya.

S: waduh, hati-hati mas *mulai bingung, mau ngomong apa*

MO: emang sih dia itu mantan pacar saya. tapi dia anak kuliahan, masa iya mau sama saya? bingung saya...

S: *sejenak berpikir* emang udah berapa tahun menikah, mas? mau 5 tahun ya?

MO: ehm, sekitar itu bu. emang kena toh?

S: *enggan berpikir macam-macam, saya hanya ingin share* mungkin itu ujian menjelang 5 tahun nikah, mas. kata orang tua kan ujian terberat itu menjelang 5 tahun.

MO: eh, masa iya, bu?

S: biasanya begitu. ujiannya ya macam-macam. kalau laki-laki biasanya ujiannya perempuan.

MO: jadi inget, dulu ada yang bilang sama saya, 'ko, ujian kamu tuh cuma di perempuan'.

S: nah, bisa jadi ini ujian, mas.
(berpikir tidak ingin si mas oka salah melangkah saya coba kasih masukan sedikit)
biasanya ujian laki-laki itu ada 3, mas, harta, tahta, wanita. mungkin mas oka sedang mengalami ujian dengan salah satunya. menurut saya mas oka harus hati-hati aja, perbaiki keimanan aja, mas. mungkin Allah lagi mau angkat derajat mas oka, biar lebih sukses lagi dan lancar rezekinya, makanya dikasih ujian kayak gini. 

MO: masa iya, bu?

S: mungkin aja, mas. yang penting mas oka ga usah terbawa sama perempuan itu. insyaallah kalo berhasil melewati ujian ini, semua akan lebih baik lagi.

MO: iya, bu, aamiin. saya sih cuma ngetes dia aja, emang beneran mau sama saya atau nggak. ternyata dianya mau. heran saya, padahal anak kuliahan. kalo cewek kampung biasa saya nggak heran, tp kan dia anak kuliahan.

S: ya namanya godaan, mas. apalagi perempuan, kalo udah cinta, susah lupanya. tapi kalo nanti dia nikah, dia akan sayang kok sama suaminya dan lupa sama yang lain. lagian perempuan sekarang kan memang suka dengann laki-laki yang sudah beristri, karena sudah mapan, sudah tinggal enaknya saja. udah, nggak usah dilayanin, ga usah main api..heheheh

MO: iya, saya juga ga ada niat main-main bu, cuma penasaran aja...

S: halah, dasar mas oka...

dan perbincangan terhenti ketika ada seorang mbak-mbak yang kerja di tetangga seberang rumah membeli sayur.

ternyata ujian seperti ini nggak hanya menyinggahi para pejabat, pemuka masyarakat, dan pemuka agama... bahkan (maaf bukan maksud apa-apa) seorang pedagang sayur yang saya pikir kehidupannya sudah cukup banyak ujian pun masih juga diuji dengan ujian seperti ini.

akhirnya kenaifan saya selama ini terhapuskan oleh kenyataan yag mampir di depan mata,bahwa lelaki manapun bisa mendapatkan ujian harta; tahta, wanita. tak peduli pangkatnya apa, siapa namanya, tinggalnya dimana.

dalam satu sisi hati, saya merasa kasihan pada para lelaki (suami-suami) yang tertimpa 3 masalah itu, terutama masalah wanita (karena menurut saya yang cukup berpengaruh bagi dia dan keluarganya adalah ujian dengan wanita). para suami sudah capai bekerja seharian, memikirkan bagaimana cara mencukupi kebutuhan keluarga, namun masih juga diberikan ujian seperti ini.
menurut logika saya, seharusnya mereka ga usah ambil pusing dengan para wanita yang mencoba menggoda. mengapa? karena dengan kehidupannya saja ia seharusnya sudah merasa cukup sibuk, mencari nafkah, mendidik istri dan anak, menjadi iamam yang baik, menjadi bagian dari masyarakat yang bertanggung jawab.
saya yakin, tidak usah ditambah lagi masalah lain, para suami yang ingin menjadi suami yang baik pasti sudah sibuk dengan semua tanggung jawab/amanah mereka. hingga tidak ada ruang lain yang tersisa untuk bermain-main dengan wanita. ini menurut logika saya. entah apa yang terjadi di dalam cara berpikir mereka sebagai lelaki.
atau justru ini adalah bagian lain yang bisa membuat mereka merasa hidup layaknya lelaki perkasa? entahlah.
saran saya, lebih baik tidak mengorbankan apa yang sudah dibangun susah payah hanya demi permainan semata...wallahu'alam

itulah mungkin sebabnya kita harus tetap memperbaiki diri, komunikasi dengan pasangan, pelayanan apapun terhadap pasangan, dan jangan lupa (hal yang paling penting) adalah doakan pasangan kita agar senantiasa diberikan petunjuk oleh Allah SWT.

semoga kita bisa tetap menjadi pribadi yang baik dan semakin baik, pribadi yang shalih dan menshalihkan, dan tetap menebar manfaat.
(menohok di hati saya, karena saya harus banyak membenahi hitamnya hati)

maafkan atas kesalahan kata maupun stigma berpikir yang tidak berkenan di hati
110812, 11:02

--Toddler yang Terjebak di Tubuh Orang Dewasa--

Siang itu saya 'berguru' pada salah satu teman, bu yuli namanya. Beliau adalah mantan guru di sekolah anak saya. Bu yuli dikenal sebagai seorang yang profesional sebagai seorang pendidik. Terlihat dari cara kerjanya yang gesit, tak pernah menunda pekerjaan, dan selalu mau belajar... Masya Allah, Keren! 

Di sela-sela waktu, kami (saya dan seorang teman lain dari balik papan) berbincang dengan bu yuli mengenai apa saja terkait dengan pendidikan anak usia dini.

Saat itu bu yuli bercerita bahwa ada kenalannya yang dimarahi oleh mertuanya.
Dikisahkan sang istri sedang terfokus perhatiaannya pada anaknya yang masih bayi, sementara sudah masuk waktu makan.
Suaminya sudah diambilkan nasi dan lauk paul sudah terhidang di meja. Setelah mengambilkan nasi, sang istri pamit karena harus fokus dengan anak mereka yang masih bayi.
Sementara sang istri fokus pada bayi, sang suami tetap duduk tanpa memakan makanan yang sudah dihidangkan.
Melihat hal tersebut, sang mertua yang kebetulan sedang berkunjung ke rumah mereka, marah pada menantu perempuannya itu,
"Oh, jadi begini. Anakku nggak diurusin?"
Ternyata selama ini sang suami selalu disuapi makan oleh ibunya, bahkan sampai besar dan bekerja.
Hingga akhirnya menikah, maka kebiasaan itu sulit dihilangkan. Sang suami tidak mengerti situasi, yang dipikirkannya hanyalah kebutuhannya.

Oke, mungkin kasus itu agak ekstrim ya.
Tapi pernah nggak memiliki teman yang sulit berbagi, sulit mendengarkan, atau sulit bertanggung jawab?
Atau jangan2 itu adalah kita sendiri?
Kita? Kamu, kali, win :D



Sejatinya, fase toddler atau anak batita, adalah fase di mana kebutuhan anak masih dibantu oleh orang lain, dia belum memiliki kecakapan hidup untuk mengerjakan hal-hal yang seharusnya sudah bisa ia kerjakan sendiri karena merupakan hal-hal pokok untuk dirinya. Fase di mana mentalnya pun masih belum matang: egosentrisnya tinggi (belum bisa berbagi, tak bisa mengalah, tak bisa menerima kesalahan), tak bisa bertanggung jawab terhadap apa yang ia perbuat.


Tapi fase toddler ini ternyata bukan saja dialami oleh anak batita. Ini bisa berlanjut pada orang-orang besar yg menurut bilangan usia sudah dianggap dewasa.

Pernah lihat orang di lampu merah atau di jalan yang bertengkar karena hal sepele seperti meributkan suara klakson?
Pernah menemui orang-orang yang sulit mengantri di antrian umum seperti ketika mau membayar tiket kereta, beli karcis masuk arena hiburan, atau mengantri saat prasmanan di resepsi pernikahan?
Pernah melihat orang tua maupun anak muda yang terlihat keren tapi kelakuannya bak manusia primitif karena untuk buang sampah saja mereka ga tau di mana tempatnya dan akhirnya asal buang?
Atauuuuu... Pernah kesel karena ada tempat parkir kosong, tp tidak bisa ditempati oleh kita karena mobil yang duluan parkir tidak mengindahkan pembatas parkiran, sehingga parkiran dua mobil/motor hanya bisa dipakai satu kendaraan?

Itu ciri-ciri toddler yang terperangkap di tubuh orang dewasa (istilah yang kemarin keluar dari saya begitu mendengar kisah dari bu yuli, maaf kalau kurang tepat).

Ya, mental mereka masih mental anak batita, meski wujud jasmaniah mereka sudah remaja, atau bahkan sudah beranjak tua.

Salah mereka kah? Iya...
Tapi ingat, pola asuh 7 tahun pertama itu juga menentukan!

Merasa repot, ribet, lama banget ketika melihat anak kita yang masih kecil makan makanannya sendiri?
Wajar ya. Tapi biarkanlah mereka berusaha sendiri. Kita bisa bantu dengan ikut mengumpulkan makanannya ke tengah piring agar mereka mudah menyendok.

Merasa ga kalau masak di dapur bersama bocah2, masaknya jadi jauuuuh lebih lama dari biasanya?
Tapi tidak apa-apa, itu adalah proses mereka belajar. Belajar menyiapkan makanan bersama bundanya.

Atau bisa jadi kita merasa sangat repot ketika kedua anak kita sedikit-sedikit meributkan hal-hal sepele.
Tidak apa-apa. Bantu mereka menyelesaikan hal itu.
Uraikan apa masalahnya, cari jalan keluar terbaik bagi mereka.
Ini bisa menjadi ajang mereka menyelesaikan masalah.

Misalnya mereka berebut mainan, kita ambil dulu mainan yang direbutkan.
Uraikan apa masalahnya.
"Mainannya ada satu, sedangkan yang ingin memainkan ada dua. Kita harus bagaimana?"

Hal-hal yang mungkin kita anggap sepele saat mereka kecil (makan sendiri, ambil minum sendiri, biasakan membuang sampah, berbagi dengan saudara, bersabar menunggu giliran, membantu membereskan rumah, ikut masak di dapur, dsb) ternyata adalah pelatihan kecakapan hidup mereka.
Hal-hal sepele seperti itu yang kelak akan memengaruhi cara bersikap mereka ketika dewasa.

Orang dewasa ga bisa menjadi orang yang dewasa mentalnya dengan cara instan.
Kita ga diprogram untuk menjadi dewasa setelah usia sekian atau sekian.
Tapi kita dididik untuk hal itu.
Itu pula yang harus kita lakukan pada anak-anak kita.
Mereka ga akan seujug-ujug bisa mengalah, bisa mengerti kondisi orang lain, bisa berempati, bisa bersikap sopan, bisa memenuhi kebutuhannya sendiri.
Mereka bisa itu semua dengan pembiasaan, dengan dilatih, dididik, didampingi saat kecil.
Ga bisa sekali dua kali, sehari dua hari, tapi butuh proses panjang. Dan butuh kesabaran.

Mumpung masih kecil, masih mudah dibentuk, bentuklah anak kita menjadi anak yang baik, yang bisa memenuhi kebutuhannya sendiri, yang bertanggung jawab.

Semakin sering anak dibiasakan, maka akan terpola kebiasaan itu didalam otaknya dan akan menjadi karakternya.

Tidak mudah memang, butuh usaha sangat besar. Karena memang menjadi orang tua bukanlah pekerjaan sambilan.
Dan butuh doa, agar anak kita bisa menjadi qurata'ayun, penyejuk pandangan.
Terus berusaha, dan terus bersabar dalam usaha kita. In sha allah berbuah indah kelak ketika mereka menjadi manusia dewasa...

Always try to be the best parent for our kiddos...
-bundy-