Minggu, 02 Maret 2014

ke Dokter Kulit yang Berujung ke Psikiater, oh no... #CatatanKehamilan #YangMenakjubkan bag. 1

sudah sejak hamil Oz (my third boy), saya mengalami gatal2 gak jelas di beberapa bagian tubuh (telapak tangan kanan, lutut, betis, dan beberapa bagian lain yang saya tidak ingat).
saya mengeluhkannya pada suami, dan suami saya hanya bilang, "ya udah, ga papa, nanti juga hilang sendiri."
oh, suamiku, betapa optimisnya dirimu.. jadi makin cinta XD

tapi akhirnya ketika kontrol ke spog, saya nekad aja nanya. saya kasih tau kalau ada beberapa bagian di badan saya yang muncul gatal2. memang ga besar, tapi lumayan mengganggu.
dan kata dokternya, "oh, nanti juga hilang sendiri kok, bu. banyak pasien saya yang mengalami gatal-gatal atau alergi pada saat kehamilannya, tapi begitu anaknya lahir semuanya kembali normal."
oke, sama seperti apa yang suami saya katakan, kedua manusia ini sangat optimis dan husnudzon pad aAllah..
terimakasih Allah, Engkau telah memberikan orang2 optimis di sekitar saya.. hehehehe

oke, gatal2 di beberapa bagian lain sudah hilang, begitu juga dengan yang di telapak tangan kanan.
tapi selang beberpa bulan kemudian (masih dalam masa kehamilan), gatal itu muncul lagi. tapi kali ini hanya di telapak tangan kanan.
apa yang terjadi?
apakah ini karena serangan negara api? aih...

berbekal dari optimisme spog kmarin, akhirnya saya biarkan saja si gatal. saya tetap beraktifitas seperti biasanya.
eh, luar biasa ding, karena saat itu saya memang sedang tidak ada asisten. jadilah semua kerjaan rumah saya babat sendiri sambil kadang menangis bombay karena perut yang kram terlalu sering.
lalu sedikit demi sedikit keadaan tangan yang gatal itu semakin parah.
oh, tidaaaakkkk!!!
yang tadinya hanya bruntusan kecil2 dan hanya di bagian jari manis di tangan kanan, sekarang mulai menyebar ke bagian samping jari tengah..
gatalnya semakin dahsyat, dan sekarang ditambah lagi kering. dan kulit yang kering karena gatal itu jadi luka karena saya menggunakan tangan saya untuk semua aktifitas yang saya lakukan.

akhirnya karena khawatir kena kuman, setelah saya kasih antiseptic, luka di tangan itu saya tutup dengan hansaplast (ini merk apa bukan ya?). harapan saya nggak muluk2, yang penting saya bisa keliling dunia dan luka saya sembuh (hubungannya apa??? huhuhuuhu).

alhamdulillah, berkat kegigihan saya dan juga makan bergizi dan imunisasi (sambil nyanyi aku anak sehat), luka saya berangsur-angsur membaik.
alhamdulillah. sekarang luka sudah menutup, tapi kulit tangan saya seperti kulit tangan nenek2 yang sudah keriput, kisut. tapi hanya di bagian bekas luka tadi.
oke, itu ga jadi masalah, karena saya pikir itu adalah masa recovery.

masalah luka akhirnya terabaikan dikarenakan begitu hecticnya saya mempersiapkan kelahiran anak ketiga saya.
bukan, bukan hectic milih barang, belanja ini itu.. tapi lebih kepada persiapan kedua kakak-kakaknya.
yup, mempersiapkan kedua kakaknya justru jadi hal yang lebih saya fokuskan ketimbang mempersiapkan kelahiran anak ketiga ini. oke, ini akan dibahas lain kali ya, stay tune.
sampai akhirnya melahirkan anak ketiga, si luka itu ga muncul lagi.
tapi ketika usia baby menjelang sebulan, asisten saya (yang baru kerja 3 bulan), minta resign. alasannya anaknya sakit2an.
oke, baiklah, saya sebagai seorang ibu yang baik dan benar seperti EYD, saya mah iya aja.
dan resmilah saya tidak memiliki asisten lagi.

lalu masalah kulit itu datang kembali..
dia benar2 seperti sebuah lagu, "kau datang dan pergi sesuka hatimu... oh, kejamnya dikau, kejamnya dikau padaku..."
iya, akhirnya si gatal2 datang kembali.
tahapannya adalah bruntusan kecil2 dan kayak ada airnya, lalu gatal banget, semakin digaruk semakin gatal, dan akhirnya melebar, lalu berujung pada luka2...

saya coba diamkan selama hampir satu bulan. harapan saya semoga luka itu membaik.
tapi takdir berkata lain. luka itu tak kunjung sembuh... aih.
akhirnya dengan kegalauan super, saya pergi ke dokter spesialis kulit di rumah sakit islam swasta di daerah pondok gede.

di sini saya kecewaaa berat sama dokternya. begitu saya masuk ruangan, dokter itu nanya ada masalah apa.
langsung aja saya kasih liat tangan kanan saya.
dia langsung mundurin kepalanya, trus ga pake diliat, diraba, dan diterawang, langsung menyimpulkan kalau itu karena jamur...
hm.. oke, baiklah.. saya kira dokter ini sudah sangat ahli dalam hal perjamuran, karena tanpa perlu memeriksa keadaan tangan saya lebih lanjut (ya tadinya saya ngarep banget si dokter akan melihat tangan saya dengan teleskop, lalu dirontgen, lalu diCT Scan, eh nggak ding, ga segitunya juga..heheheh) dokter sudah langsung dapat chemistry dengan si jamur.
terus dengan penuh keyakinan dokternya ngeresepin ini itu. sambil bilang, "nanti kalau tangannya basah, dilap ya. jangan kena sabun apapun. nanti saya resepin bedak untuk ditaburin kalau tangannya basah. oke ada masalah lain?"
saya udah ilfil trus bilang, "nggak dok."
trus dokternya ngomong lagi, "oke, dua minggu lagi datang ke sini lagi ya."
huhuhuu...

setelah dua minggu ternyata bener2 ga membaik, tapi jadi makin parah. sudah nyaris membaik, tapi malah bukannya clear, eh tambah parah dari sebelumnya.. semakin melebar ke mana2 gatal dan lukanya.
akhirnya googling sana sini dan tersebutlah dokter Dewi Inong yang katanya ciamik untuk urusan perkulitan.

(bersambung ke jilid dua.. hehehehe)

ini link jilid duanya: jilid 2

dokter Dewi Inong

Kamis, 27 Februari 2014

Mereka Anakmu...

izinkan saya hanya bercuap, berkicau, berkata-kata tanpa minta dihakimi atau dinilai...
saya hanya ingin mengungkapkan pemikiran saya sebagai seorang ibu dari tiga buah hati shalih yang saya miliki.

pemikiran seorang ibu biasa yang sehari-harinya membersamai buat hati melalui masa-masa hidup mereka.
semakin hari, semakin bertambah banyak kebersamaan saya dengan anak-anak saya. semakin banyak hal yang saya pelajari dari mereka, tentang diri saya, tentang mereka, tentang orang lain.
dulu saya sering tak habis pikir dengan ibu-ibu atau bapak-bapak yang dengan seenak hatinya memarahi anak-anak mereka, mencela, bahkan tak jarang melayangkan kontak fisik yang tidak semestinya (memukul, mencubit, menjewer, dsb).
saat itu saya hanya berpikir, "anak sendiri, dilahirin susah-susah, dibesarin susah-susah, tapi dimarahinnya suka-suka."
well, itu saya yang dahulu.
saya yang sekarang ternyata jadi jauh lebih berimbang dan memaklumi apa yang beberapa orang itu lakukan.

tak saya pungkiri, memiliki anak dan mengasuhnya sendiri (tidak dibebankan pada baby sitter) adalah sebuah hal yang sangat dahsyat. bagai rolercoaster yang berjungkir balik dan sangat dinamis.
bagaimana hampir setiap detik saya harus mendengarkan ucapan ini itu, pertanyaan-pertanyaan, pernyataan-pernyataan, rengekan-rengekan, bahkan tangisan. dan dari ketiga bocah kecil? ah, mereka tidak menunggu giliran untuk berbicara atau merengek atau menangis, setelah saudaranya baru gilirannya. itu tidak akan terjadi dalam dunia nyata.
karena pada kenyataannya mereka sering sekali berkata, merajuk, bahkan menangis bersamaan. what a life :)

belum lagi setumpuk hal lain yang meminta perhatian saya untuk diurusi. iya, bukan hal-hal besar macam meeting dengan karyawan, presentasi di depan klien, atau paper-paper menjulang yang sering dihadapi para mahasiswa.
hal-hal yang saya hadapi sangat remeh temeh. sering dipandang sebelah mata. gak elit bahkan.
tapi pekerjaan2 itu meminta perhatian saya hampir 24 jam dari waktu yang saya punya (bahkan ketika sudah tertidur malam pun saya masih harus dibangunkan, ibarat perawat yang kebagian shift malam).

karena sejumlah kenyataan yang akhirnya menghampiri saya itulah kenapa paradigma saya mulai berubah ketika melihat seorang ibu atau bapak memarahi anaknya.

capek, lelah, pusing, mumet, dan segambreng keluhan lainnya...

ya, akhirnya saya maklum jika ada ibu-ibu atau bapak-bapak yang agak tegas terhadap anaknya,
"Kakak, harus bisa diatur dong!"
"Kamu ga boleh lari-larian di situ!"
"Ibu nggak mau beliin yang itu, biar aja kamu nangis!"
saya maklum, selama tidak ada kata-kata menyakitkan yang terlontar dari orang tua.
selama tidak ada kekerasan fisik yang dilancarkan orang tua pada anaknya.
selama apa yang disampaikan sang ibu atau bapak dalam marahnya itu bertujuan baik dan beralasan.
saya sangat memakluminya.

tapi tetap, jika dalam marah itu sang ibu atau bapak melancarkan kekerasan fisik, kata-kata yang menyakitkan, atau perlakuan kasar lainnya yang tidak masuk akal, saya tetap tidak setuju.

hei, itu anak kamu!
mereka ga pernah meminta dilahirkan, kalianlah yang meminta sepenuh harap pada Tuhan!
setidaknya, kalianlah yang menyebabkan mereka lahir ke bumi!

ketika dengan lancarnya lisan berucap, menceramahi anak mengenai kelakuan mereka,
mencubit, memukul, atau berlaku kasar lainnya,
ketika hati sangat dipenuhi oleh sejuta emosi dan rasanya akan sangat melegakan jika itu ditumpahkan pada sang anak karena kecerobohan mereka, atau karena sikap mereka yang menurut kita tidak bisa diatur, pernah kah terbesit satu pemikiran, "bagaimana seandainya dia diambil oleh Yang Menitipkannya? oleh Sang Pencipta."

ketika pagi hari kau memarahi anakmu
hanya karena mereka tidak mau sarapan,
hanya karena mereka menumpahkan susu,
hanya karena mereka susah fokus terhadap apa yang semestinya mereka lakukan,
kau memarahinya, menceracau tak tentu arah, menggelontorkan sejuta kata yang ternyata menyakitinya..
lalu mereka berangkat sekolah dengan perasaan yang suram, hati yang sangat tidak tenang karena malaikatnya baru saja berubah menjadi monster mengerikan,
tapi mereka tetap mencium tanganmu, mengucapkan salam, dan tetap menyayangimu...
dan tiga jam kemudian kau mendapat panggilan darurat dari guru anakmu, mengatakan bahwa kau harus segera ke sekolah...
di sana kau mendapati tubuh lunglai anakmu, nyaris tak bernafas, diam saja sambil menggenggam sebuah tulisan yang katanya akan dipersembahkan untukmu...

atau ketika di rumah..
anakmu sulit kau suruh mandi,
sudah dibujuk berulang kali,
sudah beribu cara kau coba untuk membuatnya berjalan ke kamar mandi,
hingga akhirnya kau menarik dengan kasar tubuh mungilnya,
kau buka bajunya dengan perlakuan yang sangat kasar tanpa kasih sayang seorang orang tua,
kau bawa ia ke kamar mandi dan kau siram dengan sangat kasar air ke atas kepalanya,
masih belum puas, kau bentak dia dengan beribu serapah...
ia menangis...
manusia kecil tanpa dosa itu menangis...
orang yang biasa memeluknya kini bagaikan pembunuh yang sadis...
lalu tengah malam ia menggigil,
demamnya tak kunjung turun,
kesadarannya semakin berkurang,
tapi bibir mungilnya memanggil-manggil namamu, "bunda.. bunda.. bunda"
padahal beberapa jam yang lalu kau baru saja memuaskan egomu dengan melampiaskan sejuta kesal padanya,
namun ia tetap membalas dengan cinta...

atau ketika di mall...
ketika ia merengek meminta mainan yang padahal sudah ada di rumah,
kau memarahinya,
membentaknya dengan hati membara,
bahkan menghardiknya dengan sangat kasar hingga ia gemetar,
sudah tak lagi dijumpainya sosok penuh cinta,
berganti manusia tanpa hati yang siap menelannya kapan saja.
lalu ia menghilang dari gandengan tangamnu,
awalnya karena ia masih merasa sedih atas sikapmu,
ia memisahkan diri darimu,
namun ada manusia jahat di luar situ,
mencuri kesempatan itu dan mengambil anakmu selamanya,
dan kau tak bisa lagi melihat sosoknya, seumur hidupmu..

ketika amarahmu sedang memuncak, wahai ibu ayah,
ingatlah jika anakmu bukan milikmu,
mereka hanya titipan,
ketika mereka diambil darimu karena kesalahanmu,
kau hanya akan mendapati sebuah ruang kosong yang tak lagi dijadikan singgasana,
tak ada lagi teriakan nyaring yang biasa kau dengar,
tak lagi kau bisa memeluk tubuh mungilnya,
mencium harum khas aromanya tubuhnya,
mendengarkan merdu suaranya,
atau bahkan belaian lembut penuh sayang darinya...

tak akan ada lagi yang memanggilmu, "bunda", "ayah", "mama", "papa", "umi", "abi"...

mereka amanah,
amanah haruslah dijaga,
bukan disiakan,
karena yang menitipkan pasti akan melihatnya sebagai pertanggung jawaban...

siapkah engkau kehilangan?
















Kamis, 20 Februari 2014

Merebahlah Sejenak

aku tau kau lelah, sangat lelah
aku tau perjuanganmu di luar...
bagaimana semua hal terus menekanmu,
bahkan tak sedikit orang yang menyepelekan usahamu.
lupakan semua itu.
sini, ke mari lah..
ada aku, dan ada Allah bersama kita...
hanya Allah yang akan menilaimu utuh.
melihat setiap tetesan keringat yang menetes di dahimu ketika berpikir dan bertindak,
melihat bagaimana niat tulus yang tak tersampaikan atau bahkan salah diartikan,
melihat bagaimana perjuanganmu untuk menjadi manusia yang jauh lebih baik dari yang sekarang.
hanya Allah yang akan menilaimu utuh..

ya, aku tau kau tak pernah mengeluhkan semua penilaian-penilaian itu,
kau bahkan tak pernah mengeluh tentang berat beban amanahmu,
tapi apa kau tau, sayang..
aku diam-diam melihat kerjaanmu,
seabreg amanah yang berusaha kau kerjakan satu persatu dengan 24 jam-mu,
seabreg watak yang tak bisa puas satu-persatu,
seabreg manusia keji yang memakanmu melalui gunjingan kotor mereka di belakangmu,
aku melihatnya, ya, aku melihat mereka...
bukan salahmu, bukan...
bukan salah mereka juga, mungkin karena mereka terlalu lemah jika diberi amanah seberat amanahmu,
maka mereka tak berada di posisimu.
itu yang menyebabkan mereka hanya bisa menggunjingmu, dan tak ada puasnya.
tak kah mereka berpikir amanah apa yang lalai pada mereka sendiri?

aku tau kau tak sempurna,
bahkan dalam ketidaksempurnaan itu kau belajar sesuatu,
arti hidup, arti mengasihi, arti berdedikasi, arti memperbaiki diri...
Allah menyayangimu, maka kau diberi ketidaksempurnaan itu.
agar kau belajar, belajar dari kesalahan-kesalahan itu.
Allah begitu mencintaimu, sungguh..

Ia tak ingin kau terlalai oleh dunia, maka ia menghentakmu ke dasar namun tak merampas asa,
agar kau bangkit, memperbaiki diri untuk jadi hamba yang lebih baik lagi.
Ia tak ingin kau hanya bisa meratap nestapa sementara tak ada lagi jalan untuk kembali ke dunia,
maka Ia menghadiahimu berjuta ujian untuk menaikkan dirimu dan melunturkan dosa-dosa itu...

Allah begitu mencintaimu.
ketika Ia mencintaimu, maka seluruh penduduk langit akan tahu,
maka siapa yang akan membencimu?
hanya si pembangkang dan para pengikutnya yang membencimu,
yang dikeluarkan dari tempat terindah menuju tempat durjana...

Allah saja untukmu, sayang...
Allah saja...

dan jika sekali waktu kau lelah, meski kau sudah mencurahkan semua hanya pada Allah,
merebahlah padaku,
singgahlah ke pelukanku,
karena aku memang ditugaskan untuk mendampingimu,
karena kaulah manusia yang halal untuk kucintai meski kita awalnya tak satu...


Jumat, 17 Januari 2014

Meregulasi Emosi

Hampir setiap saya mengambil rapot anak2 saya, atau ketika ada pertemuan orang tua dan guru, saya selalu diingatkan untuk mengantarkan anak2 pagi2.
Kenapa guru2 di sekolah selalu mengingatkan agar setiap murid bisa datang pagi2?
"Biar anak2 bisa ikut jurnal dan main bebas, bu."
Jawab koordinator tim guru pra sekolah.
Apakah hanya demi menggambar (jurnal) dan bermain bebas saja kah setiap orang tua, terutama orang tua murid pra sekolah, bela2in berangkat pagi hari agar anak bisa datang pagi?
Ternyata bukan itu intinya!

Mengikuti jurnal atau menggambar atau "mencorat-coret" bagi anak pra sekolah (dan menulis apa yg dipikirkan pagi ini bagi anak sd sampai sma) serta bermain bebas berfungsi untuk meregulasi emosi anak-anak.

Dengan membuat jurnal, anak bisa mengungkapkan apa yg mereka pikirkan dan rasakan.

Terlihat dari pemilihan warna yang digunakan saat menggambar dan jenis coretan anak, bagi anak pra sekolah.
Sedang bagi anak sd sampai sma, mereka sudah jauh lebih bisa mengungkapkan perasaan mereka melalui rangkaian kata (semacam membuat buku harian).

Dari jurnal tersebut anak2 diregulasi emosinya.
Mungkin saja ada yang bangun tidurnya diburu2, padahal masih mengantuk.
Atau pergantian kegiatan yang terlalu cepat bagi anak-anak (bangun tidur langsung mandi, langsung pakai baju, langsung makan, langsung berangkat), mungkin biasa bagi orang dewasa, tp bagi anak-anak hal itu sangat berat dan itu membuat mood mereka jadi tidak nyaman.
Itu yang dimaksudkan tim guru kenapa anak harus mengikuti jurnal dan bermain bebas.

Semua mood mereka yang mungkin tidak menyenangkan, bisa diungkapkan dalam jurnal mereka.
Dengan demikian perasaan negatif yang mungkin mereka bawa dari rumah bisa teregulasi, bisa terganti dengan perasaan yang lebih baik.

Apa fungsi dari regulasi emosi ini?
Dengan perasaan yang nyaman, mood yang baik setelah teregulasi emosi mereka, mereka siap untuk menerima semua informasi yang tim guru berikan dan yg mereka dapatkan dari sosialisasi mereka di sekolah.
Dengan demikian informasi yang mereka dapatkan bisa bertahan dengan baik di otak mereka, sampai lama. Karena perasaan yang nyaman akan membuat informasi yang masuk jauh lebih mudah :)

Beranjak dari hal tersebut, saya jadi berpikir bahwa meregulasi emosi bukan hanya 'tugas' anak.
Tapi justru lebih dititikberatkan pada orang tua.
Kamsudnya? Eh, maksudnya?
Coba bayangin ya...
Seorang guru yang ingin mengajarkan sikap saling menyayangi dan lemah lembut. Beliau berkata di depan kelas.
"Sebagai sesama manusia kita harus saling menyayangi dan bersikap lemah lembut! Ngerti gak?! Inget ya, harus lemah lembut!!!"
Intonasi tinggi, tensi 5, mata melotot,  sambil pegang penggaris lagi... Hadeuh...
Kira2 bisa masuk ga ya apa yang diajarkan oleh guru tersebut?
Saya rasa, bisa masuk ke kepala muridnya, tapi mereka sendiri ga ngerti bagaiman bersikap saling menyayangi dan lemah lembut itu, iya kan?
Sama seperti orang tua yang sedang mendidik anak2nya.

Ketika ingin mendidik anak agar bersabar, tentu kita sebagai orang tua yang harus lebih dulu bersikap sabar, menunjukkan perilaku sabar di depan anak kita.
Jangan malah kita bilang ke anak, "kalau mau sesuatu itu harus sabar! Ngerti ga?!" Tapi sambil marah2 dan muka ditekuk tekuk...
Yang didapat anak kita adalah: sabar itu berarti berkata-kata dengan tensi tinggi dan muka yang sangat tidak ramah.
Wow, selamat! Anda telah menghancurkan mindset anak anda... :p

Saya selalu berkali-kali diingatkan oleh suami saya,
"Kalau lagi menghadapi anak dan udah mau marah, lebih baik diam daripada ngomong ga jelas dengan nada tinggi. Bisa melukai hati anak!"
Okay, itu cukup membuat saya makjleb...

Dan poinnya adalah, meregulasi emosi bagi kita para orang tua adalah sebuah kewajiban dan keharusan.
Bagaimana kita bisa benar2 bersikap tenang, sabar, baik, menyenangkan secara tulus dan sungguh2 jika itu semua hanya pura2?
Hei... Anak2 sangat peka, mereka bisa dengan mudah merasakan mood orang tuanya yang sedang tidak baik hanya melalui tatapan mata atau cara berbicara atau cara bersikap atau bahkan cara tertawa kita yang tidak seperti biasanya.

Ketika sedang menghadapi anak dan ada sebuah hal yang dilakukan anak kita yang memancing emosi kita, usahakan diam saja dulu.
Tetap tenang dan merespon seperlunya saja.
Tarik nafas dalam, beristighfar, lalu mulailah tersenyum dan ikut tertawa lepas.
Hal tersebut bisa meregulasi rasa kesal tadi. Setidaknya membuat rasa kesal tadi berangsur menghilang.
Ini berguna bagi ibu2 yang kesehariannya di rumah yang sudah penat dan bosan dengan rutinitas yang itu lagi itu lagi...

Bagi yang bekerja juga...
Sebelum menghadapi anak, coba lepaskan dulu beban pikiran kantor.
Niatkan bertemu anak itu sebagai refreshing dan ibadah.
Tarik nafas dalam2 dari hidung dan keluarkan.
Tersenyumlah seceria mungkin sambil membayangkan momen paling indah dalam hidup.
Dan silakan bertemu dengan malaikat kecil itu :)

Meregulasi emosi sangat2 diharuskan bagi siapa saja yang selalu berhubungan dengan anak2, baik orang tua maupun para pengajar.
Karena dengan emosi yang baik dan positif apapun yang kita lakukan pastilah juga positif.
Mengapa harus selalu positif di depan anak? Karena anak adalah spons hidup yang selalu menyerap semua hal yang mereka lihat, dengar, rasakan. Dan semua hal tersebut yang akan menjadi pijakan hidup mereka dalam berpikir, bersikap, dan bertindak.
Jikalau limbik mereka penuh dengan hal positif, maka semua tindak tanduk mereka in sha allah selalu positif.
Because a great parent rising a great child... :)

Keep positive, dears...

jurnal-jurnalnya ikhlas selama satu smester

Kamis, 26 Desember 2013

Aku Gak Habis Pikir, Kenapa Kau Memilihnya?

sampai detik ini aku masih bingung,
aku masih mengais-ngais ke dalam logikaku,
mencaricari bahkan di sudut pemikiran yang paling bodoh di kepalaku,
apa alasanmu memilihnya?

dengan alasan fisik saja aku tau dia tidak lebih dariku, coba saja kau tanyakan pada hatimu
dengan alasan attitude, jelas saja dia kalah telak dariku, bahkan bisa kujamin meski dia berlatih di sekolah kepribadian hingga 5 tahun!
dengan alasan kepintaran? maaf, bukan aku mengejeknya bodoh, namun kau coba saja bandingkan dari hal yang tampak di permukaan, lihat almamaterku dan lihat almamaternya!
dengan alasan apalagi?

bukankah aku lebih segalanya dari dia?

apa dia mau menerimamu ketika setumpuk kartu berharga itu belumlah nyaman di dompetmu?
apakah dia mau menerimamu ketika tampilanmu tak sekelas dengan para artis itu?
apakah dia mau menerimamu ketika kau tampak seperti awal-awal kita bertemu lebih dari bertahun-tahun lalu?

dia memberimu anak?
dia merawatmu?
dia yang berjanji mendampingimu sehidup semati?

aku yakin bukan.
karena hanya dengan barang-barang yang katanya 'lucu' saja dia sudah bisa menerimamu...
wajar bagi dirinya yang masih labil dengan silau dunia dan pergaulan umum remaja..

hm, aku masih terus bertanya, hingga akhirnya ada yang membisikanku sebuah jawaban sederhana,
saat itu kau melihatnya karena nafsu belaka...

bukan, bukan aku yang menjawab,
murni kudapat setelah terisak di sepertiga malam,
melalui desau angin,
lembut turun dari langit...

dan Tuhan masih menjagamu,
no, bukan untukku,
tapi justru untuk dirimu sendiri,
untuk keberlangsungan hidupmu,
keberlangsungan impian-impianmu...

kau terlalu rapuh untuk kutinggalkan,
mungkin ini tujuan Tuhan mengirimku sebagai pendampingmu...

dan tentangnya?
ah, hanya sampah tercecer di taman kita yang jatuh dari tempatnya.
tunggu saja esok pagi, pasti petugas kebersihan sudah menyatukannya dengan teman-teman sampahnya yang lain :)

*sebuah tulisan yang terinspirasi dari berbagai peristiwa dan pengalaman yang saya temui dari teman2 sesama wanita


karena fisik bukanlah harga mutlak dalam sebuah pernikahan

dapat copas-an dari teman, sebuah cerita menarik bagi suami-istri yang hanya mementingkan fisik sebagai landasan pernikahan mereka...

bukan, saya bukan mengatakan fisik itu tidak penting, saya sepakat dengan penampilan yang baik dan menyenangkan di mata pasangan, tetapi itu hanya salah satu hal dalam keharmonisan rumah tangga, bukan harga mutlak!

KU BUNUH ISTRIKU SECARA PERLAHAN LAHAN 

Sesal dan sangat menyesal itu yg sampai sekarang kurang lebih lima tahun aku di tinggalkan istriku. 

Awalnya dulu tubuh istriku begitu langsing...jujur aku laki2 normal yg sangat suka jika melihat istri sendiri tampil cantik saat suami pulang kerja. 

Semua berubah saat istriku melahirkan putri kami,tubuhnya melar dan baju2 semua tidak muat... Awalnya aku berpikir mungkin karena habis melahirkan dia seperti itu..nanti pasti kurus lagi hiburku. Sampai anaku umur 3 tahun tubuh istriku tetap melar ..aku yg sering membawa istriku jalan2 ke kantor ku atau kehiburan pasti mereka bilang kok istrinya gemuk. 

Dengan sedikit memaksa aku bilang pada almarhum istriku klu dia harus berlahan lahan diet..tp semua itu nihil..aku pun berinsiatif membelikan obat diet untuk istriku ,awalnya dia keberatan tp lama2 diapun mau meminum nya... Setiap aku gajihan obat diet yg pertama aku beli untuk istriku.. 

Satu tahun tubuh istriku sudah kurus dan langsing...aku bangga dan senang apa lgi saat teman2 kantorku memuji istriku sudah tampil beda.. 

Tapi musibah itu datang saat aku berangkat kerja tiba2 istriku pingsan di ruang tamu...aku pun membawanya ke rumah sakit saat mengetahui tubuh istriku demam tinggi. Terasa runtuh dunia ini aku rasa saat dokter memvonis istriku gagal ginjal... karena meminum ibat diet dengan jangka yg panjang dan dosis tinggi. 

Aku pun berusaha agar istriku sembuh...tapi gagal genap di rumah sakit dua minggu istriku pergi meninggalkan kami.. 
Aku hanya bisa menangis histeris di sebelah tubuh istriku yg sudah menjadi mayat.. 
Aku tak percaya orang yg aku cintai itu telah pergi untuk selama lama nya karena ulahku.. 

Sampai detik ini aku berharap istriku kembali padaku...akan aku biarkan dia gemuk tak sexi lagi asal dia selalu ada di sampingku..walaupun aku tahu semua itu mustahil. Maafkan aku sayang...

Sabtu, 14 Desember 2013

perjalanan mencari guru

Pada suatu masa ada seorang raja yang sedang gundah hatinya. apa gerangan yang menjadi sebab gundahnya hati sang raja? Ternyata sebentar lagi raja harus memilih salah satu dari dua orang putra kembarnya untuk menjadi penggantinya. Raja ingin bersikap adil dalam pemilihan tersebut, namun sampai saat ini Ia belum juga menemukan cara yang tepat untuk memilih siapa di antara kedua putranya yang memang tepat menjadi penggantinya. Keduanya sama cerdasnya. Kedua putranya juga sama baik dan penurutnya.

Sang raja memikirkan cara memilih dengan adil selama berhari-hari, hingga akhirnya Ia menemukan cara yang menurutnya cukup cerdas dan adil. Akhirnya dipanggilah kedua putranya.

"Wahai Ayah, ada apa gerangan Ayah memanggil kami berdua?" Tan, salah satu putranya memberi hormat dan menanyakan maksud ayahnya memanggil mereka.

"Wahai putra-putraku, aku ingin memberikan tugas kepada masing-masing dari kalian." Jawab sang raja.

"Tugas apa wahai, Ayah?" San, salah seorang yang lain bertanya.

"Aku ingin kalian mencari seorang guru yang sangat terkenal di sebuah negeri bernama Lamana. Ia adalah seorang yang sangat bijak lagi luas ilmunya. Aku ingin kalian mencarinya lalu belajar kepadanya. Tapi ingat, jika salah satu dari kalian berhasil menemuinya lebih dulu, maka yang lain tidak boleh ikut berguru."

Tan dan San saling berpandangan. Keduanya merasa heran, namun mereka tetap menuruti perintah dari ayah mereka.

"Bagaimana, kalian sanggup menjalankan perintah ini?"

"Iya Ayah." sahut Tan dan San bersamaan.

"Baiklah, kalau begitu persiapkan diri kalian malam ini. Karena esok pagi kalian sudah harus berangkat!" titah raja.

"Besok? Baiklah Ayah, kami mohon diri untuk mempersiapkan semuanya."

Lalu Tan dan San berpamitan kepada ayah mereka karena harus mempersiapkan perbekalan yang akan dibawa untuk perjalanan mereka esok hari.

Di kamarnya, Tan memilih memasukkan banyak roti untuk ia bawa sebagai bekal makanannya. Kemudian ia memasukkan perbekalan lainnya seperti biskuit dan beberapa minuman siap minum.

Sedangkan San memilih untuk membawa beras sebagai perbekalannya. Ia juga membawa beberapa peralatan memasak yang ia perlukan. Perbekalannya sungguh banyak. Jauh berbeda dengan saudaranya, Tan.

Setelah mempersiapkan segalanya, Tan dan San tidur agar kondisi tubuh mereka fit untuk perjalanan esok hari ke negeri Lamana.

***

Paginya matahari bersinar cerah, sebuah awal yang bagus untuk perjalanan mereka. Tan dan San sudah mempersiapkan kuda mereka namun sayang, raja tidak memperbolehkan Tan dan San menaiki kuda atau kendaraan apapun. Mereka diharuskan berjalan kaki atau kalau memang ingin mendapatkan tumpangan, mereka harus mengusahakannya selama di perjalanan.

sebelum berangkat, Tan dan San berpamitan kepada ayah mereka. Tan melihat perbekalan yang dibawa oleh San, kemudian bertanya heran,

"San, mengapa bawaanmu bisa sebanyak itu? Ada panci, kompor lipat, dan beberapa peralatan lainnya? Apakah kau tidak keberatan?"

"Iya, Tan, memang aku akui bahwa perbekalanku sangat berat. namun au tidak tahu apa yang akan aku temui selama perjalanan, jadi aku membawa barang-barang yang mungkin aku perlukan."

"Ah, kau terlalu ambil pusing dengan perjalanan in, San. Bukankah letak negeri Lamana tidak sejauh negeri Yuma yang sering kau kunjungi?"

"Kau benar, Tan. Tapi bukankah kita harus mencari seseorang? Dan itu berarti kita akan lebih banyak menghabiskan waktu selain perjalanan menuju ke sana."

Tan hanya tersenyum, ia berpikir betapa repotnya menjadi San.

Setelah berpamitan, merekapun berangkat, Tan memilih jalur utara untuk menuju negeri Lamana, sedangkan San memilih jalur selatan. Tan memilih jalur utara agar lebih cepat sampai karena jalur utara terkenal dengan jalur yang tidak berliku-liku meskipun cukup gersang. Sedangkan jalur selatan yang dipilih oleh San adalah jalur berliku yang naik turun gunung.


Kamis, 05 Desember 2013

Emang Kenapa dengan Nikah Dini?

iseng2 sih sebenarnya, pengen banget nulis tentang nikah dini. kebetulan lagi bahas tentang nikah dini kemarin dengan beberapa orang teman di grup, jadilah akhirnya ada tulisan ini...

Pandangan Orang Tentang Nikah Dini

Ketika akhirnya orang tua saya, saat itu mama, mengatakan pada keluarga bahwa saya akan menikah dan tetap berkuliah ada begitu banyak ekspresi yang dikeluarkan oleh anggota keluarga besar. Sesuai dugaan saya saat itu, pasti akan banyak sekali dugaan ketika mama mengungkapkan niat saya untuk menikah saat kuliah. Sejujurnya saat itu saya tidak terlalu memusingkan dugaan orang-orang terhadap keputusan saya. Tapi ternyata setelah kejadian, orang-orang mengungkapkan pikirannya masing-masing, mau gam au itu jadi salah satu pikiran saya.

MBA (Married by Accident)
Hehehehe… ga bisa saya tolak kan kalau ternyata ada dugaan bahwa saya nekad minta nikah saat masih kuliah ya karena dikira sudah hamil duluan. Awalnya saya hanya tertawa saja ketika mama mengungkapkan salah satu dugaan keluarga besar. Tapi kok ya jadi kepikiran juga ya. Kepikirannya bukan karena apa pendapat orang terhadap niat saya, tapi justru kepikirannya sama mama. Saya takut kalau mama justru mengiyakan pemikiran itu dalam hatinya. Ikut menduga bahwa anak gadisnya yang masih imut-imut itu ternyata sudah hamil duluan dan itulah alasannya kenapa saya minta nikah ‘buru-buru’. Oh no!
Memang sih saya akui bahwa saya hidup di zaman yang makin ga jelas. Zaman di mana anak SMA bahkan sudah punya anak usia TK (bingung ya? Hehehe). Zaman di mana hubungan di luar nikah sudah menjadi rahasia umum, sama-sama tahu, tapi pada pura-pura gak tau. Maka akan menjadi sebuah kewajaran ketika akhirnya niat menikah saya yang suci (tsah) akhirnya malah ikut terwarnai fenomena ini. Menikah karena kecelakaan, hamil duluan, subhanallah… big no no dalam kamus hidup saya! Saya memang senang bergaul, tapi tetap lah saya punya rambu-rambu dalam hidup saya. I’m single and expensive, cyin! :))
Untuk mengusir pikiran MBA, saya mencoba meyakinkan mama dengan membiarkan mama memasuki hidup saya. Mengetahui kegiatan saya di kampus, mengetahui siapa teman-teman saya di kampus dan di luar kampus, memberikan kontak teman-teman dekat saya yang mungkin ingin beliau hubungi, dan tentu saja memberikan kontak calon suami saya beserta beberapa temannya. Apa gunanya? Saya ingin mama merasa bahwa saya terbuka akan segala sesuatu tentang hidup saya. Bahwa saya nyaman berbagi apapun dengan beliau. Dengan begitu saya berharap mama bisa memercayai saya seperti saya bisa memercayai mama untuk setiap hal dalam hidup saya. ;)

Kena Aliran Sesat
“Jangan-jangan Windy kena aliran sesat, Ceu!” seorang om saya mengutarakan kekhawatirannya saat rapat keluarga besar mengenai keputusan menikah saya saat itu. Memang, saat itu sedang marak modus menikah dengan tujuan merekrut seseorang untuk masuk ke sebuah aliran tertentu yang menyimpang. Berangkat dari maraknya hal tersebut, om saya juga berpikiran seperti itu, bahkan nenek saya juga sampai berpikiran seperti itu. Efeknya pada saya adalah, setiap ada kesempatan berbicara berdua, mama selalu menanyakan apakah saya diajak menikah karena orang tersebut memang ingin mengajak saya ke dalam alirannya. Atau tetiba ketika sedang menemani mama memasak di dapur, mama menceritakan tetangga nenek yang ternyata kena aliran sesat yang dimaksud. Saya tahu ke mana arah pembicaraan itu. Untuk menenangkan beliau, saya menegaskan bahwa saya tetap seorang muslim, sejak lahir, saat ini, sampai akhir hayat saya.

Untuk menenangkan hati dan pikirannya, akhirnya mama berdiskusi dengan salah seorang ustadz yang memang dipercaya di daerah rumah kami. Mama membawa segala berkas dan biodata taaruf kami, menceritakan dari A sampai Z proses kami dan semua uneg-uneg yang dipendamnya. Alhamdulillah, ustadz tersebut mendukung kami. Beliau mengatakan bahwa cara ini sesuai dengan tuntunan Islam. Tanpa berpacaran, tanpa berduaan. Mengenai mengapa hal ini masih jarang diketahui oleh masyarakat, itu karena memang masyarakat belum tahu cara yang dianjurkan oleh agama seperti apa. Alhamdulillah, jalan semakin terbuka.

Sabtu, 09 November 2013

sosok yang baik di mata saya

Di komplek perumahan saya yang memang perumahan Islam, saya melihat bahwa ternyata Islam sendiri memiliki keanekaragaman. Misalnya dalam mengaplikasikan Islam dalam kehidupan sehari-hari dan dalam cara mencari ilmu.
Dalam mengaplikasikan nilai keislaman di kehidupan sehari-hari. Ada tetangga saya yang merasa saat ini sudah cukup menutup diri dengan hanya memakai pakaian yang menutup tubuh dan tidak longgar, sementara ia memperbaiki hati dan sesekali menggunakan kerudung ketika ada acara arisan atau pengajian di musholah. Sedangkan ada yang memutuskan untuk menggunakan kerudung dan baju yang menutup aurat meski tidak selalu longgar seperti baju gamis—sepertinya saya termasuk bagian yang ini. Dan ada pula yang dengan anggunnya mengulurkan kerudung sampai di bawah dada dan berbaju longgar dalam setiap saat.
Sedangkan dalam cara mencari ilmu, ternyata ada yang mempelajarinya melalui kajian-kajian umum yang biasa disebut majelis taklim atau pengajian mingguan atau bulanan, ada yang mempelajarinya melalui pengajian khusus yang berkelompok atau yang biasa disebut dengan halaqoh atau liqoat, ada yang juga melalui sharing seperti mempelajari Islam melalui diskusi kelompok di BBM grup—di komplek perumahan saya para ibu membuat grup BBM dan memang sering mengadakan diskusi apa saja termasuk diskusi keislaman.
Nah, di antara para warga, ada seorang ibu yang saya tahu beliau adalah salah satu muslimah yang sangat menjaga nilai-nilai Islam dalam setiap sisi hidupnya. Saya mengenalnya sebagai bagian orang-orang shalih yang mengamalkan syariat Islam sesuai dengan tuntunan qur’an dan sunah. Begitupula dengan suaminya.
Dari segi berpakaian, jilbab beliau sempurna, tak pernah berhias, tak pernah berpakaian 'seadanya'. Dan dahsyatnya, beliau seperti memiliki imunitas dalam dirinya untuk tidak tergiur dengan trend mode jaman sekarang yang memang banyak sekali pilihan untuk berbusana bagi kaum wanita. Beliau dengan keanggunannya sendiri, berhasil membawa identitasnya untuk diterima dengan utuh di tengah masyarakat bahkan orang tua murid di sekolah.
Saya jadi teringat ketika beliau dengan jilbab dan gamis yang anggun, menghadiri acara tahunan sekolah anak bungsunya, kebetulan anak kami satu sekolah. Ya, beliau tetap menggunakan jilbab dan gamis, seperti kesehariannya, dan tanpa polesan make up, kecuali bedak seadanya. Meski sederhana, tapi saya tahu memang kualitas jilbab dan gamis beliau adalah kualitas butik, namun sepertinya ‘kualitas butik’ itu tidak ‘menyakiti’ atau membuat orang lain merasa rendah diri kala berdampingan dengan beliau.  
Bukan hanya itu yang saya hormati dari beliau, beliau juga pandai membawa diri dalam pergaulan masyarakat. Tidak memilih dalam bergaul, tidak eksklusif terhadap suatu golongan tertentu—padahal biasanya saya mendapati orang-orang seperti beliau lebih banyak dekat dengan komunitas yang sejalan, dan tentu saja sangat rendah hati.
Ketika saya baru pindah dulu, beliau selalu mengajak ikut kajian di tempatnya, menanyakan kabar, menawarkan bantuan, dan hal-hal baik itu tetap beliau lakukan hingga sekarang, benar-benar bukan sebuah modus untuk memikat tetangga baru atau hanya topeng agar dihormati oleh yang lebih junior. Beliau benar-benar tulus.
Saya jadi kembali teringat ketika saya pernah menjemput kedua anak saya menggunakan motor. Dengan kain gendong model kanguru saya membawa anak kedua saya di depan, sementara anak sulung saya berpegang erat di belakang. Dengan tergopoh-gopoh, beliau turun dari Honda Jazz silvernya. Saya ingat sekali kalimat beliau,
“Sayang, ikut tante aja, yuk. Mamanya kasian tuh, gendong adik juga. Yuk sama tante di mobil, kan ada kakak—anaknya—di mobil.”
Tidak ada sama sekali indikasi sekadar ramah tamah atau basa basi dari beliau. Hanya sebuah pertolongan tulus dari seorang tetangga. Bahkan beliau mengatakan, bahwa kalau memang repot, biar beliau saja yang menjemput kedua anak saya. Subhanallah.
Beliau juga sangat guyub. Dalam pengajian bulanan, kalau tidak sedang sakit, beliau pasti hadir. Ketika ada tetangga yang kena musibah, beliau pasti ada. Dan ketika sedang kumpul-kumpul misalnya dalam acara arisan warga atau sarapan bersama, beliau juga aktif turut serta. Tak ada batas, tak ada intervensi, tak ada pilah-pilih.
Ketika bertemu dengan seorang tetangga yang lain, dengan hangat beliau langsung menyapa. Menanyakan kabar anak-anaknya yang tidak dibawa serta. Atau dengan sigap memberikan bantuan apapun yang beliau bisa.
Membicarakan orang lain? Wah, beliau mah bukan ahlinya alias ga pernah heheheh. Sekali-sekalinya beliau membicarakan orang lain, beliau hanya menjelaskan bahwa bu ini adalah istri pak ini, memiliki anak si ini dan ini, itupun ketika saya baru pindah dan menanyakan siapa saja warga yang lebih dulu tinggal :D.
Dan satu lagi poin istimewa yang saya garisbawahi dari beliau adalah sikap bertanggung jawab dan penuh pengabdian pada keluarga. Meski suaminya adalah salah satu komisaris perusahaan obat terkenal, beliau tetap melakukan tugas-tugas rumah tangga seorang diri. Pernah suatu saat beliau memakai jasa ART, ketika beliau masih aktif bekerja dan anak-anak masih kecil, itupun ART yang pergi-pulang. Selebihnya sampai saat ini semua beliau kerjakan sendiri. Subhanallah.
rumah yang saya nilai cukup sederhana bagi keluarga dengan tingkat ekonomi yang cukup jauh di atas ratarata seperti keluarga sang muslimah
Meski saya tahu beliau bukanlah wanita yang sempurna, tapi menurut saya beliau adalah salah satu sosok muslimah ideal yang sangat patut saya contoh. Baik dari tanggung jawabnya terhadap keluarga, keistiqomahannya menjalankan perintah Allah, dan juga cara bergaulnya dengan masyarakat.

Selasa, 17 September 2013

pernikahan (adalah perjuangan bersama karena Allah)

Sejak awal sebelum menikah...
Kami berjuang..
Mendapatkan restu dari orang tua kami..
Tak mudah, karena kami berdua masih di bangku kuliah dan belum memiliki pekerjaan tetap, tapi suami sudah memulai usahanya...

Ketika akhirnya sudah resmi menikah,
Kami juga masih berjuang...
Sangat tidak mudah menjadi pasangan muda dengan beban rumah tangga dan kuliah kami berdua...
Jangankan memikirkan bulan madu ke berbagai kota di mancanegara atau luar daerah, untuk pergi ke dufan saja kami mengumpulkan uangnya selama sebulan. Dan setelah uang terkumpul, malah tidak jadi karena sayang melihat uang sebanyak itu untuk dipakai tamasya berdua...
Alhamdulillah Allah selalu memberi jalan...
Jadi teringat bagaimana kami harus menginap di warnet untuk menyelesaikan skripsi, karena tak memiliki komputer apalagi laptop :')

Saat menanti proses persalinan..
Kami juga masih berjuang
Berpikir bagaimana mendapatkan uang untuk persalinan dan biaya ini itu nantinya..
Alhamdulillah, Allah selalu membukakan jalan...

Saat memiliki anak pertama pun kami masih berjuang,
Selain sisi ekonomi yang belum nyaman, masih diharuskan menepati janji menyelesaikan kuliah...
Ah, jadi ingat, untuk membeli breasthpump saja (meski manual) kami berpikir berkali-kali, membandingkan harga2 dari toko ke toko..

Saat anak kedua akan lahir,
Kami juga masih berjuang...
Kini tak dari sisi ekonomi, namun dari sisi lainnya
Dan perjuangan itu panjang...
Sangat pnjang dan melelahkan...

Dan hingga hari ini pun kami masih terus berjuang
Mungkin tidak sekeras orang lain di luar sana,
Namun kami yakin kami dapat melaluinya dengan perjuangan yang sama kerasnya...

Dan esok, saya yakin, kami masih terus berjuang...
Karena hidup memang serangkaian perjuangan.
Kelak, ketika rangkaian perjuangan itu sudah terselesaikan, Allah akan nenepuk kami seolah berkata, "waktunya pulang"...




sebuah kenangan manis :)

memang belum setahun saat itu...
kami mengontrak di rumah petakan di daerah kukusan
rumah kecil, namun bagi kami yang saat itu masih mahasiswa, rumah itu sudah lebih dari cukup
dan memang uang yang kami dapat dari menjual barang2 berharga kami saat itu hanya mampu untuk menyewa rumah itu dan membeli sebuah lemari kecil dan beberapa peralatan rumah tangga lainnya...
alhamdulillah

saya ingat, rumah kontrakan kami memiliki pagar berwarna hijau, agak tinggi dari jalan, sehingga sulit bagi saya mengeluarkan dan memasukkan motor...
namun rumah kami sempurna...
ruang tamu merangkap ruang keluarga yang super kecil itu kami hiasi dengan karpet, kami letakkan rak buku kecil, tak ada kursi apalagi sofa mewah empuk untuk menjamu tamu...

ada dua buah kamar
kami memakai satu kamar untuk kamar tidur,
sedang kamar yang lain untuk tempat berbagai barang yang saat itu memang tak ada media yang menampung (lemari kami terlampau kecil untuk menampung baju kami berdua, tas-tas, buku-buku kuliah, dan benda lain tak ada tempatnya)...

namun kami bahagia, sangat bahagia...
itu adalah langkah pertama kami untuk mendewasakan diri,
untuk memulai hidup baru kami sebagai sepasang suami-istri

dan ketika itu mungkin karena kelelahan mengurus rumah, merawat suami, kuliah, dan masih berorganisasi, saya tetiba demam..

suami saya menjemput saya di kampus
membawa saya pulang dan merawat saya dengan sangat baik
sangat baik menurut saya, karena saya tahu, suami saya bahkan tidak terbiasa merawat dirinya sendiri seperti itu..
subhanallah...

di antara kesadaran yang semakn menipis, saya teringat kalimat suami saya yang sangat panik kala itu,
"masyaallah, badannya panas sekali. udah makan? mau mas bikinin makanan? atau mas beliin makanan?"
saya hanya menceracau tidak jelas, karena panas yang semakin tinggi...
lalu saya memejamkan mata, entah tertidur atau pingsan saya tidak sadar,
begitu saya membuka mata, suami saya sudah duduk di samping tempat tidur kami, memegang tangan saya...

sambil tersenyum ia berkata, "mau mas suapin makanan? mas tadi beli bubur, khawatir belum bisa ngunyah. makan ya, sedikit aja."
saya menangis, sangat terharu melihat seseorang yang baru saya kenal setengah tahun (semenjak perkenalan sampai menikah), begitu mempedulikan saya.
saya makan, disuapi olehnya. lalu kembali tertidur.

setelah saya bangun dan hendak menyelesaikan tugas yang lain,
saya ingat rumah belum dipel, cucian masih direndam, dan cucian piring masih tersisa sejak kemarin...
tetiba suami saya datang, melarang saya mengerjakan apapun,
saya lihat tangannya basah, ternyata ia baru selesai mengepel rumah dan sebelumnya sudah mencuci dan menjemurkan pakaian kami...

air mata saya hadir tanpa diundang...

betapa tidak,
saya tahu, suami saya bukan tipe yang mau mengerjakan tugas-tugas seperti ini
bahkan menurut teman-temannya, pakaiannya yang kotor suka ia buang karena tahu-tahu sudah berjamur karena lama tidak dilaundry...

sangat bertolak belakang dengan sifatnya,
apakah ini yang disebut sayang?
atau bertanggung jawab?

namun sejak saat itu, saya mengukir janji bahwa saya memang harus melayaninya sebaik mungkin

meski kami tak selalu harmonis, bahkan ketika beberapa tahun belakangan,
kami tak luput dari salah,
ternyata Allah masih memberi kami kesempatan untuk memperbaiki diri...
untuk sama-sama memenuhi janji yang sudah diucapkan--dan yang tidak diucapkan langsung--melalui pernikahan kami,
melalui janji kami langsung pada pencipta kami...

janji pada manusia saja harus dipenuhi,
apalagi janji pada pencipta kita...






untuk anak pertama bunda yang sangat dewasa, Muhammad Ikhlas Putrabuana

tanggal ini (31 juli), di waktu ini (12.29), tepat 5 tahun lalu (2008), kau lahir, nak...
setelah dua jam sebelumnya bunda harus dioper dari tempat bidan menuju rumah sakit...
dengan rute yang melewati kemacetan, perut yang kontraksinya sudah setengah menit sekali, perjalanan sekitar setengah jam itu terasa lama sekali...
sudah bukaan sepuluh, semenjak 4 malam sebelumnya bunda menanti hadirmu, tapi kau tak kunjung hadir, tak kunjung lahir...
minggu malam setelah merasakan kontraksi setengah jam sekali, kami menuju bidan yang sudah kami putuskan akan menemani kami menyambut kehadiranmu.
"baru bukaan 1 kok bu."
bidan berkata saat itu...
tapi kontraksi semakin sering, sampai akhirnya ketika dini hari kami memutuskan untuk bermalam di bidan tersebut.
detik berbuah menit, menit berbuah jam, jam akhirnya berbuah hari...
namun dari bukaan pertama sampai bukaan berikut-berikutnya berjalan sangat lama, padahal sudah diinduksi, nak..
tak terbayangkan betapa dahsyat rasanya, baru sekejap memejamkan mata, tak lama rasa sakit itu datang tanpa diminta...
hingga bukaan lengkap itu akhirnya terjadi juga, bunda dan ayah harus menunggu 3 hari lamanya, alhamdulillah...

akhirnya pukul 5 subuh bunda masuk ruang persalinan di bidan tersebut.
berharap kau segera meluncur untuk menggetarkan bumi Allah dengan syahadat pertamamu...
tapi sampai jam 9 pagi, setelah beberapa kali bidan dan timnya memandu untuk mengejan, kau tak kunjung datang.
pemeriksaan dalam kembali.
ternyata kau malah menjauh dari jalan lahir

bunda tetap berdoa untuk yang terbaik,
melafalkan dzikir yang bunda ingat,
bunda yakin, bunda masih memiliki cukup tenaga untuk membuka jalanmu ke dunia...

tapi setelah diskusi beberapa saat dan akhirnya menelpon dokter yang memang bekerja sama dengan sang bidan,
maka diputuskan untuk membawa bunda ke rumah sakit,
jalan operasi sesar pun diambil...

lalu dimulailah perjalanan 30 menit itu...
ayah menyetir dalam kondisi yang tak menentu,
bunda ditemani seorang petugas medis yang membawa infus, berada di kursi tengah.
sedangkan eyang ti dan nenek uyutmu yang saat itu juga ikut menemani di tempat bidan, saat ini sedang mempersiapkan baju untuk disusulkan ke rumah sakit.

tiba di sana, tenaga kesehatan lainnya langsung membawa bunda menggunakan kursi roda,
lalu membaringkan di sebuah tempat tidur panjang
mengukur tekanan darah, menanyai ini itu..
ketika mereka tanya mengenai air ketuban, bunda menjawab seingat bunda bahwa sampai saat ini bunda tidak merasakan adanya air ketuban yang keluar.
mereka mengecek, ternyata bahkan air ketuban telah habis tak bersisa.
dan ketika mereka tahu bukaan sudah lengkap,
mereka berusaha mengambil jalan untuk tetap melahirkan normal,
mereka memberikan aba-aba untuk mengejan,
namun cara itu tidak berhasil, meski beberapa kali dilakukan.

akhirnya dilanjutkanlah perjalanan menuju ruang operasi.
setelah tim lengkap, dimulailah semuanya...

dengan perut yang terus berkontraksi, bunda harus bisa memegang lutut, agar suntikan bius bisa dimasukkan melalui tulang bagian belakang.
Allah.. tak dapat cukup tenaga, akhirnya seorang perawat membantu bunda untuk memelengkungkan badan.
sakit? iya.
tapi berangsur sakit itu menghilang, sejalan dengan pengaruh obat yang tadi disuntikan.
lalu kebas separuh badan.
dan dimulailah semuanya.

tidak beberapa lama, seorang dokter anak mengangkatmu keluar dari perut bunda.
sedikit terisak, bukan menangis keras seperti bayi lainnya.

"ternyata terlilit beberapa lilitan di leher, bu. ini sudah mulai biru, makanya dia gak nangis. alhamdulillah langsung dibawa, gak dipaksa normal. kalau tetap normal, nyawa bayinya bisa ga selamat."
salah seorang dokter memberikan keterangan mengapa kau hanya terisak lirih.

setelah dikeluarkan cairan dari lubang hidung, mulut, dan dipotongnya tali pusat, akhirnya tangis pertamamu pecah..

alhamdulillah, selamat berjuang di dunia ini, nak.

setelah itu bunda merasa sangat mengantuk dan akhirnya tertidur.

ya, bunda merasa baru kemarin melewati detik-detik itu.
berusaha menjadi jalanmu untuk beribadah di dunia ini.
namun kini kau sudah beranjak besar, menjadi seorang anak kalem berusia 5 tahun.
seorang manusia shalih yang sangat mudah diajak bekerja sama.
seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya.
seorang hamba Allah yang sedang berusaha menghafalkan juz 30 puluh meski baru sampai al bayyinah.
seorang hamba Allah yang jika sudah masuk waktunya sholat, kau sering mengajak kami berjamaah.

nak, tumbuhlah menjadi manusia yang shalih, manusia yang menshalihkan.
yang dari kedua tanganmu, semua manfaat bisa kau sampaikan.
yang dari kedua kakimu, selalu melangkah menuju kebenaran.
yang dari kecerdasanmu selalu lahir berbagai kebaikan.
jadilah ahli syurga nak, dan jadilah perantara orang-orang menjadi ahli syurga...

barakallahu fii umrik, kak ikhlas sayang..
melalui namamu kami selalu belajar untuk bersikap dalam hidup...

maafkan kami yang belum bisa menjadi orangtua yang terbaik bagimu,
maafkan atas semua keterbatasan kami dalam mendidikmu,
maafkan kami atas semua hal yang belum sampai meski Allah telah mengamanahkannya untuk disampaikan padamu...

dari kami yang mencintaimu,
bunda dan ayah


-- Muhammad Ikhlas Putrabuana--

ketika akhirnya harus tanpa ART.. (^.^)

Ketika akhirnya kembali tidak pakai ART, ketika itu pula Ikhlas dan Ernst libur super panjang (dari tgl 8 agustus sampai 7 september), dan ketika itu pula kandungan ini tetiba sering sekali kram dan sakit...

Dan Allah menunjukkan nikmat-Nya...

Ia menganugerahkan seorang anak yang super duper dewasa...
Dengan sangat telaten ia mau menyuapi adiknya roti ketika sang bunda sedang mengepel lantai...
Dengan sabar dan perhatian dia menemani adiknya bermain dan memeluknya ketika kaget dengar suara pesawat yang entah mengapa terbang lebih rendah...
Dan, melebihi kesabaran ibunya, ia masih tersenyum dan menanyakan apa yang dimaksud oleh adiknya yang tengah menangis dan tantrum...


di episode lainnya...


Ternyata berbelanja bersama duo bocil tanpa ARTpun menjadi pengalaman tersendiri... 
Biasanya kalau belanja bulanan dan bawa dua anak shalih, selalu sama si mbak dan bawa mobil sendiri.. Sehingga tanpa ayahnya pun masih bisa mengatasi semuanya..

Tapi ketika akhirnya kebutuhan memaksa untuk melakukannya dengan kedua anak shalih, dan naik motor, ternyata berjalan lancar...

Sebelum berbelnja, ikhlas yang berperab sebagai partner bunda, sudah diminta bekerja sama untuk menjaga adiknya. Mengingatkan apa saja yang harus dibeli.

Dan alhamdulillah,
Ketika bunda meleng sedikit ke tempat sandal (karena memang butuh, tp ga masuk rencana belanja), ikhlas dengan bijak mengingatkan bahwa ada barang yang harus dibeli...
Dan sepulang belanja, ketika kedua tangan bunda sibuk membawa barang belanjaan (3 kantong besar termasuk beras 1 karung), ikhlas menggandeng tangan adiknya dan selalu mengingatkan adiknya untuk fokus berjalan mengikuti bunda agar tidak tertinggal...

Allah.. Allah.. Allah..

Sungguh, caraMu mengupgrade setiap hamba begitu unik.. Begitu indah...

Alhmdulillah...


Allah... NikmatMu yang manakah yang berani hamba dustakan..